Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah

Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah
Mulai Balas Dendam


__ADS_3

Hingga pagi hari menjelang seperti biasa pasti Bagas selalu saja datang untuk sarapan di restoran Ais. Semenjak Ais mengelola sebuah restoran, hampir setiap hari dari sarapan, makan siang hingga makan sore Bagas ia lakukan di restorannya.


"Mas Bagas, ada yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Ais pada saat menemani Bagas sarapan.


Belum juga Ais mengatakan kembali apa yang ingin ia katakan tiba-tiba ponsel Bagas berdering.


Kring kring kring


"Sayang sebentar ya, aku angkat telepon dulu nggak apa-apa kan ngomongnya nanti dilanjut lagi?" Bagas pun menerima panggilan telepon tersebut.


"Ya halo pak, bagaimana?"


"Nak Bagas, saya sudah ada di lobi kantor. Apakah anda bisa mempercepat perjalanan kemari, karena saya juga ada urusan yang lain yang harus cepat di selesaikan juga."


"Oh baik pak, saya akan segera ke kantor sekarang juga tolong bapak jangan pergi dulu karena saya sedang OTW ke kantor."


Saat itu juga Bagas mematikan panggilan telepon dari salah satu klien barunya.


"Sayang, aku minta maaf ya. Aku harus segera pergi ke kantor karena salah satu klien baruku saat ini sudah menunggu di lobi kantor. Kebetulan klienku yang satu ini orangnya agak kurang sabaran. Jadi aku harus ke kantor sekarang juga. Tolong jangan marah ya, pembicaraan kita lanjut nanti lagi."


Saat itu juga Bagas menghentikan sarapannya seraya tak lupa mencium kening Ais.


"Iya mas hati-hati ya di jalan," pesan Ais.


Dengan langkah yang tergesa-gesa Bagas langsung menuju ke mobilnya dan langsung melajukannya menuju ke kantor.


Sejak Ais tak bekerja menjadi sopir pribadinya, Bagas lebih suka mengemudikan mobil sendiri karena lebih leluasa dan lebih nyaman untuk bergerak ke sana kemari tidak harus menunggu sang sopir datang terlebih dahulu.


"Giliran aku yang akan memulai pembicaraan tentang pernikahan ada saja halangannya," gerutu Ais di dalam hatinya.


"Kasihan juga Mas Bagas, sarapannya baru beberapa suap sudah ditelepon oleh salah satu kliennya," batinnya lagi seraya membereskan sarapan Bagas.

__ADS_1


Tak berapa lama kemudian Bagas telah sampai di kantornya dan ia segera menemui salah satu klien barunya yang saat ini sedang menunggunya di lobby kantor.


"Maafkan saya ya pak, jika agak terlambat datangnya karena kebetulan jalanan agak sedikit macet." Bagas menangkupkan kedua tangannya seraya tersenyum kepada kliennya itu.


"Iya Nak Bagas tak apa-apa," ucapnya menyunggingkan senyum keterpaksaan.


Saat itu juga Bagas mengajaknya ke ruangan khusus pertemuan. Dan mereka pun langsung membicarakan kerja sama mereka hingga berjalan satu jam lamanya barulah klien barunya tersebut berpamitan pulang.


"Hem, lega rasanya jika klien sudah pulang. Kini tinggal aku interview karyawan baru untuk bekerja di bagian sekretaris menggantikan posisi Rona yang resign karena punya baby," gumam Bagas.


Beberapa saat kemudian setelah Bagas menunggu di ruang kerjanya, datanglah beberapa calon pelamar kerja untuk menjadi sekretaris di kantor Bagas.


Satu persatu Bagas melakukan interview terhadap para pelamar tersebut dengan sangat teliti melihat CV masing-masing pelamar. Hingga pada akhirnya ia pun telah menemukan satu pelamar yang menurutnya sangat cocok untuk menggantikan posisi sekretarisnya telah resign dari kantor tersebut.


"Kamu saya terima kerja di sini sebagai seorang sekretaris. Apakah kiranya kamu bisa langsung bekerja di sini, Risa?" tanya Bagas.


"Alhamdulillah, terima kasih Pak Bagas. Saya siap mulai bekerja sekarang juga," ucap Risa dengan sangat antusianya.


Saat itu juga Bagas menelpon ke ruang kerja salah satu asisten pribadinya untuk segera datang ke ruang kerjanya.


"Roy, ini Risa yang akan menggantikan posisi Rina. Tolong kamu antar dia keruang kerjanya, dan ajari apa saja yang harus dia kerjakan sebagai seorang sekretaris," perintah Bagas.


"Baiklah, pak."


Saat itu juga Roy mengajak Risa melangkah keluar ruang kerja Bagas dan menuju ke ruang kerja seorang sekretaris. Di ruangan itu Roy mengajari Risa dengan sangat sabar dan pelan-pelan hingga hanya dalam waktu sebentar saja, Risa sudah paham apa saja yang harus ia kerjakan.


Sementara saat ini Bagas sedang melamun sendirian di ruang kerjanya.


"Tadi Ais mau ngomong apa ya? gara-gara klien baruku yang orangnya tidak sabaran itu hingga aku tak merespon apa yang akan di katakan oleh Ais."


"Jika aku kembali ke restoran juga percuma karena tanggung juga aku sudah ada di kantor. Nanti saja dech jika menjelang makan siang, akan aku tanyakan perihal tadi pagi apa yang ingin ia katakan."

__ADS_1


Bagas pun kini fokus dengan semua berkas yang ada di meja kerjanya. Ia cek satu persatu berkas tersebut dengan sangat teliti supaya tidak ada satu kesalahan ataupun satu berkas yang terlewati.


Sementara di ruang khusus sekretaris saat ini Risa sedang mengirimkan chat pesan kepada seseorang.


[Om Setyo, saat ini aku sudah berhasil masuk ke dalam kantor Bagas. Dan aku sudah di terima menjadi seorang sekretaris.]


Drt drt drt drt drt drt..


Satu chat pesan masuk pada nomor ponsel Setyo, ia pun lekas membacanya dan bahkan langsung membalasnya dengan senyuman sinisnya.


[Bagus, untuk awal kamu kerja jangan melakukan hal yang mencurigakan. Tetapi jika sudah beberapa hari bekerja dan kamu sudah hapal apa saja tugasmu sebagai seorang sekretaris. Segera kamu laksanakan tugasmu ya, ingat harus hati-hati dan penuh perhitungan jangan lengah dan jangan ceroboh.]


Chat pesan tersebut langsung terkirim ke nomor ponsel Risa.


[Siap, om.]


"Lihat saja Bagas, pembalasanku atas ap yang telah kamu lakukan padaku dan Rindi. Bahkan karena ulahmu juga aku harus kehilangan istriku," gumam Setyo tersenyum sinis.


Ternyata Setyo merasa sakit hati pada saat dirinya dan Rindi dimasukkan ke dalam penjara oleh Bagas.


Setyo sengaja memerintah keponakannya yakni Risa untuk membantunya membalaskan dendam pada Bagas.


Risa adalah salah satu keponakannya dari adik kandungnya Setyo. Risa tak bisa menolak permintaan Setyo karena ia merasa berhutang budi padanya.


Karena sejak Ayah Risa meninggal dunia pada saat Risa masih ada di dalam kandungan, Setyolah yang selalu membantu membiayai kehidupan Risa dan ibunya. Apalagi saat ini kondisi ibunya sedang sakit keras, Setyo pulalah yang membayar biaya rumah sakit ibunya. Makanya Risa tak bisa menolak permintaan Setyo karena jika ia menolak, Setyo akan menghentikan dalam membantu Risa membayar biaya rumah sakot ibunya.


Bahkan Setyo juga mengancam ingin meminta kembali semua uang yang telah ia keluarkan untuk membiayai kehidupan dirinya selama dalam kandungan ibunya hingga kini telah dewasa.


"Aku terpaksa melakukan hal ini, jika tidak aku harus mengembalikan semua uang yang telah Om Setyo keluarkan untuk menghidupi aku dan ibuku. Itu tidak akan mungkin bisa aku berikan."


'Karena jumlah uangnya tidaklah sedikit, begitu banyak hingga tak mungkin juga aku mengembalikannya."

__ADS_1


Batin Risa seraya menghela napas panjang.


__ADS_2