Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah

Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah
Bingung


__ADS_3

Ais tersipu malu, pipinya merona merah bak kepiting rebus. Sementara Bagas hanya cengengsan mendengar gurauan beberapa pelanggan restoran Ais.


"Kita ini kan sedang pacaran, jadi dunia ini rasanya milik kita berdua sedangkan yang lain itu ngontrak," ucap Bagas terkekeh menanggapi gurauan pelanggan tersebut.


"Hestah aseknya, tapi pacarannya jangan terlalu lama Mas ganteng, nanti yang ada Mba Ais di ambil orang loh," salah satu pelanggan menanggapi.


"Itulah, mba. Aku sih malah maunya pada saat merasakan getaran di dada ini langsung dech nikah sama Ais. Tapi Aisnya yang nggak mau, katanya terlalu cepat," ucap Bagas.


"Hem nikah itu enak loh, secepatnya dech nikah dan jangan lupa berkabar pada kita ya. Undangannya loh di tunggu secepatnya." Ucap pelanggan itu seraya berlalu pergi mencari tempat duduk yang strategis.


"Noh kan, kamu dengar kan sayang. Nikah itu enak loh, ayukkk kita nikah lah. Memangnya apa lagi yang kamu tunggu sih cintaku," rengek Bagas sembari terus melahap makanan yang ada di depannya.


"Hem, memang Mas Bagas sudah mantap dan yakin memilih aku untuk menjadi pendamping hidup?" tanya Ais ragu.


"Sayang, kalau aku sudah mantap dari dulu. Kamunya saja yang terus saja ragu padaku hingga saat ini. Kadang aku bingung juga, sayang. Dengan apa lagi aku harus buktikan rasa cinta ini padamu supaya tidak ada lagi keraguan di hatimu itu?" ucap Bagas.


"Suatu pernikahan bukan hanya kata-kata mantap dan tidaknya. Tetapi kan harus benar-benar menyiapkan hati. Karena menjalankan mahligai pernikahan itu tidaklah mudah," ucap Ais


"Iya sayang, aku tahu kamu bisa mengatakan hal ini karena berdasarkan pengalaman pribadi. Dimana ibumu meninggalkan mu dan adik-adikmu begitu saja disaat kalian masih teramat kecil," ucap Bagas.


"Aku harap rasa traumamu itu tidak berkelanjutan karena tidak baik, sayang."


"Jika kamu terus menerus melihat kegagalan rumah tangga yang dialami oleh ayahmu, apakah kamu akan selamanya menolak untuk menikah denganku?"


"Sayang kehidupan itu berjalan seperti aliran sungai yang mengalir, kita hanya sebagai pelaku. Jika kamu terus menolak ajakanku untuk menikah, lantas mau di bawa kemana hubungan kita?"


Ais mati kutu tak bisa menjawab segala pertanyaan dan perkataan yang di lontarkan oleh Bagas kepadanya.


"Iya juga sih, padahal hampir semua wanita mengharapkan hubungan berakhir ke jenjang pernikahan. Tetapi kenapa aku malah takut seperti ini ya?" batin Ais.

__ADS_1


"Ini semua gara-gara tindakan ibu yang meninggalkan ayah begitu saja hingga pada akhirnya aku menjadi seorang yang trauma seperti ini. Mempunyai suatu pubia. Aku takut alami hal yang sama seperti yang pernah ayah alami jika aku telah menikah nanti."


'Kadang kerap kali aku suka membayangkan ada di posisi ayah, menjadi ayah yang mengurus semuanya sendiri. Sepertinya aku takkan mampu jika mengalami hal pahit seperti yang ayah alami."


'Ah kenapa aku selalu saja memposisikan diri ini seperti ayah sih? kasihan juga Mas Bagas yang terus menanti sebuah kepastian dariku."


Ais terus saja melamun dan melamun. Iya bahkan tak sadar jika sedari tadi Bagas terus saja memperhatikan dirinya.


"Mas, makannya sudah?" ucap Ais tersadar dari lamunannya.


"Hem, sudah selesai dari tadi. Kamunya saja yang terlalu sibuk dengan lamunanmu. Sebenarnya apa sih yang membuatmu hingga melamun begitu lama?" tanya Bagas heran.


"Nggak apa-apa kok, mas. Ya sudah, aku bereskan saja ya."


Ais membereskan semua piring yang ada di hadapan Bagas, bahkan Bagas juga membantunya tanpa ada rasa sungkan.


Iya ikut membawa semuanya ke dapur. Walaupun Ais kini sudah punya restoran, akan tetapi ia tidak tergantung dengan para pelayan. Ia bahkan selalu menyajikan makanan untuk Bagas selalu ia lakukan sendiri. Dari ia menyajikan hingga membereskan semuanya. Hanya mencuci saja yang tak ia lakukan sendiri.


"Mas,...


"Kenapa, malu? sudah aku katakan barusan. Jika orang sedang jatuh cinta itu dunia seakan milik sendiri. Sudah ya sayang, ingat pesanku ini ya. Jangan terlalu banyak melamun. Ok cintaku," Bagas mencolek hidung mancung Ais.


"Hem iya pak guru Bagas. Sudah sana berangkat ke kantor nanti kesiangan loh," ucap Ais.


"Mana ayah, aku kan belum pamit padanya," Bagas celingukan mencari keberadaan Ayah Lukman.


"Berangkat saja, mas. Nanti biar aku yang mengatakan pada ayah saja," ucap Ais.


"Baiklah, tolong ya sampaikan pada Ayah."

__ADS_1


Saat itu juga Bagas berlalu pergi dari hadapan Ais lekas ia melajukan mobilnya arah kantor.


Sepertinya Bagas, Ayah Lukman datang dan celingukan.


'Mana Bagas, kok nggak keliatan?' tanyanya.


"Baru saja berangkat kembali ke kantor. Tadi Mas Bagas mencari ayah untuk berpamitan," ucap Ais.


"Tadi ayah sedang ada di kamar mandi," ucapnya singkat.


"Ayah, bisakah kita bicara sebentar di ruanganku saja supaya nyaman karena ada hal penting yang ingin aku sampaikan pada ayah," Pinta Ais.


Saat itu juga Ayah Lukman dan Ais melangkah masuk menuju ke ruang kerja Ais.


"Ada apa sih, Ais? sepertinya ada hal yang sangat penting?" tanya Ayah Lukman penasaran.


"Memang ini penting ayah. Aku bingung karena Mas Bagas terus saja meminta kepastian dengan hubungan pacaran kami. Mas Bagas ingin kita cepat menikah," ucap Ais seraya memijit pelipisnya.


"Loh kenapa mesti bingung? kalau wanita lain pasti sudah sangat senang mendengar tentang pernikahan. Lantas apa yang membuatmu risau?" tanya Ayah Lukman.


"Aku takut ayah, kegagalan rumah tangga ayah ini yang membuat aku takut untuk melangkah ke jenjang pernikahan," ucap Ais.


"Astaga, Ais. Kamu tak boleh seperti itu. Setiap watak orang itu tidaklah sama. Masa iya kamu takut menjalani biduk rumah tangga. Berarti ksnuntidak yakin dengan pasanganmu. Kamu meragukan Bagas ya?" ucap Ayah Lukman.


"Nggak juga ayah, aku percaya jika Mas Bagas itu orang yang baik dan bahkan teramat baik," ucap Ais.


"Jika kamu percaya seharusnya kamu tak terus menolak ajakan Bagas untuk menikah. Nanti yang ada kamu menyesal jika lama-lama Bagas bosan menunggu bagaimana?"


"Yang ayah takut kan sekarang ini hanya itu saja. Bagas lelah dan akhirnya mundur dan mencari gadis lain."

__ADS_1


Ayah Lukman sengaja menakut-nakuti Ais supaya lekas mau menikah dengan Bagas. Karena Ayah Lukman juga sudah sangat setuju pada Bagas. Ia sudah ingin punya cucu dari Ais.


"Menikahlah, ayah sudah tak sabar ingin menimang cucu," Pinta Ayah Lukman.


__ADS_2