Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah

Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah
Surprise


__ADS_3

Sementara saat ini Ais sedang bertugas di kantor Bagas. Ia sedang mengepel dari satu ruang ke ruangan yang lain. Pada saat dirinya sedang mengepel lobi kantor, datanglah Rindi.


"Oh....jadi selain kamu menjadi sopir juga menjadi cleaning service. Tapi gayanya sok ingin merebut hati Bagas majikanmu itu. Kini aku sangat yakin jika apa yang aku lihat waktu itu adalah rekayasa dari kalian berdua," ejek Rindi.


Ais sama sekali tak menghiraukan segala perkataan yang dilontarkan oleh Rindi dia terus saja sibuk dengan aktivitasnya mengepel lantai lebih kantor.


Rindi sangat kesal karena ucapannya tidak dihiraukan oleh Ais. Ia pun menghampiri Ais dengan niat untuk menyakiti Ais, tetapi kesialan sedang ada pada Rindu. Pada saat ia melangkah menghampiri Ais, tiba-tiba dia terpeleset terpelanting begitu saja hingga dia jatuh terduduk. Sepontanitas para karyawan yang melihat hal itu menjadi tertawa terbahak-bahak. Rindi pun malu, tapi pada saat ia akan bangkit dari jatuhnya ia merasa bagian pinggang belakang terasa sakit sekali sehingga susah sekali untuk bangun.


"Heh, kenapa kamu diam saja! cepat kemari tolong aku," teriak Rindi meminta tolong pada Ais.


"Makanya jadi orang itu jangan punya niat yang jahat, akhirnya kena tulah sendiri kan?" ejek Ais tak menghiraukan Rindi.


"Heh, cepat kemari dan tolong aku! Jia aku bisa bangun sendiri pasti sudah aku lakukan, pinggangku sakit sekali," rengek Rindi dengan mata berkaca-kaca hendak menangis.


"Bangun saja sendiri, manja amat sih."


Ais tetap tak menolong Rindi.


Tiba-tiba Rindi melempar Ais dengan sendal hellsnya dan hampir saja mengenai wajahnya, akan tetapi secepat kilat Bagas menangkap sendal tersebut.


"Rindi, apa-apaan sih kamu! melempar sendal sembarangan! katanya kamu ini lulus kuliahan di LA, tetapi tingkahmu itu seperti anak SD, dasar memalukan!" bentak Bagas melotot pada Rindi.


"Sayang, kamu tak apa-apa kan?" tanya Bagas pada Ais, dia tak sadar dengan apa yang dia katakan hingga mengundang perhatian semua karyawan yang ada di kantor itu yang kebetulan sedang melintas.


Belum juga Ais menjawab, Rindi telah berkata dengan lantangnya.


"Bagassssss.... ia yang telah membuatku terjatuh malah kamu khawatirkan. Sedangkan aku yang terjatuh seperti malah tak kau hiraukan sama sekali. Cepat tolong aku, Bagas....," teriak Rindi dengan lantangnya.


Namun Bagas tak mau menolong Rindi, justru dia memerintah salah satu security kantor tersebut untuk menolong Rindi.


"Aku tidak mau ditolong olehmu bukan level tahu, pergi sana!" Rindi menolak pertolongan security, hingga security tersebut pergi sesuai dengan permintaannya.


"Dasar sombong, makanya Den Bagas tidak meresponnya sama sekali!" gumam security masih bisa di dengar oleh Rindi.


"Ngomong apa kamu, dasar security kere!" bentak Rindi lantang.

__ADS_1


"Sayang, sebaiknya kamu tak usah terlalu cape. Sekarang kamu ikut saja denganku, karena aku ingin memberimu sesuatu." Bagas mengambil paksa lap pel yang ada di tangan Ais.


Dan ia menggandeng tangannya melangkah bersama ke ruang kerja Bagas.


"Den, aku belum selesai kok kerjaaanya," ucap Ais.


Sementara Rindi semakin kesal melihat sikap Bagas yang begitu mesra pada Ais. Bahkan kini ia sendiri di lantai lobi kantor tanpa ada yang mau menolongnya.


"Sialan, kenapa juga tidak ada yang mau mendekat menolongku. Padahal aku benar-benar tak bisa bangun sendiri karena pinggangku begitu sakit," keluh kesah Rindi.


Pada akhirnya Ia dengan susah payah bangun sendiri. Dan ia mencoba melangkah untuk mengambil salah satu sendal yang ia lempar ke arah Ais. Tapi ia harus alami kesialan lagi, untuk kedua kalinya ia terpeleset dan terjatuh duduk di lantai lagi.


"Aaahhhh....sakit ..." teriaknya.


Hingga pada akhirnya ia benar-benar tak bisa bangun, dan dengan ponselnya sendiri ia menelpon ambulance untuk datang ke kantor Bagas.


Rindi di bawa ke rumah sakit dengan ambulance tersebut. Sementara Ais sedang mendapatkan kejutan manis dari, Bagas.


"Ais, duduklah."


Ais pun duduk sesuai perintah Bagas. Lantas Bagas mengambil sesuatu dari laci mejanya.


Bagas memberikan kotak perhiasan terhadap Ais.


"Ini apa, den?" tanya Ais tak membuka kotak itu hanya menunjuknya dengan jari telunjuknya.


"Bukalah, biar kamu tak penasaran," pinta Bagas hingga akhirnya Ais membuka kotak perhiasan tersebut.


"Den, aku nggak layak terima ini. Maaf ya, den. Aku nggak bisa menerimanya."


Ais menyodorkan kotak perhiasan itu ke hadapan Bagas.


"Ais, aku memaksamu untuk menerima ini jika tidak...


"Jika tidak aku di pecat iya kan? lagu lama, bisanya hanya mengancamku terus," ucap Ais memotong pembicaraan Bagas.

__ADS_1


"Nah itu, kamu pintar sudah hapal apa yang akan aku katakan. Biar aku yang memakaikannya padamu."


Bagas mengambil sebuah kalung yang ada di kotak perhiasan tersebut dan melangkah perlahan tepat di belakang Ais yang sedang duduk. Bagas pun memasangkan kalung tersebut di leher jenjang, Ais.


"Tuh kan, kamu tambah cantik jika memakai perhiasan ini. Next pasti aku belikan lagi yang lain ya."


Bagas sangat terpesona melihat Ais yang begitu cantik mempesona, sedangkan Ais hanya bisa tertunduk malu karena tatapan Bagas begitu menusuk jantung Ais.


"Terima kasih ya, den," ucap Ais masih dengan posisi tertunduk.


"Kok ucap terima kasihnya sama meja, bukan sama aku?" goda Bagas terkekeh.


"Maksud Aden apa ya?" tanya Ais menengadahkan wajahnya.


"Nah, sekarang coba kamu ucap kata terima kasihnya dengan menatapku bukan menunduk menatap meja." Bagas menaik turunkan alisnya.


"Hhheee Aden bisa saja, terima kasih ya den," ucap Ais seraya tersenyum tersipu malu.


"Iya, sayangku."


"Den, aku kerja lagi ya. Nggak enak dengan karyawan yang lain kalau aku nggak kerja lagi," pamit Ais.


"Iya, sayangku. Tapi yang hati-hati jangan ceroboh kerjanya," Bagas menasehati.


"Baiklah, den. Pasti aku akan hati-hati kok, dan sudah nggak ceroboh lagi."


Saat itu juga Ais bangkit dari duduknya akan tetapi oadasaat ia akan melangkah malah kakinya tersandung kaki kursi dan hampir saja ia terjatuh tetapi Bagas lekas berlari kecil menangkap tubuh Ais.


Hingga Ais pun terjatuh dalam pelukan Bagas, dengan posisi Bagas memuk pinggang Ais. Sejenak keduanya saling berpandangan satu sama lain tanpa berkedip.


Ais pun lekas bangun perlahan dari pelukan Bagas," terima kasih ya den."


"Iya, sayang. Baru saja di ingatkan supaya jangan ceroboh eh begini kan,"ucap Bagas terkekeh.


"Heee itulah Ais, den. Penuh dengan kejutan," ucap Ais terkekeh pula.

__ADS_1


Kini Ais benar-benar melangkah keluar dari ruang kerja Bagas. Ia pun kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karena Bagas mengajaknya untuk ke ruang kerjanya.


Sembari bekerja, sembari sesekali senyam-senyum sendiri.


__ADS_2