Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah

Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah
Keseruan Di Pangkalan Angkot


__ADS_3

Namun Lukman tak memberikan uang itu pada, Ais.


"Ais, ini kan rezeki jadi jangan di tolak. Memang benar ayah selalu mengajarkanmu tentang itu. Tapi sekarang kondisinya berbeda, kamu itu sedang sakit jadi menurutlah. Ayah tak ingin terjadi hal buruk padamu," ucap Lukman membuat Ais mengurungkan niatnya untuk meminta kembali uangnya.


"Hem, ya sudahlah."


*************


Pagi menjelang, Ais sengaja tak pergi narik pagi-pagi. Tetapi dia menunggu untuk ayahnya berangkat terlebih dahulu baru dia akan pergi untuk narik angkot .


"Ayah-Ade-Ado, ayok sarapan dulu. Kakak buat nasi goreng kesukaan


kalian ini." Teriak Ais seraya menata nasi goreng di meja makan.


Beginilah kegiatan Ais sejak dia masih berusia belia, dia sudah terlatih mengerjakan semua pekerjaan rumah tanpa ada keluhan sedikitpun. Dari Ais di tinggal ibunya, dia pun menjadi gadis yang sangat mandiri. Bahkan dia menggantikan posisi ibunya dengan mengerjakan tugas rumah tangga dari memasak dan lain sebagainya.


"Hemmm... wanginya, Ade-Ado. Ayok kita sikat habis nasi goreng ini," ucap Lukman begitu antusiasnya.


"Jangan dong, sisain dikit kek untuk aku," ucap Ais melirik sinis pada Lukman.


"Hhee, lihat tuh wajah Mbak kalian. Langsung sinis gitu dech sama ayah."


Begini situasi kebersamaan di rumah Ais. Selalu hangat dan penuh dengan canda tawa bukan hanya di pagi hari tapi juga pada saat jam-jam makan lainnya.


Beberapa menit kemudian, setelah selesai sarapan. Si kembar berangkat ke sekolah, dan ayahnya berangkat ke rumah Bagas.


"Ais, ayah berangkat kerja ya. Kamu istirahat di rumah nggak boleh keluyuran loh ya. Awas kalau kamu ketahuan narik angkot, ayah jewer telinganya," ancam Lukman.


"Ok, boskuh. Hati-hati ya Daddy sayang." Canda Ais seraya mencium punggung tangan ayahnya.


Seperginya ayahnya, Ais langsung bersiap-siap untuk pergi ke rumah Juragan Wardi.


"Hem, ini baru aman. Aku sudah bisa pergi ke rumah Juragan Wardi untuk ambil angkotnya." Ais mengunci pintu rumahnya dan ia segera melangkah ke rumah Juragan Wardi yang kebetulan lain arah dengan rumah Bagas.


"Ais, kamu yakin mau narik angkot lagi?" Wardi ragu.


"Yakinlah, Juragan. Jika saya nggak bantu ayah lantas bagaimana saya bisa menyekolahkan si kembar yang sebentar lagi akan masuk SLTP," ucap Ais dengan sangat antusias.

__ADS_1


"Memangnya perutmu itu sudah membaik, kemarin saja kamu bilang terasa sakit kok."


"Juragan tak perlu khawatir, aku ini kuat tahan segala penyakit. Hhee Alhamdulillah sudah tak sakit lagi kok," ucap Ais meyakinkan Juragan Wardi.


Belum juga Juragan Wardi menyanggupi, Aan datang.


"Is, biar aku yang jadi keneknya ya. Jadi kamu tak usah cape bolak balik keluar angkot untuk menata para penumpang atau mencari penumpang," ucap Aan.


"Iya itu ide yang baik, Ais. Biarkan si Aan yang jadi kenekmu," Juragan Wardi setuju dengan saran anaknya.


"Hem baiklah, Juragan. Yang penting saya di izinkan narik angkot."


Saat itu juga Ais mengambil angkot yang biasa buat dia narik di temani oleh Aan. Ais melajukannya ke pangkalan ojek. Kebetulan masih pagi hingga masih banyak angkot yang berjejer menunggu jatah antrian penumpang.


Sejenak Ais dan Aan duduk diam, mendengarkan dua sopir angkot yang lain sedang bercerita yang membuat mereka terkekeh terpingkal-pingkal.


"Slamet, semalam aku kenalan loh sama cewe cantik banget saat aku di cafe," ucap Anjar.


"Terus, selanjutnya bagaimana?" tanya Slamet penasaran.


"Gila, dia ajak aku untuk kerumahnya dan dia ajak aku ke kamarnya. Dia tiba-tiba kok minta gituan," ucap Anjar.


"Tapi aku kesel tahu!"


"Lah kok kesel, bukannya senang ya?" ucap Slamet heran.


"Dengerin dulu dong ceritaku sampai selesai, baru kamu komentar," Anjar mulai sewot karena Slamet selalu saja memotong percakapannya.


"Iya dech, maaf."


Anjar pun melanjutkan ceritanya.


"Aku kesel banget, padahal itu cewe sudah siap mau aku gempur. Tapi baru juga aku buka celana, eh ada yang mengetuk pintu kamarnya. Dan aku ketakutan jadi aku lompat lewat jendela, tetapi aku nyangkut di sebuah pohon. Dan tak berani turun, aku malah menyaksikan hal yang menambah aku kesal."


"Ternyata orang itu adalah suaminya, dia sangat senang melihat istrinya sudah bugil mengira sudah siap akan di gempur olehnya. Tapi pada saat suaminya akan mematuknya dengan burungnya, suaminya mengatakan ingin buang air kecil."


"Jorokkk banget...tuh laki pipis di jendela dan tepat sekali air pipisnya kena di kepalaku."

__ADS_1


Belum juga Anjar selesai cerita, Slamet dan juga Ais serta Aan tertawa ngakak.


"Wahhhhh apes itu namanya..hhaaaa" Slamet ngakak.


"Bukan apes lagi tahu, kesalnya minta ampun pada saat aku melihat ke tanah. Ternyata itu pohonnya nggak tinggi, jarak hingga tanah cuma sepuluh centi."


"Aku sudah panik minta ampun karena aku pikir pohonnya tinggi jadi aku gelantungan, tahu gitu aku loncat saja terus pulang."


Mendengar apa yang di ceritakan oleh Anjar semua kembali ngakak.


"Lantas kamu pulang, bang?" tanya Aan penasaran.


"Niatnya aku pulang, pada saat aku merapikan celanaku dan bajuku. Eh tiba-tiba ada sesuatu terjauh ke kepalaku dari arah jendela yang ternyata itu adalah alat pengaman pria," ucap Anjar kesal.


"Hhaaa, makanya jangan gampang di ajak main wanita. Abang juga sih, istri orang mau di gempur," ledek Aan.


Sementara Ais hanya menggelengkan kepalanya, dia sudah terbiasa dengan cerita teman-teman angkotnya yang agak kurang baik.


Tetapi teman-teman sesama sopir angkot tak pernah kurang ajar pada, Ais. Mereka justru melindungi dan sangat baik pada Ais. Karena semua tahu bagaimana kehidupan Ais yang begitu pahitnya.


"Eh Anjar, kamu pulangnya bagaimana itu dengan kondisimu yang bau air kencing dan bau itunya si laki suaminya cewe kamu itu?" tanya Slamet penasaran.


"Pulang ya pulang sajalah, karena kebetulan tuh jendela mengarah ke jalan. Untung malam-malam, aku pulang langsung dech lari ke kamar mandi," ucap Anjar.


Begitulah keseharian Ais di pangkalan angkot, dia kerap kali mendengar cerita unik dan cerita dewasa para sopir angkot temannya.


Namun jika sedang cerita hal seperti itu, Ais hanya menanggapi supaya teman-temannya jangan mengulangi hal buruk itu lagi.


Sementara pada saat Pak Lukman akan melajukan mobilnya mobilnya, dia di sapa oleh Bu Eti dan Pak Broto.


"Pak Lukman, tunggu sebentar."


"Iya, nyonya besar ada apa ya?" tanya Lukman heran.


"Iya, mamah. Aku sudah siang loh, nanti telat sampai di kantor," ucap Bagas ketus.


"Sebentar saja kok, tak usah turun dari mobil juga. Tinggal jawab saja apa yang kami tanyakan," ucap Broto.

__ADS_1


"Pak Lukman, boleh kami minta nomor ponsel Ais?' tanya Eti.


Saat itu juga Pak Lukman memberikan nomor ponsel Ais tanpa berani bertanya untuk apa pada Eti maupun Broto.


__ADS_2