
Sesampainya di rumah, Ais menjatuhkan pantatnya di sofa ruang tamu dengan wajah murung.
"Is, kamu sudah pulang?" Ayahnya pun duduk di hadapannya.
"Seperti yang ayah lihat," jawab ceplos Ais membuat Lukman mengerutkan alisnya.
"Is, tumben wajahmu di tekuk seperti itu. Memangnya Den Bagas ngomong apa sama kamu?" tanya Lukman penasaran.
"Dia memaksa aku untuk tidak narik angkot dan memintaku menggantikan posisi ayah mulai besok pagi," ucap Ais sedih karena dia lebih nyaman jadi sopir angkot.
"Nah kan, ayah juga bilang apa. Jika Den Bagas sudah ingin ya ingin, kemauan dia itu tak bisa di tolak. Jadi mulai besok ayah sudah pensiun nech ceritanya. Tinggal kamu yang kerja, tapi ayah kok nggak tega juga ya jika membiarkan kamu kerja sendirian. Apa ayah yang jadi sopir angkot saja ya, Is?"
Mendengar apa yang dikatakan oleh Lukman, Ais semakin mengerucutkan bibirnya.
"Aku nggak izinin ayah menjadi sopir angkot. Nggak enak tahu, yah," ucap Ais tak izinkan.
"Masa iya ayah benar-benar nganggur, Is?" ucap Ayahnya nggak setuju.
"Ya mau bagaimana lagi, jika aku tetap ngangkot pun ayah akan di pecat kan? sudah ayah nurut saja, di rumah istirahat sambil jaga si kembar. Lagi pula sudah kewajiban seorang anak gantian menafkahi orang tua dan adik-adik," ucap Ais.
"Ya Allah, sebenarnya aku tak tega masa iya anakku kerja banting tu sendiri sementara aku hanya ongkang-ongkang kaki saja," batin Lukman.
Dia akan tetap kerja walaupun bukan narik angkot ataupun menjadi sopir pribadi. Dia akan mencari pekerjaan yang lain tanpa sepengetahuan Ais.
Tak terasa pagi menjelang, Bagas sudah sangat antusias dan sangat bersemangat karena lagi ini dia akan di sopiri oleh Ais. Dia memakai baju dan menyisir rambut seraya senyam senyum sendiri.
"Kenapa sesenang ini aku ya, pada saat mau di sopiri si gadis barbar dan ceroboh itu?" gumamnya heran sendiri.
Sementara Ais malah manyun terus, dia melangkah dengan tak bersemangat. Karena dia sangat yakin jika Bagas akan marah-marah terus.
"Hah, aku harus siap mental nech. Pasti setiap harinya Den Bagas akan ngomel-ngomel tak ada ujungnya seperti yang sudah-sudah. Makanya aku bawa heatset saja," batinnya.
Tak berapa lama Ais sudah sampai di pelataran rumah Bagas. Dan Bagas juga sudah siap duduk di teras halaman menuggu dirinya. Kini raut wajahnya mereka terbalik, biasanya Ais yang ceria dan riang dan wajah Bagas yang di tekuk. Kini sebaliknya, Bagas terlihat riang dan ceria sementara wajah Ais masam.
__ADS_1
"Kamu kenapa, pagi-pagi kok wajah manyun begitu? apa belim sarapan ya?" tanya Bagas lembut.
"Hah, nggak salah ini orang? tumben banget ngomongnya nggak ngegas nggak seperti biasanya," batin Ais.
"Ais, di tanya kok nggak jawab sih? jika kamu belum sarapan sebaiknya sarapan dulu, yuk sarapan di rumah ku." Tiba-tiba Bagas meraih jemari Ais dan akan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Den, saya sudah sarapan kok." Ais menepis pegangan tangan Bagas.
"Kita berangkat sekarang saja ya, den?" Ais melenggang ke garasi untuk mengambil mobil Bagas.
Bagas pun menyunggingkan senyumnya seraya mengangguk pelan.
"Ih senyum dia, benar-benar dech lagi kesambet tuh orang," batin Ais heran melihat Bagas tersenyum karena selama ini yang dia lihat itu wajah murung Bagas dan marah-marah nya saja.
Setelah mobil ada di depan hadapan Bagas, pada saat Ais akan turun membukakan pintunya, Bagas melarang.
"Nggak usah, kamu duduk saja di kemudi aku bis buka pintu sendiri," ucapnya lantas ia mengambil tempat duduk di depan samping Ais mengemudi.
"Ih, tumben juga dia mau duduk di samping aku. Biasanya dia lebih suka duduk di belakang. Hari ini Den Bagas benar-benar banyak berubah dech, apa habis di ruqiah ya? jadi setan marah dan murungnya hilang seketika," Ais cengengesan sendiri membayangkan Bagas di ruqiah.
"Lagi ingat cerita adik waktu lagi jam pelajaran sekolah, katanya dia di tanya macam-macam sama gurunya. Tapi dia malah jawabnya bikin aku ngakak, Den."
Untung saja Ais pintar beralasan, hingga dia tak gugup pada saat di tanya oleh Bagas.
"Coba ceritakan aku juga ingin tahu," pinta Bagas.
Ais pun menceritakan tentang si kembar yang sifatnya nyeleneh seperti Ais.
"Begini Den, pada saat pelajaran sejarah. Salah satu adik saya mengantuk. Hingga Bu guru itu bertanya macam-macam. Dari siapa itu Thomas Alfa Edison, James Watt, sama Alexander Graham Bell."
"Tetapi adik saya nyeleneh bilang katanya nggak tahu. Lantas bu guru katanya ngatain adikku tolol bodoh."
"Terus adikku nggak mau begitu saja di katain tolol bodoh, dengan adikku bertanya balik tuh sama gurunya."
__ADS_1
"Begini Den kata adik saya," sekarang kalau ibu pintar saya mau tanya ya? ibu tahu nggak Pak Didin?"
"Terus gurunya jawab," siapa dia?"
"Terus adik saya tanya lagi, den "
"Tanya apa lagi."
"Kalau Haji Wisnu, Ustadz Soleh, Kyai Amin? ibu tahu ngga? itu tanya adikku pada gurunya."
"Stop.. siapa mereka itu? ibu sama sekali tak tahu." Begitu ucapan gurunya.
"Lantas salah satu adik saya ngomong," Aku cuma mau ngasih tahu, Bu. Tidak semua orang yang ibu kenal itu aku juga kenal. Orang yang aku kenal, ibu juga tak kenal kan? kita ini manusia Bu, punya kenalan sendiri-sendiri."
"Kata adikku, ibu gurunya hanya menggelengkan kepalanya."
"Kadang si kembar suka seperti itu, den. Suka usil di sekolah yang membuat para gurunya geleng-geleng kepala," ucap Ais.
"Hem, tak ubahnya seperti dirimu ya? kamu juga sama seperti si kembar kan? suka usilin aku," ejek Bagas.
"Hhee maaf den," ucap nya tersipu malu.
Dalam hati Bagas mulai ada rasa nyaman dekat dengan Ais. Dia sudah mulai bisa beradaptasi hingga tak marah-marah. Justru dia kini bisa ngobrol santai dengannya.
"Is, kenapa kamu tak melanjutkan kuliah?" tiba-tiba Bagas bertanya di sela suasana hening.
"Kuliah kan biayanya mahal, Den. Aku nggak akan tega jika ayah harus extra dalam bekerja. Lagi pula aku punya dua adik juga. Makanya aku mengalah, tak melanjutkan kuliah, tetapi bantu ayah mencari nafkah."
"Lagi pula aku kan seorang wanita, jadi tak perlu sekolah tinggi. Justru si kembar yang harus sekolah tinggi, karena kelak jika dewasa mereka kan menjadi kepala keluarga yang menafkahi istri dan anak-anak."
"Sedangkan aku paling ya numpang hidup dan berbakti sepenuhnya pada suamiku kelak."
Ucap Ais panjang lebar, membuat Bagas kagum padanya dan tak lagi menghujat Ais.
__ADS_1
"Hem, lantas apa kamu sudah punya pacar?" tiba-tiba Bagas bertanya hal itu yang malah membuat Ais terkekeh.
"Hhhaaa gara-gara aku ngomong seperti tadi ya, den. Pacar dari Hongkong? aku belum punya pacar, den."