Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah

Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah
Mulai Tumbuh Rasa


__ADS_3

Setelah mendengar kejujuran Ais bahwa dirinya belum memiliki pacar entah kenapa hati Bagas bertambah riang.


Tak berapa lama mereka telah sampai di kantor, selama dalam perjalanan tidak ada suatu pertengkaran seperti biasanya tetapi malah mereka begitu akrab dan saling bercanda ria.


Ais yang selalu membuat Bagas tersenyum bahkan tertawa dengan segala cerita lucunya.


"Is, kamu langsung saja ya tolong buatkan aku kopi seperti yang biasa kamu buatkan padaku. Aku suka sekali rasanya," pinta Bagas tersenyum manis pada Ais saat mereka akan turun dari mobil.


"Siap laksanakan tugas, Den."


"Oh ya, setelah kamu membuat kopi kamu bekerja seperti biasa menggantikan pekerjaan ayahmu ya, kamu masih ingat kan?" tanya Bagas untuk memastikan.


"Ingat dong, Den. Sebenarnya tak perlu Aden mengingatkan atau berkata padaku aku juga pasti akan melakukan pekerjaan itu setelah membuatkan Aden kopi," ucap Ais tersenyum riang.


"Kenapa pada saat aku melihat senyum Ais jantung ini berdegup kencang sekali seperti kendaraan yang mau perang?"


"Di setiap ada kamu mengapa jantungku bergetar, bergetarnya lebih cepat seperti genderang yang mau perang. Di setiap ada kamu mengapa darahku mengalir mengalir lebih deras dari ujung kaki ke ujung kepala."


"Haduh, kenapa aku jadi bersenandung lagu Dewa sih?"


Di dalam hati Bagas terus saja menggerutu seraya menahan rasa ingin tertawa karena kekonyolannya sendiri menyanyi di dalam hati.


"Aden, kenapa malah bengong saja seperti itu? menatap aku kok seperti heran sekali memangnya ada yang aneh ya pada padaku?" teguran Ais membuyarkan lamunan Bagas.


"Hehehe enggak kok, Is. Ya sudah aku masuk dulu dan jangan lupa ya kopi pesananku itu porsinya sesuai yang sering kamu buatkan padaku. Awas loh kalau salah aku tidak akan segan-segan menarik kupingmu seperti yang sering ayahmu lakukan padamu."


Bagas pun melangkah masuk menuju kantornya walaupun sebenarnya dia masih ingin bersama dengan Ais, entah kenapa langkah kakinya berat meninggalkan Ais.


"Aneh itu orang, sekarang sudah enggak marah-marah lagi. Jika seperti ini aku bisa bekerja dengan nyaman tidak seperti waktu itu inginnya aku pergi saja dari hadapannya." Gumamnya seraya melajukan kembali mobilnya menuju ke parkiran.


Setelah itu langsung membuatkan kopi untuk Bagas dan langkah pasti ke ruang kerjanya.

__ADS_1


"Tok tok tok tok tok"


Ais mengetuk pintu ruang kerja Bagas dia harus benar-benar berhati-hati jangan sampai kecerobohannya membuat marah, Bagas.


"Masuk" ucap Bagas dari dalam pada saat mendengar ketukan pintu ruangannya.


Ais pun masuk dengan perlahan supaya dia tidak menumpahkan kopi seperti pada waktu yang lalu.


"Silahkan Den ini kopinya."


Dan pada saat Ais meletakkan kopi di meja, Bagas buru-buru ingin meminumnya sementara posisi tangan Ais masih ada di cangkir kopi tersebut sehingga tak sengaja Bagas menyentuh tangan Ais. Sejenak keduanya saling berpandangan satu sama lain seperti sama-sama saling terhipnotis.


"Maaf, Is. Aku buru-buru ingin meminumnya jadi aku tak tahu kalau hehehe.....


"Hehehe.. nggak apa-apa kok Den. Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu, karena harus segera membersihkan ruangan Aden dan juga tempat yang lain. Saya akan mengambil alat pelnya dulu."


Ais pun berlalu pergi dari ruangan Bagas dengan tak lupa menyunggingkan senyum manisnya yang memperlihatkan gigi gingsulnya.


Beberapa detik kemudian Ais sudah datang kembali dengan membawa peralatan pel untuk mengepel ruangan Bagas. Ia sangat hati-hati karena tidak ingin melakukan kesalahan atau kecerobohan seperti pada waktu lalu. Sementara Bagas bukannya fokus dengan pekerjaannya, ia malah terus menatap Ais yang sibuk membersihkan ruangannya.


Setelah beberapa menit kemudian selesailah Ais membersihkan ruang kerja Bagas dia pun menghampiri Bagas.


"Den, tolong jangan turun dulu karena aku khawatir nanti Aden terpeleset seperti pada waktu itu. Semuanya sudah aku bersihkan kini aku akan membersihkan ruangan yang lain ya, den. Permisi."


Ais pun beranjak pergi dengan membawa peralatan kebersihannya untuk membersihkan ruangan yang lain.


Tak terasa jam makan siang telah tiba, Ais juga sudah berganti pakaian karena dia akan bersiap siap mengantar Bagas untuk makan siang.


"Is, kita ke restoran yang sedang booming saat ini ya, kamu tahu nggak?" tanya Bagas ragu.


"Jelas tahu lah, Den. Walaupun saya ini tidak pernah makan di restoran atau di cafe-cafe terkenal tetapi saya ini kan seorang mantan seorang sopir angkot jadi saya tahu tempat-tempat mana saja yang sedang booming dan terkenal di antara kalangan pembisnis ataupun kaum elit seperti, Aden," ucap Ais meyakinkan.

__ADS_1


"Tapi sebelum kita ke restoran tersebut aku ingin mengajakmu ke suatu tempat jadi kamu tak boleh menolaknya," pinta Bagas.


"Memangnya kita akan ke mana dulu, Den?" tanya Ais penasaran.


"Kita ke butik langgananku dulu sebentar."


Bagas pun memberi tahu di mana letak butik itu berada dan hanya beberapa menit saja telah sampai ke butik itu. Pada saat Bagas akan keluar, Ais hanya duduk diam saja.


"Is, ayok kamu ikut. Temani aku memilih pakaian yang bagus untuk seseorang. Karena aku ingin mengajak makan siang orang itu dengan pakaian yang bagus," pinta Bagas.


Ais hanya berhooh ria, tanpa berani bertanya lebih Lagi.


Pada saat masuk ke dalam butik, semu tunduk hormat dan sangat menyambut kedatangan Bagas. Apa lagi semua telah hapal dengan Bagas karena keluarganya selalu berlangganan di butik tersebut.


"Mba, aku minta tolong pilihkan baju yang tepat untuknya," pinta Bagas pada salah satu karyawati butik seraya menunjuk ke arah Ais.


"Den, kok untukku?" tanya Ais heran.


"Kamu menurut saja, ikutlah dengan Si Mba untuk memilih baju yang tepat untukmu."


Ais tak berani membantah karena khawatir Bagas marah. Dan hanya sebentar saja, Ais sudah datang dengan mengenakan dress selutut yang sangat memukau Bagas.


Bagas langsung membayar baju itu. Dan Ais di larang melepasnya dulu.


"Kamu nggak usah protes kalau nggak mau aku pecat, sekarang biar aku yang mengemudi."


Ais pun menurut, bagai kerbau di cucuk hidungnya. Sementara Bagas melajukan mobilnya ke sebuah salon kecantikan, dimana pemiliknya adalah teman semasa kuliahnya. Dia meminta temannya untuk merias Ais se natural mungkin. Setelah itu barulah Bagas mengajak serta Ais ke restoran yang sedang booming.


"Den, kenapa aku di dandani seperti ini? aku nggak nyaman, den. Rasanya aneh banget buatku," ucap Ais tak pede dengan penampilan dirinya yang sekarang.


Bagas tak menjawab, dia hanya mengulas senyuman.

__ADS_1


"Ternyata Ais sungguh cantik luar biasa jika dia di dandani seperti ini, aku benar-benar nggak menyangka. Jika tak dandan dia juga sudah cantik, begitu di make over dia menjadi luar biasa kecantikannya," batin Bagas memuji kecantikan Ais yang paripurna.


__ADS_2