
"Den, lepaskan tanganku!" pinta Ais kesal.
"Aku tidak akan melepasnya jika kamu gunakan untuk hal kasar padaku. Seharusnya kamu gunakan tanganmu ini untuk membelai wajahku ini."
Kembali lagi Bagas memeluk pinggang Ais seraya tangan yang satu tetap memegang tangan kanan Ais dan mengusapkan ke wajahnya sendiri.
Sejenak keduanya saling berpandangan satu sama lain tanpa berkedip. Beberapa detik kemudian, Ais melepaskan diri dari pelukan Bagas.
"Den, ayok kita kembali ke kantor sekarang juga."
Ais mencoba menutupi rasa malunya dengan lekas berjalan masuk ke dalam mobil.
Bagas hanya terkekeh pada saat melihat gelagat Ais.
"Ais, aku yakin saat ini kamu sudah bisa merespon perasaan cintaku ini. Aku tidak akan melepaskan dirimu begitu saja."
Batin Bagas seraya melangkah ke mobil pula.
Ais pun melajukan mobilnya arah kantor, dengan sesekali ia melirik ke arah Bagas yang tak juga beralih dalam menatap dirinya.
"Den, bisa nggak jangan menatapku terus?" Ais memberanikan diri menegur Bagas.
"Memangnya kenapa, Ais. Aku suka dengan wajah cantikmu yang polos dan natural." Bagas mengedipkan satu matanya ke arah Ais pada saat Ais menatap ke arahnya.
"Den, matanya kenapa? hati-hati loh, nanti keseleo nggak ada tukang urut mata," canda Ais terkekeh.
Bagas pun sontak ikut terkekeh.
Sementara Rindi sudah sampai di rumah, ia begitu kesal dan membanting pintu kamarnya hingga terdengar oleh Marlina.
"Kenapa sih, Rindi? ia terlihat begitu kesal, apakah karena peristiwa di cafe tadi?"
Marlina melangkah ke arah kamar Rindi, dan membukanya perlahan..
Marlina melihat Rindi sedang merebahkan badannya secara telungkup.
__ADS_1
"Rindi, kamu kenapa menutup pintu di banting? mamah sampai kaget mendengarnya," tegur Marlina.
"Mamah masih tanya kenapa, masa iya tak tahu apa pura-pura tak tahu?" Rindi membalikkan tubuhnya lantas ia duduk dengan kedua kaki di tekuk.
"Hem, kenapa ketus sama mamah?"
"Maaf ya, mah. Tapi aku benar-benar emosi pada sikap Bagas dan gadis sopir itu, mah!"
"Masa iya, di depan mataku mereka sengaja berciuman bibir. Mereka lakukan itu supaya aku percaya jika mereka benar-benar berpacaran."
Mendengar apa yang di katakan oleh Rindi, membuat Marlina mengernyitkan alisnya.
"Loh, berarti tadi kamu tidak langsung pulang? mamah pikir pada saat kamu berpamitan pulang terlebih dulu, kamu benar-benar langsung pulang?" tanya Marlina heran.
"Nggak, mah. Aku menemui Bagas dan melabrak gadis tengil itu! tapi aku malah semakin dibuat cemburu karena ulah mereka yang begitu mesra di depan mataku," ucap Rindi.
"Mah, bantu aku sih. Masa iya mamah nggak mau bantu anak kesayangan mamah ini?" rengek Rindi manja seraya menggenggam kedua tangan Marlina dan menatap sendu dirinya.
"Memangnya mamah bisa apa? kamu sudah tahu sendiri bagaimana reaksi papahmu. Di tambah lagi kelakuan Bagas tadi, pasti sudah tidak ada celah untukmu bisa dekat dengan Bagas," ucap Marlina.
Mendengar permintaan Rindi membuat Marlina terhenyak kaget.
"Nggak mungkin aku sengaja datang untuk melabrak anak kandungku sendiri. Apa lagi anak yang sudah aku sia-siakan selama ini. Aku sedang mencari cara bagaimana supaya bisa mendapatkan maaf dari Ais. Jika aku menuruti kemauan Rindi, yang ada Ais semakin benci padaku," batin Marlina.
'Mah, kenapa malah diam saja? pastinya mamah mau kan?" tegur Rindi mengagetkan lamunan Marlina.
"Tadi kamu bicara apa, Rindi? mamah di minta memberi pelajaran pada gadis itu? apa kamu nggak lihat, bagaimana mamah bisa memberikan pelajaran padanya. Sedangkan mamah ini bukan seorang guru."
Ucapan Marlina bukannya membuat Rindi terkekeh, tetapi ia semakin marah.
"Mah, aku bicara serius tetapi malah mamah bercanda seperti ini. Sama sekali tak lucu, mah!" ucap Rindi kesal.
"Mamah nggak sedang melucu ya, karena mamah bukan seorang pelawak," ucap Marlina ketus.
"Mah, kok malah mamah marah? ah sudahlah, biar aku selesaikan sendiri gadis sopir itu!" ucap lantang Rindi.
__ADS_1
"Rindi, sebaiknya kamu jangan pernah berniat jahat padanya. Jika tak ingin membuat masalah semakin runyam."
"Sebaiknya kamu lupakan Bagas dan cari pria lain saja. Berapa kali mamah menasehati mu seperti ini bukan?"
"Dengan sikap kamu seperti ini sama saja kamu merendahkan harga dirimu sendiri di hadapan, Bagas."
"Berpikirlah secara logika bukan dengan emosional seperti itu. Kamu seharusnya mengoreksi dirimu sendiri. Jangan menyalahkan orang lain."
Panjang lebar, Marlina menasehati Rindi. Akan tetapi ia tak mau mendengarkan nasehatnya.
"Mah, aku tak peduli dengan semua itu. Intinya aku sudah benar-benar , cinta pada, Bagas. Dan aku sama sekali tak rela jika Bagas dengan gadis lain, apa lagi gadis itu modelan seperti sopir pribadinya itu!" ejek Rindi yang membuat Marlina kesal akan tetapi tak bisa meluapkan kekesalannya itu.
"Sialan, Rindi malah dari tadi menghina Ais terus. Jika aku dulu tahu papahmu itu duda beranak satu, aku juga nggak mau menikah dengannya. Kini malah kamu yang sudah aku rawat mati-matian menghina anak kandungku!" batin Marlina kesal seraya mengepalkan tinjunya.
Ia pun beranjak pergi dari kamar Rindi karena tak ingin lebih lagi terbawa arus kekesalannya.
"Mah, mau kemana sih? aku kan belum selesai berkata malah mamah pergi," panggil Rindi namun tak di hiraukan oleh. Marlina.
Ia pura-pura tak mendengar panggilan dari Marlina, seraya terus saja melangkah pergi.
"Bagaimana ini, jika Mas Setyo dan Rindi tahu kalau Ais adalah anak kandungku? aku tak ingin mereka menyakiti Ais, apa lagi Ais sudah tersakiti sejak dulu olehku," batin Marlina.
Ia terus memikirkan Ais yang saat ini sudah ada di depan matanya. Ia ingin sekali memeluknya akan tetapi rasanya itu mungkin. Karena Marlina melihat binar kebencian dan kekecewaan pada wajah, Ais.
"Aku rasa Ais tahu siapa aku, hanya saja ia pura-pura tak tahu. Dan aku sangat melihat kebencian dan kekecewaan di matanya. Akankah selamanya aku tak dapatkan maaf dari anak-anakku dan mantan suamiku?"
"Akankah seumur hidupku ini menanggung rasa bersalah dan berdosa pada mantan suami dan anak-anakku?"
"Dulu aku pikir jika memiliki harta yang melimpah aku akan bahagia dan tak akan bisa merasakan kesedihan, tetapi ternyata aku salah."
"Justru aku sedih tat kala aku ingat ketiga anakku. Aku tak munafik ternyata aku tak bisa begitu melupakan ketiga anakku walaupun aku hidup mewah serba kecukupan."
"Ya Allah, aku sungguh bingung harus bagaimana?"
Terus saja Marlina bersedih memikirkan hal itu, hingga tak sadar air matanya meleleh untuk yang kesekian kalinya.
__ADS_1