Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah

Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah
Pergi Ke Luar Negeri


__ADS_3

Setelah mendengar umpatan yang keluar dari mulut Setyo akhirnya Marlina memutuskan untuk pergi saja dari lapas itu dan ia berniat ke lapas khusus wanita untuk menjenguk Rindi.


Bagaimanapun Rindi adalah anak yang telah di rawat sejak kecil oleh Marlina. Hingga ia tak tega jika tak menjenguknya.


"Mah, apakah papah masih di tahan ataukah sudah bebas?" tanya Rindi penasaran.


"Bebas dari mana, dan siapa pula yang membebaskannya?" Marlina malah balik bertanya.


"Bukannya papah meminta mamah untuk membantu membujuk Bagas mencabut tuntutan terhadap dirinya?" ucap Rindi memicingkan alisnya.


"Kamu tahu dari mana?" kembali lagi Marlina bertanya.


'Mah, kenapa tak menjawab apa yang aku tanyakan? malah dari tadi mamah bertanya terus?" protes Rindi.


"Mamah sudah menemui Bagas, tapi ia tak mau berbail hati mencabut laporannya hingga terpaksa papahmu juga harus menanggung akibat dari perbuatan yang kamu lakukan," ucap Marlina ketus.


"Heran juga aku, mah. Kenapa Bagas begitu cintanya pada Ais yang hanya gadis kampung dan tak punya apa-apa. Apa ia tak mau jika semua orang tahu, tentang percintaannya itu dengan wanita yang tak sederajat dengannya," ucap Rindi.


"Rindi, apa kamu nggak bisa berhenti menghina pacar Bagas? seharusnya kamu koreksi diri. Kamu ini memang berpendidikan tinggi, tapi sikap dan perbuatanmu justru mencerminkan gadis kampung tak berpendidikan," sindir Marlina.


"Kok mamah malah seperti ini padaku? kenapa dari awal mamah selalu saja membela Ais? heran dech aku sama mamah," protesnya kesal.


"Rindi, kamu itu bukan anak kecil lagi. Seharusnya kamu bisa bersikap dewasa bukanalsh kelakuan masih saja seperti anak ABG. Berubshlsh selagi masih di ero waktu san kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik. Supaya jalan hidupmu enak," Marlina terus saja menasehati Rindi.

__ADS_1


"Mah, jika mamah datang hanya untuk ceramahi aku. Sebaiknyaamsh pulang saja dech, karena hanya membuat telingaku bising," usir Rindi.


"Jadi kamu usir mamah,. baiklah Rindi. Mamah yakin suatu saat nanti kamu akan menyesal dan jika saya itu tiba, penyesalan itu hanyalah sia-sia saja."


"Mamah akan pergi dan tak akan jenguk kamu atau papahmu lagi. Kalian ini memang sama, yakni sama-sama keras kepala dan mau menang sendiri, egois sekali."


Saat itu juga Marlina berlaku pergi dari hadapan Rindi. Ia benar-benar telak kecewa dan putus asa akan sikap dan tutur kata Rindi serta Setyo.


Dengan mata berkaca-kaca, Marlina berlalu pergi dari lapas tersebut. Entah apa arti dari perkataannya pada Rindi. Yang jelas saat ini Marlina sudah tak ingin lagi hidup diantara Setyo dan Rindi.


"Aku berkorban demi bisa hidup dengan Mas Setyo, tapi ternyata seperti ini. Anak yang aku rawat seperti anak kandung, juga sangat mengecewakan."


"Aku telah meninggalkan berlian, hanya demi batu kali seperti Mas Setyo dan Rindi."


"Ya Allah, sayangnya sudah tidak ada kesempatan bagiku untuk bisa memperbaiki segala kesalahan masa laluku. Jika seperti ini sebaiknya aku pergi sejauh mungkin."


Terus saja, Marlina menggerutu sepanjang perjalanan pulangnya. Dan sesampainya di rumah, ia pun mengemasi semua pakaiannya untuk ia benar-benar pergi dari rumah Setyo saat ini juga.


Ia berencana untuk pergi ke luar negeri untuk bekerja menjadi TKW. Karena kebetulan ia punya teman yang bekerja sebagai penyalur TKW ke Singapura.


Setelah acara berkemas telah selesai, ia pun melajukan mobilnya menuju kerumah temannya yang bekerja sebagai penyalur TKW ke Singapura.


"Lina, apa kamu serius ingin menjadi TKW? bukannya hidupmu sudah berkecukupan, untuk apa pula kamu kerja di luar negeri?" tanya Ika merasa ragu.

__ADS_1


"Kamu kan selama ini selalu ragu bagaimana kehidupan pribadiku karena aku selu cerita padamu bukan?" ucap Marlina.


"Iya, Lina. Aku masih ingat kok, segala cerita masa lalumu dan masa sekarangmu aku ingat semua. Apa kamu sudah mantap? bukannya kamu sudah bertemu dengan anak-anakmu? kenapa kamu tak mencoba bersabar dalam meluluhkan mereka dan mantan suamimu kembali?" ucap Ika.


"Nggak lah, Ika. Aku rasa sudah tak ada lagi kesempatan bagiku untuk bisa kembali pada mereka. Aku akan bekerja saja tetapi uang akan aku kirimkan untuk kebutuhan ketiga anakku," ucap Marlina sudah yakin dengan keputusan yang ia ambil.


"Ya sudah jika begitu maumu, aku akan bantu kamu untuk bisa mendapatkan majikan yang baik dan secepat nya kamu bisa terbang ke Singapura. Tapi kan ada satu persyaratan yang membutuhkan tanda tangan suamimu, lantas bagaimana?" tanya Ika bingung.


"Kamu nggak usah khawatir, aku bisa palsukan tanda tangan suamiku kok. Lagi pula anak dan suamiku yang sekarang tak membutuhkan aku. Tadi saja pada saat aku jenguk mereka, bukannya berterima kasih aku masih peduli."


"Tapi Mas Setyo malah marah-marah dan mengumpat serta mengusirku. Begitu pula dengan Rindi juga mengusirku hanya karena aku menasehatinya malah di bilang aku ini ceramah."


Mendengar apa yang dikatakan oleh Marlina, Ika iba juga padanya. Mereka bersahabat sudah sejak lama dari masa sekolah. Hanya saja sempat putus komunikasi sesaat dan belum lama ini mereka bisa bertemu lagi.


"Lina, dulu padahal aku iri padamu pada saat kamu menikah dengan Mas Lukman. Tapi kamu malah menyia-nyiakannya begitu saja. Kini penyesalanmu sudah tidak ada gunanya," batin Ika.


Saat itu juga, Marlina mengumpulkan segala syaraf untuk bisa bekerja di Singapura dengan bantuan dari Ika. Karena Ika benar-benar seorang penyalur TKW yang sudah terkenal profesional. Hingga hanya dalam waktu satu Minggu saja, Marlina sudah bisa terbang ke Singapura.


Kebetulan pada saat cek kesehatan atau medikal, tak di temukan satupun pe ysit yang di derita oleh Marlina. Hingga ia tak butuh proses lama untuk tinggal di penampungan. Bahkan selama satu Minggu ia btidak harus menunggu di penampungan. Cukup menunggu di rumah saja.


Satu Minggu tidak ada kabar dari Marlina, barulah Setyo dan Rindi kalsng kabut.


"Kenapa Marlina selama seminggu omi tidak pernah datang jenguk aku ya? apa ia marah padamu gara-gara terakhir jenguk aku berkata kasar padanya? ya ampun, padahal kita sudah hidup bersama begitu lamanua, tapi masa iya tak paham juga dengan sifatku ini?" batin Setyo mulai gelisah.

__ADS_1


"Mamah, kenapa nggak pernah jenguk aku lagi ya? padahal ini sudah seminggu. Masa iya mamah sudah tak sayang lagi dan tak peduli lagi padamu?" batin Rindi.


Ayah dan anak ini sama-sama gelisah memikirkan Marlina yang sudah satu Minggu lamanya tak menjenguk mereka. Karena Marlina sengaja pergi ke Singapura tak memberi tahu pada Setyo dan Rindi.


__ADS_2