Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah

Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah
Emosi


__ADS_3

"Oh jadi setelah kamu di campakkan pemuda itu, lantas kamu datang lagi kemari untuk mendekati Bagas lagi? kamu pikir kami akan setuju seperti tempo dulu? jangan mimpi ya!" ucap Broto ketus.


"Om, masa iya om dan tante nggak memberikan lampu hijau untukku bisa mendekati Bagas," rengek Rindi.


"Pulang sana, kami tak butuh bujukan darimu! Bagas sudah punya pacar, dan pacarnya jauh lebih baik dari pada kamu! jadi sudah tidak ada lagi istilah lampu hijau untukmu yang ada lampu merah!" bentak Eti kesal.


"Hah, pacar? yang benar saja, Tante. Memangnya ada sih gadis yang mau dengan Bagas yang sangat pemarah dan dingin?" ejek Rindi tak sadar membuat orang tua Bagas semakin kesal padanya.


"Pergi sana, dan jangan pernah tampakkan wajahmu lagi di depan kami ataupun Bagas!" usir Broto kesal.


"Om-tante, kenapa sih kalian kejam sekali? nanti pasti aku adukan kalian pada orang tuaku loh."


Saat itu juga Rindi pergi dari rumah Bagas dengan wajah masam. Seperginya Rindi, orang tua Bagas bisa bernapas lega.


"Mimpi apa kita semalam ya, pah. Di datangi oleh Rindi, yang sudah sempat menghilang selama satu tahun," ucap Eti menghela napas panjang.


"Iya, mah. Padahal orang tuanya saja sudah minta maaf pada kita. Bahkan saking malunya mereka, tak berani kan menghubungi kita lagi."


'Eh anaknya datang lagi dengan penampilan menjijikkan seperti itu. Masa iya pake rok tinggi banget kalau nungging pasti terlihat kan?"


"Mana mungkinlah aku akan kembali menyetujui si Rindi mendekati Bagas lagi."


Mendengar apa yang di katakan oleh suaminya, Eti pun ikut kesal. Ia ingat betul pada saat setahun yang lalu, dimana Rindi datang dengan bergelayut manja di lengan seorang pemuda.


"Iya, pah. Kira sudah cukup terhina dengan tingkah si Rindi. Mamah jadi ingat lagi, pah. Pada saat dulu Rindi terakhir kalinya datang dengan membawa pemuda dan dengan pamernya ia mengatakan pemuda itu lebih kaya lebih mapan dari Bagas. Lebih baik, romantis, dan bahkan katanya calon suami. Heleh, sekarang datang lagi ingin minta lampu hijau," ucap Eti kesal.


"Hem, jangan-jangan Rindi datang juga ke kantor Bagas ya mah?" tanya Broto.


"Pastinya, tapi mamah yakin Bagas tak akan meladeni gadis macam Rindi. Dulu saja sebelum ia berulah, Bagas juga sama sekali tak meresponnya apa lagi sekarang, pah. Jadi papah tak usah khawatir, toh saat ini Bagas sudah mulai jatih cinta pada Ais kan? kita harus terus semangati dan dorong Bagas supaya cepat bisa mendapatkan hatinya si Ais, pah," ucap Eti antusias.


"Pastinya dong, mah."


Orang tua Bagas sudah sangat mendukung anaknya untuk bisa dekat dengan Ais.


Sementara Rindi selama dalam perjalanan pulang, dia terus saja menggerutu di dalam hatinya.


"Apa iya, kalau Bagas sudah punya pacar? sepertinya ucapan Tante Eti bohong dech," gumamnya mencibir di sela mengemudikan mobilnya.

__ADS_1


Tak berapa lama, Rindi telah sampai di rumah. Ia langsung berbaring di pangkuan mamahnya yang kebetulan sedang duduk di ruang tamu bersantai.


"Mah...


"Kenapa, sayang?" mamahnya sibuk dengan majalahnya.


"Mamah, lihat anakmu ini dong. Majalahnya di tarok dulu," pinta Rindi.


"Ada apa sih, Rindi."


"Mah, bantu aku dong," rengeknya.


"Bantu apa sih?"


"Supaya orang tua Bagas mau memberikan lampu hijau padaku. Aku ingin bisa mendekatinya lagi, mah," pintanya memelas.


"Nggak, itu suatu permintaan yang nggak akan bisa mamah lakukan. Mau di taruh mana muka mamah? kamu sudah mencoreng nama baik mamah dan papah dengan tanpa diskusi dulu seenaknya memamerkan pacar barumu ke rumah Bagas!" ucap lantang mamahnya.


"Mah, itu kan dulu. Ini kan sudah satu tahun berlalu, ayoklah mah."


Jika sudah berhadapan dengan papahnya, Rindi angkat tangan karena sifat papahnya sangat keras.


********


Siang menjelang, Bagas sudah tak sabar lagi untuk ke rumah Ais menjenguk dirinya. Dia juga sudah memesan makanan untuk makan siang Ais dan si kembar.


"Pak, kita pergi sekarang ya ke rumah bapak."


"Baik, den."


Saat itu juga Pak Lukman melajukan mobilnya arah pulang. Akan tetapi dari arah berlawanan datang sebuah mobil yang hampir saja menabrak. Untung saja keduanya sama-sama saling cepat menginjak remnya.


Bagas dan Lukman keluar begitu pula pemilik mobil yang ada di hadapannya.


"Heh, pak kalau bawa.....


"Eh, Bagas. Maaf ya aku buru-buru, jadi hampir saja mau menabrak mobil mewahmu ini. Wah, kamu ternyata sudah ganti mobil keluaran terbaru ya? oh ya, btw mau makan siang ya?"

__ADS_1


Ternyata mobil yang akan menabrak tersebut adalah mobil milik Rindi.


"Pinggirkan mobilmu, aku mau lewat cepat!" bentak Bagas kesal.


Sementara mamahnya Rindi sudah tak sabar lagi berkali-kali melihat jam tangannya. Hingga ia pun memutuskan untuk keluar melerai pertikaian itu.


Mamahnya tak bisa melihat jelas lawan bicara Rindi karena tertutup oleh tubuh Rindi.


"Rindi, ayok ce....


Wanita paruh baya itu tercekat tak bisa melanjutkan bicaranya pada saat melihat seseorang yang ia kenal.


'Ya Allah, Mas Lukman?" batinnya.


"Marlina?" batin Lukman.


"Rindi, ayok kita lekas pergi sudah hampir terlambat nanti papahmu marah." Marlina meraih tangan Rindi supaya lekas masuk ke dalam mobilnya.


Sementara Lukman juga masuk ke dalam mobil Bagas.


"Ya Allah, sejak kapan Mas Lukman menjadi sopir pribadi Bagas? masa aku baru tahu?" batin Marlina.


"Kenapa di saat aku sudah tenang hidup dengan ketiga anakku, aku harus bertemu dengan mantan istriku?" batin Lukman.


"Den, maaf. Gadis tadi itu apakah...


"Pacar? bukan pak, dia bukan pacar aku. Dia itu anak dari sahabat papah aku," ucap Bagas tersenyum.


"Saya pikir pacar Aden karena sikapnya itu," ucap Lukman.


"Berarti gadis tadi adalah anak tiri Marlina. Dulu Marlina tega meninggalkan Ais dan si kembar demi seorang duda kaya raya. Walaupun dari awal ngakunya bujangan, tetapi usut punya usut duda beranak satu," batin Lukman.


"Heran, aku kok baru ketemu mereka ya? oh iya, aku lupa aku bekerja jadi sopir belum lama. Awalnya cuma jadi cleaning servis saja, lantas ada tawaran dari Den Bagas untuk menjadi sopir sekaligus. Makanya aku tak pernah bertemu dengan Marlina dan anak tirinya."


"Apa lagi, Den Bagas juga saat ini tinggal belum lama di rumah yang sekarang. Baru beberapa tahun, tapi masa iya Marlina tidak mau mampir ke rumah hanya untuk menjenguk anak-anak?"


"Hem, mereka sering bertemu pada saat Den Bagas masih tinggal di rumah yang lama," batin Lukman.

__ADS_1


__ADS_2