
Saat itu juga Ais dan Ayah Lukman mengadakan perjanjian hitam di atas putih untuk kerja sama mengelola sebuah restoran baru dengan kolaborasi seorang wanita karir bernama Bu Ira.
Bagas merasa bahagia melihat perkembangan usaha kuliner milik kekasihnya tersebut. Ia bangga mempunyai seorang kekasih yang sangat mandiri dan pekerja keras walaupun pendidikannya tidak setinggi dirinya.
"Alhamdulillah ya Allah, terima kasih untuk segala rezeki yang diberikan pada keluarga Ais. Aku turut senang melihatnya setelah kemarin mereka mengalami suatu ujian hidup. Di mana ada seseorang yang tidak suka padanya telah membuat suatu keonaran sehingga untuk beberapa hari restoran mereka sempat tutup ternyata di balik musibah tersebut ada hikmah yang bisa di peroleh," ucap syukur Bagas di dalam hatinya.
Setelah cukup lama membahas kerjasama tersebut Bu Ira dan pengacaranya berpamitan atau kembali ke kantornya untuk kedepannya mereka akan saling berkabar lewat ponsel kedua belah pihak.
"Sayang, selamat ya atas kerjasamanya yang baru semoga berkah dan berkembang pesat sehingga saling menguntungkan kedua belah pihak."
"Selamat ya ayah, sekarang tak perlu bersedih lagi karena usaha ayah dan Ais bertambah satu lagi. Jadi dua restoran yang harus kalian kelola, sehat selalu ya Ayah."
Secara langsung Bagas memberikan selamat kepada Ais dan Ayah Lukman. Dengan pelukan mesra pada Ais dan pelukan sayang pada calon ayah mertua. Mereka saling berpelukan satu sama lain seperti Teletubbies.
"Terima kasih ya Nak Bagas, ini semua tak lepas dari bantuanmu. Tanpamu kami ini bukanlah apa-apa. Jasamu begitu besar dalam kehidupan kami, Nak Bagas," ucap Ayah Lukman.
"Ayah, sudah aku bilang untuk berapa kali supaya tak usah terlalu memuji karena apa yang aku lakukan itu hanyalah hal biasa. Yang berjasa besar itu adalah pahlawan, aku mah apa atuh," canda Bagas terkekeh.
"Tapi apa yang ayah katakan itu benar adanya, Mas Bagas. Tanpa bantuan dari Mas Bagas, kami ini bukanlah apa-apa. Mungkin akan selalu menjadi sopir entah itu sopir pribadi atau pun sopir angkot," ucap Ais membenarkan perkataan Ayah Lukman.
Setelah cukup lama, Bagas berada di restoran Ais. Ia pun berpamitan untuk berangkat ke kantor karena sudah terlalu siang.
"Ayah, aku pamit ke kantor ya. Sayang, aku ngantor dulu ya. Sampai lupa waktu keasikan di sini tahu-tahu sudah jam sembilan pagi," pamit Bagas pada Ais dan Ayah Lukman.
"Ya Nak Bagas, hati-hati ya mengemudinya," pesan Ayah Lukman.
"Hati-hati ya, Mas Bagas," pesan Ais.
__ADS_1
Setelah itu Bagas langsung melangkah keluar dari restoran Ais dan ia pun lekas menuju ke mobilnya karena kebetulan masih terparkir di pelataran restoran.
Seperginya Bagas, sejenak Ais dan Ayah Lukman mengobrol.
"Ayah benar-benar masih nggak percaya, Ais," ucap Ayah Lukman seraya menghela napas panjang.
"Nggak percaya tentang apa, ayah?" tanya Ais memicingkan alisnya.
"Ya dengan apa yang saat ini terjadi dalam hidup kita. Perubahan positif yang terjadi sejsk kamu dekat dengan Bagas."
"Ayah juga sampai detik ini masih suka berpikir dengan hubunganmu dan Bagas."
"Dunia ini penuh dengan kemungkinan. Dimana dulu Bagas sering sekali mengadu pada ayah tentang kecerobohan dirimu dalam bekerja."
"Dulu Bagas selalu bertanya kapan ayah akan segera sehat supaya lekas bekerja lagi, karena ia sudah tidak ingin lagi kamu yang menggantikan pekerjaan ayah."
"Katanya kamu itu selalu membuatnya bertambah emosi dan selalu membuat ia merasa kesal."
Mendengar segala yang dikatakan oleh ayahnya Ais malah tertawa ngakak. Membuat Ayah Lukman menjadi heran.
"Ais, ayah kan sedang cerita panjang lebar bukan sedang melawak. Tetapi kenapa kamu malah tertawa ngakak seperti itu?" tanya Ayah Lukman memicingkan alisnya.
"Secara cerita ayah itu mengingatkan padaku tentang segala kejadian lucu yang dialami oleh Mas Bagas. Waktu aku beberapa hari menggantikan posisi ayah bekerja sebagai sopir pribadi dan cleaning service di kantornya," ucap Ais terkikik.
"Karena memang sebenarnya apa yang Mas Bagas katakan itu ada benarnya juga, iya beberapa kali mengalami kesialan," ucap Ais seraya terus terkikik seraya memegangi perutnya bahkan matanya sempat basah.
Ia saat ini sedang mengingat semua kejadian lucu yang di alami oleh Bagas. Apa lagi pada saat celana Bagas menempel pada kursi dan tak bisa di lepaskan hingga celana itu robek membuat celananya bolong.
__ADS_1
Melihat Ais terus saja tertawa membuat Ayah Lukman menjadi heran.
"Ais, sudah dong tertawanya. Apa kamu nggak malu di lihat oleh para pelayan. Nanti repot juga loh kalau kamu tertawa terus yang ada bisa ngompol di celana," tegur Ayah Lukman seraya menggelengkan kepalanya melihat Ais yang terus saja tertawa.
Sementara saat ini Bagas telah sampai di kantornya akan tetapi ia merasa heran karena pintu ruang kerjanya sudah tidak terkunci padahal ia baru saja akan membukanya dengan kunci. Dan yang ia tahu, kunci ruang kerja hanya ia saja yang punya.
"Aku harus menangkap basah orang yang dengan lancang masuk ke ruanganku ini," batin Bagas dengan perlahan ia masuk ke ruang kerjanya.
Ia mengendap-endap bagaikan seorang maling. Dan ia celingukan di dalam ruang kerjanya akan tetapi tidak ada satu orang pun.
Sejenak ia menajamkan pendengarannya, dan ia pun mendengar derap suara sepatu di kamar yang ada di dalam ruang kerjanya tersebut.
Bagaspun waspada, ia mengambil sapu yang ada di sebelah meja kerjanya. Dan ia melangkah perlahan menuju ke kamar tersebut.
"Lihat saja, siapa pun kamu pasti akan tertangkap basah olehku dan akan aku masukkan ke dalam penjara!" batin Bagas sudah tak sabar lagi ingin menghajar orang yang sedang ada di dalam ruang kerjanya itu tepatnya di kamar santai yang ada di ruangan itu.
"Di mana Tuan Bagas menyembunyikan semua berkas kantor ini sih? jika hari ini aku tak mendapatkannya juga, Ibuki yang akan menjadi taruhannya," gerutunya seraya terus mengobrak abrik kamar itu.
Bahkan Bagas sempat mendengar gerutuannya tersebut.
"Hah, ternyata yang masuk dengan lancang adalah seorang wanita? siapa dia, yang ingin mencuri berkas kantorku?"
Karena sudah tak bisa lagi menahan rasa penasarannya, Bagas pun langsung maril ke dalam kamar santai tersebut. Dan ia betapa terkejut pada saat melihat siapa wanita itu.
Wanita itu yang melihat kedatangan Bagas secara tiba-tiba juga ikut terkejut. Keduanya terlonjak kaget bersamaan.
"Tu-tu-tuan Bagas..."
__ADS_1
"RISA!"
Risa menghentikan aksinya, ia pun menjatuhkan beberapa berkas yang sempat ia temukan terlebih dahulu. Risa ketakutan dan gemetaran seraya tertunduk cemas.