
"Mas Bagas, aku ini kan bukan dari keluarga terpandang. Cuma mantan sopir angkot dan juga sopir pribadi dirimu. Juga aku ini ceroboh, barbar seperti yang kamu katakan tadi."
"Apa nantinya kamu nggak menyesal mempunyai istri seperti diriku. Yang tak bisa berdandan dan berpenampilan feminim?"
Mendengar perkataan dari Ais, Bagas pun terkekeh.
"Hemm.. hanya karena aku tadi mengatakan hal seperti itu? lantas kamu berkata seperti ini? sayang, tidak ada kata penyesalan di dalam hati aku. Yang ada justru aku menyesal kenapa Moira nggak kenal dari dulu saja. Supaya kita cepat menikah." Ucap Bagas seraya memegangim kedua dagu Ais.
Tanpa sadar wajah mereka semakin mendekat dan begitu dekat hingga sedikit lagi bibir mereka saling bersentuhan.
"Ehem.."
Keduanya terhenyak kaget dan Bagas langsung melepaskan pelukannya pada Ais. Dan Ais pun merona merah karena malu.
"Papah, bikin kaget saja dech."
"Maafkan papah ya, hanya saja ad hak yang ingin papah bicarakan sebentar saja," pinta Broto.
"Ada apa sih, pah?" tanya Bagas memicingkan alisnya.
"Kalian duduklah dulu, biar kita nyaman bicaranya."
Perkataan Broto membuat Ais dan Bagas serentak berubah raut wajahnya menjadi tegang.
"Ada apa sih, pah? jangan buat kita panik seperti ini?" Bagas semakin penasaran dengan sikap Papahnya yang tak juga bicara tapi hanya diam saja.
"Bagas-Ais, kami ingin mengajak makan malam."
"Astaga, papah! aku pikir papah akan bicara apa, ternyata malah seperti ini? hampir aja jantungku di buat tak berdetak," rajuk Bagas.
"Hhe.....kena prank kan? makanya kalau mau bermesraan itu ingat tempat. Masa iya di ruang tamu?"
Setelah mengatakan hal itu Broto berlalu pergi sembari terus saja terkekeh.
"Noh kan ngacir begitu saja setelah berhasil membuat jantung ini deg-degan. Nggak ngomong juga mau makan malam hari ini atau besok atau lusa. Yang lebih menyebalkan lagi, aku jadi gagal dech," ucap Bagas.
__ADS_1
"Gagal apanya, mas?" tanya Ais penasaran.
"Hhee nggak kok."
"Gagal mau nyosor bibirmu," batin Bagas senyam senyum sendiri.
"Mas, apa kamu waras?" tiba-tiba Ais meletakkan punggung tangannya di kening Bagas.
"Haduh.... kalau aku nggak waras memangnya kamu mau menikah denganku?"
"Habisnya dari tadi Mas Bagas senyam senyum sendiri, hingga aku meragukan kewarasanmu,'" Ais pun tertawa ngakak membuat Bagas merengut.
Begitulah keseharian Bagas dan Ais. Selalu saja ada yang membuat mereka tertawa ngakak. Sejak hubungan mereka di resmikan menjadi sebuah pertunangan, Ais pun tak canggung lagi jka main ke rumah Bagas.
Hanya saja Ais juga masih mengerti batasannya. Ia tidak seenaknya nyelonong sana sini.
Berbeda dengan kehidupan Rindi. Ia yang tak bisa apa-apa hanya bisa menghabiskan uang saja. Bekerja pun ia malas, setiap hari keluyuran dan bahkan sejak Papahnya di penjara, ia sering pulang pagi.
Bahkan rumah menjadi berantakan tak karuan sejak tidak ada Bi Asih.
"Apa lagi untuk mengepel atau menyapu. Lantai jadi berdebu seperti ini. Sadar ya aku sadar tak pernah bekerja apa pun. Mending aku main senang-senang dengan semua teman-teman aku."
Terus saja Rindi ngoceh sendiri karena pengaruh minuman keras. Padahal dulu ia sama sekali tidak pernah melakukan hal seburuk itu.
Tetapi sejak Papahnya di penjara, ia berani mencoba yang namanya minuman keras dan bahkan ia sudah masuk pergaulan bebas.
Ia kerap kali berhubungan dengan berganti-ganti pasangan. Tanpa ia berpikir dampak buruknya kelak. Yang ia rasakan saat ini kesenangan karena bebas melakukan apa pun tanpa ada larangan.
"Hem, Bagas. Kamu pikir cuma kamu pria yang ada di dunia ini? justru sejak aku memutuskan untuk tidak mengejar cintamu lagi. Aku malah lebih bahagia. Banyak pria mendekati aku, banyak pria yang suka padaku!"
"Kamu menolakku, tetapi mereka tidak. Aku dengan mudah mendapatkan pacar bahkan semua pacarku lebih tampan dari pada dirimu!"
Terus saja Rindi mengoceh tak karuan, ia benar-benar sudah hilang akal sehatnya. Ia melupakan papahnya yang ada di dalam penjara.
"Ada apa dengan Rindi, kenapa sudah satu bulan lebih aku ada di dalam penjara. Tapi tidak pernah sekalipun Rindi menjengukku? apakah dia baik-baik saja? aku menjadi tak tenang seperti ini, tapi tidak ada satu orang pun yang bisa aku mintai tolong untuk mencari tahu kabar Rindi."
__ADS_1
"Aku menyesal dulu bersikap sombong pada seluruh saudaraku, hingga di saat aku seperti ini tidak ada satupun yang datang kemari membesuk aku dan tanya kondisiku."
"Bahkan anak semata wayangku juga tak terlihat batang hidungnya sama sekali. Lantas bagaimana pula dengan perusahaanku ya?"
"Aku sudah berusaha menghubungi Rindi dengan telepon yang ada di lapas ini, tetapi nomor ponsel Rindi tak bisa di hubungi lagi. Tega sekali kamu sama Papah. Ataukah terjaga hal buruk padamu?"
Terus saja Setyo melamun memikirkan Rindi, hingga tak terasa air matanya meleleh begitu saja. Padaham selama ini ia begitu memanjakan Rindi. Segala yang di inginkan anaknya selalu saja ia berikan.
Tapi kini seperti ini balasan seorang anak terhadap ayahnya.
Pagi menjelang, Rindi pun merasakan lapar yang teramat sangat. Ia memutuskan untuk mencari sarapan di sebuah restoran.
"Hem, kepalaku pening sekali. Tapi aku lapar, dan aku penasaran dengan sebuah restoran baru yang letaknya kebetulan tak jauh dari sini. Aku akan ke sana sekarang juga."
Rindi melajukan mobilnya menuju kesebuah restoran mewah yang sedang viral dan terkenal.
Restoran yang selalu buka pagi sekali. Hingga jam delapan pagi saja sudah banyak pembeli.
"Wauw, baru jam delapan pagi tapi sudah seramai ini? hebat sekali pemilik restoran ini dalam mengelola nya," batin Rindi
Ia lekas mengambil tempat duduk yang strategi dan langsung memesannya.
" Hemm enak banget ternyata masakannya. Di samping makanan enak, dan juga pelayanan rame serta cepat dalam penyajian. Harga pun rusak terlalu mahal," batin Rindi memuji Restoran itu.
Hingga selesai sarapan di restoran itu, ia pun penasaran dengan pemilik restoran itu.
"Mba, aku bisa minta tolong nggak?" tanya Rindi pada salah satu waiters yang melintas.
"Ada apa ya, nona?" tanyanya ramah.
"Bisakah aku bertemu dengan pemilik restoran ini?" pinta Rindi.
"Bisa, nona. Kebetulan Non Aisyah baru saja datang," ucapnya lagi.
"Hem, namanya Aisyah? bisakah mba penggilkan ia kemari sebentar saja?" pinta Rindi.
__ADS_1