Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah

Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah
Kembali Bertemu Lagi


__ADS_3

Pada saat Bagas sedang menunggu jawaban dari pertanyaan dirinya pada Ais. Ponselnya tiba-tiba berdering yakni ada panggilan dari sekretarisnya.


"Tuan Bagas, anda sedang ada dimana? meeting mau di lanjut atau tidak, karena para klien sudah mulai resah menunggu anda."


"Baiklah, tolong sampaikan maaf pada para klien. Tadi awalnya saya keluar sejenak untuk membuat kopi, tetapi tiba-tiba perut saya mules. Ini sedang menuju ke ruangan meeting."


"Baiklah, Tuan. Akan saya sampaikan pada para klien."


Saat itu juga keduanya mematikan panggilan telepon. Dan pada saat Bagas akan berpamitan pada Ais, ia sudah tidak mendapati adanya Ais.


"Ais kita lanjut... aduh, ngacir dia."


Bagas langsung menuju ke ruangan khusus rapat, sementara Ais saat ini sedang mulai bekerja mengepel satu ruang ke ruangan yang lain.


Akan tetapi ia terus ingat wajah ibunya yang minta maaf hingga tak terasa air matanya bercucuran.


"Kamu itu memang ibu yang telah Mengandung dan melahirkanku. Tapi kamu bukan ibu yang merawatku!"


"Justru ayah yang berjuang mati-matian, dia berperan dua sekaligus yakni menjadi seorang ayah dan seorang ibu. Bahkan bukan hanya aku yang di besarkan ayah, melainkan si kembar pula."


"Ayah benar-benar berjuang sendirian, ia malah tak egois. Tak pernah memikirkan diri sendiri. Hidupnya benar-benar di gunakan untuk merawatku dan si kembar."


"Dia bahkan tak menikah lagi dari ibu pergi begitu saja hingga kini. Jika pria lain yang di posisi ayah, pasti sudah tak sanggup melakukan hal besar ini.'


"Kasih sayang ayah begitu luar biasa pada kami. Makanya aku ikhlas jika tidak kuliah tapi bantu mencari nafkah."


"Apa yang aku lakukan tak sebanding dengan perjuangan ayah dalam membesarkan aku dulu."


Terus saja Ais bergumam di dalam hati dengan sesekali mengusap air matanya yang tak jua surut.


"Untuk apa pula aku menangisi wanita seperti dia yang tidak punya hati nurani sama sekali. Masa iya punya tiga anak tapi ia tidak peduli sama sekali hanya memikirkan kekayaan semata!" batinnya kesal.

__ADS_1


Yang ada di hati Ais untuk saat ini dan selamanya hanyalah ayahnya saja, karena dia tahu betapa besar perjuangan ayahnya dalam membesarkan dirinya dan kedua adiknya yang kembar.


Bagas juga masih penasaran saja dengan kedatangan Marlina ke kantor secara tiba-tiba, namun dia mencoba menepis rasa itu supaya meeting berjalan dengan lancar.


Tak terasa waktu berjalan begitu cepatnya sudah menuju siang hari menjelang makan siang. Bagas segera mencari keberadaan Ais untuk mengajaknya makan siang bersama.


"Ais, ayo kita makan siang. Aku ingin sesuatu yang beda kali ini. Ayo dong senyum, jangan cemberut terus seperti itu. Di mana Ais yang aku kenal waktu itu, yang suka sekali mengusiliku."


Bagas menaik turunkan alisnya seraya mencolel hidung Ais yang mancung.


Ais hanya mengulas senyuman tanpa berkata apapun, dia pun melajukan mobilnya keluar dari pelataran kantor tersebut.


"Aden mau makan di mana?" seketika itu barulah Ais bertanya.


"Aku ingin makan di sebuah tempat yang suasananya cukup romantis tapi juga udaranya sejuk dingin. Kamu tahu kan tempatnya?" tanya Bagas memastikan.


"Maaf Den, aku tidak tahu tempat itu karena aku tidak pernah keluyuran kemana-mana hanya bekerja dan bekerja saja," ucapnya singkat.


"Sepertinya aku ingin bertanya sesuatu pada Ais, tapi aku lupa apa yang ingin aku tanyakan ya?" Bagas bertanya-tanya sendiri di dalam hati.


"Sudahlah nanti juga ingat kembali, sekarang aku ingin makan di tempat yang suasananya romantis dulu," batinnya seraya mengulas senyuman.


Bagas memberitahu di mana tempat yang ia maksud tadi pada Ais. Ia pun melajukan mobilnya ke arah sebuah tempat makan yang barusan Bagas katakan padanya.


Hanya beberapa menit telah sampai di tempat makan tersebut tetapi suasana Ais kembali menjadi bertambah sedih. Karena di tempat itu dia harus bertemu dengan seseorang yang menorehkan luka begitu dalam padanya. Seseorang itu tak lain adalah Marlina.


Ais melihat Marlina bersama Setyo dan Rindi.


"Kenapa di saat aku begitu membenci ibuku, malah aku harus bertemu dengannya lagi," batin Ais menatap tak suka ke arah meja di mana saat itu ada Marlina.


Rindi pun tak sengaja melihat adanya Bagas.

__ADS_1


"Mah-pah, ada Bagas di sana bagaimana kalau kita gabung saja sama Bagas?" saran Rindi.


"Untuk apa, Rindi? mending di sini saja, Papah malu jika bertemu dengan Bagas. Papah masih ingat ulahmu waktu itu," ucap Setyo ketus.


"Ayolah pah-mah, siapa tahu saja jika aku bisa kembali pada Bagas itu juga akan membawa keberuntungan buat papa kan?" rengek Rindi membujuk orang tuanya.


"Keberuntungan apa maksudnya?" tanya Setyo pura-pura tak tahu.


"Bukannya Papah tahu jika Bagas itu seorang pengusaha sukses di sebuah perusahaan yang sangat besar," ucap Rindi.


"Iya juga sih, jika Rindi benar-benar bisa mendekati Bagas. Aku juga bisa ikut untung," batin Setyo.


Hingga pada akhirnya Setyo luluh dia pun menuruti keinginan rindi untuk pindah meja satu meja dengan Bagas. berbeda dengan Marlina ya sebenarnya tidak setuju karena ia melihat ada Ais bersama dengan Bagas. Ia tak khawatir tak bisa menahan air matanya jika melihat Ais. Akan tetapi ia tak bisa membantah kemauan suaminya.


"Nak Bagas, bagaimana kabar? kita bertemu kembali di sini, bolehkan sekiranya kami bergabung untuk makan siang bersama?" sapa Setyo menyunggingkan senyumnya.


Sontak Bagas melirik ke arah Rindi, Marlina, dan Setyo. Pada saat Bagas akan mengatakan sesuatu, tiba-tiba Ais berkata terlebih dahulu.


"Den Bagas, sebaiknya saya menunggu Aden di mobil saja ya." Ais beranjak bangkit dan akan pergi, namun Bagas mencekal lengannya.


"Aku nggak izinkan, aku ke sini karena ingin makan siang denganmu," ucapnya hingga Ais mengurung niatnya untuk pergi.


"Oh iya, maaf ya Om Setyo- Tante Marlina. Saat ini saya hanya ingin makan berdua saja dengan kekasih saya," ucap Bagas menolak keinginan Setyo untuk bergabung.


Setyo merasa sangat terhina dengan penolakan dari Bagas, ia pun mengepalkan tinjunya.


"Sombong sekali kamu, mentang-mentang sekarang ini kamu lebih sukses dari saya!" bentak Setyo seraya menggebrak meja di depan Bagas.


Brakkk....


Hal ini tentu saja membuat semua yang ada di sekitarnya kaget dengan ulah Setyo. Bagas tak merespon dengan berbalik marah, ia justru meraih tangan Ais dan membawanya pergi dari meja itu. Ia memilih meja lain yang jaraknya jauh dari keluarga Rindi.

__ADS_1


__ADS_2