
Setelah perjanjian deal, Rindi mendapatkan banyak uang dan pria paruh baya tersebut mendapatkan perusahaan milik Setyo. Rindi tersenyum bahagia pada saat ia mendapatkan uang banyak tersebut. Ia langsung menuju ke Bank untuk menyimpannya supaya aman.
"Maafkan aku ya, pah. Karena aku sudah lancang menjual perusahaan papah. Karena jika menunggu papah keluar dari penjara lima tahun mendatang, yang ada nantinya aku akan terlantar."
"Ini semua demi kelangsungan hidupku tanpa ada papah yang menafkahi aku. Karena akan sudah terbiasa diberi jatah oleh papah. Aku tidak biasa bekerja sendiri."
"Untuk apa aku cape-cape bekerja sedangkan aku anak satu-satunya papah. Jadi aku juga tidak salah jika perusahaan itu aku jual."
Rindi biasa di manja, hingga dia menjadi seorang gadis yang pemalas yang hanya kerjanya shopping sana shopping sini saja. Dan bersenang-senang saja.
************
Esok menjelang, Bagas merasa lega karena permasalahan yang di hadapi di kantor telah selesai.
"Alhamdulillah, permasalahan Om Setyo telah selesai. Semoga tidak ada lagi permasalahan yang lain. Karena aku ingin segera hidup bahagia dengan Ais."
"Aku sudah tak sabar lagi untuk bisa menikah dengannya. Hem, aku akan bicara lagi padanya. Sudah cukup bagiku berdiam diri selama ini menunggu jawaban dari Ais, tapi ia tak kunjung juga berkata."
Hingga sore itu, Bagas pun melajukan mobilnya ke restoran. Akan tetapi ia tak mendapati ada Ais di restoran.
"Ayah, memangnya Ais kemana?" tanya Bagas penasaran.
"Ais sudah pulang duluan, katanya agak kurang sehat,' ucap Ayah Lukman.
"Ya sudah, aku ke rumah ya ayah. Ayah nggak apa-apa kan sendirian di sini?" pamit Bagas tetapi ada rasa tak tega meninggalkan calon ayah mertuanya sendirian.
"Nggak apa-apa, Nak Bagas. Pergi saja," ucap Ayah Lukman.
Saat itu juga Bagas melajukan mobilnya arah rumah Ais, hanya beberapa menit saja telah sampai. Kebetulan di rumah ada si kembar sedang bersantai di pelataran rumah.
"Hey, Ade-Ado. Kalian sedang bermain apa?" tanya Bagas.
"Main kelereng, mas. Masuk saja Mba Ais sedang ada di kamar, sedang rebahan katanya sedang kurang sehat," ucap Ado.
__ADS_1
Bagas pun masuk ke dalam rumah Ais yang kebetulan pintu rumahnya tidak terkunci dan saat ini sedang ada di dalam kamarnya sedang merebahkan tubuhnya sembari menonton acara televisi.
Melihat kedatangan Bagas yang secara tiba-tiba membuat Ais terhenyak kaget, dia pun langsung bangkit dari rebahannya, melangkah cepat menghampiri Bagas tepat di pintu kamarnya.
"Mas Bagas, kenapa ke rumah nggak ngomong-ngomong sih? harusnya kirim pesan dulu." Ucap Ais seraya bergelayut di lengan Bagas dan mengajaknya melangkah ke ruang tamu.
Karena ia tidak ingin hanya berdua saja di kamar kondisi mereka belum sah menjadi pasangan suami istri.
"Kamunya yang nggak ngomong ke aku, jika nggak enak badan. Aku datang ke restoran nggak ada kamu," ucap Bagas manyun.
"Maaf, mas. Tiba-tiba kepalaku sakit tak tertahankan hingga pada akhirnya aku pulang lebih dulu, bahkan aku tak ingat untuk memberitahumu. Sekali lagi aku minta maaf ya, mas," ucap Ais.
"Sebaiknya kita ke rumah sakit saja yuk, periksa ke dokter biar kamu mendapatkan vitamin dan juga obat supaya lekas sembuh."
Ajak Bagas seraya meraih jemati Ais untuk bangkit, akan tetapi Ais tak mau.
"Nggak usah Mas, aku cuma pusing sedikit saja kok udah minum obat warung nanti juga sembuh," tolak Ais seraya halus.
"Iya Mas, kan hanya sesekali saja," ucap Ais.
"Padahal aku ingin mengatakan hal penting pada Ais, tetapi melihat kondisi Ais yang sedang kurang sehat sepertinya aku nggak tega loh," batin Bagas.
"Mas Bagas, kenapa melamun? apa sedang ada masalah lagi di kantor?" tanya Ais menyelidik.
"Nggak ada masalah kok, sayang."
"Tapi dari raut wajah Mas Bagas sangat jelas terlihat seperti sedang ada yang di pikirkan," ucap Ais terus saja menyelidik.
"Aku sedang tidak ada masalah apa pun, sayang. Jadi percayalah padaku," ucap Bagas.
"Hem, ya sudah kalau seperti itu. Mas mau minum apa biar aku buatkan?" tanya Ais.
"Nggak usah, sayang. Kamu kan sedang kueng sehat, jadi tak perlu repot-repot. Nanti kalau aku haau bisa ambil minum sendiri," tolak Bagas secara halus.
__ADS_1
"Hem, apa-apa kok nggak mau sih? ya sudahlah," rajuk Ais manyun.
"Sayang, kamu masih pusing nggak?" tanya Bagas untuk mencairkan suasana.
"Nggak mas, sakit kepalaku sudah sembuh. Memangnya ada apa Mas?" tanya Ais memicingkan alisnya.
"Bagaimana kalau kita jalan-jalan keluar yuk? refreshing sejenak biar rasa suntuk rasa bosan kita hilang, terhibur dan kamu bisa sehat kembali. Sekalian saja kita ajak si kembar karena kebetulan di alun-alun sedang ada pasar malam," ucap Bagas seraya menarik turunkan alisnya.
"Baiklah Mas, aku akan berganti pakaian dulu ya tunggu sebentar."
Ais pun melangkah masuk menuju ke kamarnya untuk sejenak berganti pakaian.
Sementara Bagas bangkit dari duduknya, ia melangkah keluar menghampiri si kembar dan menawarkan untuk ikut ke pasar malam.
"Ade-Ado, Mas Bagas sama Mbak Ais mau ke pasar malam di alun-alun, kalian mau ikut nggak?" tanyanya.
"Memangnya kami boleh ikut, nanti yang ada kami mengganggu kebersamaan Mas Bagas sama mbak Ais," ucap Ado sekenanya.
"Kan Mas Bagas, nawarin kalian. Berarti kan mengizinkan kalian ikut. Kalau mau ikut ya lekas ganti pakaian supaya tidak ketinggalan," pinta Bagas.
"Oke, kami ikut deh."
Baik Ade maupun Ado langsung berlarian berhamburan masuk ke dalam rumah menuju ke kamarnya masing-masing untuk segera berganti pakaian. Karena mereka tidak ingin tertinggal untuk ikut pergi ke acara pasar malam yang ada di alun-alun kota tersebut.
Setelah semuanya siap langsung mereka masuk ke mobil Bagas. Segeralah Bagas melajukan mobilnya menuju alun-alun kota tersebut. Hanya beberapa menit saja mereka telah sampai di alun-alun.
Namun pada saat di alun-alun, Bagas merasa sedikit tidak nyaman karena dia melihat seseorang yang pernah membuat masalah di dalam kehidupan dia dan kehidupan Ais yakni Rindi.
"Sialan, kenapa pula di sini bertemu dengan Rindi! semoga saja dia tidak melihat, karena jika dia melihat, pasti akan membuat suatu masalah kembali," batin Bagas.
Pada saat Bagas akan mengajak Ais dan si kembar ke tempat wahana yang lain, dia terlambat karena di depannya sudah berdiri Rindi.
"Hay Bagas, kita bertemu di sini. Sepertinya kita jodoh karena sering bertemu seperti ini," sapa Rindi tidak ada rasa malu sedikitpun.
__ADS_1