
Hati Marlina sedikit lega karena bisa bertemu dengan si kembar dan membantu melunasi biaya sekolah mereka.
"Aku cukup senang bisa bertemu dengan si kembar tetapi aku juga sedih karena aku dinyatakan telah mati oleh anak-anakku," gumamnya seraya mengemudikan mobilnya.
"Jika begini jadinya suatu saat nanti pasti si kembar juga akan marah padaku seperti Ais kalau mereka tahu bahwa aku ini ibu kandung mereka. Entahlah, aku kok jadi sakit kepala memikirkan hal ini?" batin Marlina seraya sesekali memijit pelipisnya.
Tak berapa lama dia telah sampai di rumahnya, akan tetapi dia langsung mendapatkan sambutan yang tidak baik dari suaminya.
"Mah, kamu dari mana pagi-pagi sekali sudah keluyuran? apa kamu lupa jika kamu itu seorang istri yang harus melayani segala kebutuhan suami dan anakmu, seenaknya saja kamu pergi tanpa pamit pula!" tegur Setyo ketus seraya berkacak pinggang.
"Maaf pah, aku hanya sekedar ingin refreshing di pagi hari. Bukannya udara pada pagi hari itu masih terasa sejuk segar dan belum terkena polusi sama sekali aku lupa untuk pamit," ucap Marlina berbohong.
"Alasan saja, pasti kamu bukan habis jalan-jalan! jika iya, kenapa lama sekali! kamu tahu, dengan kepergianmu itu segala kebutuhanku menjadi terbengkalai, padahal aku harus ke kantor pagi-pagi sekali karena ada meeting di pagi hari. Semuanya berantakan karenamu, dasar istri tak tahu diri dan tak becus dalam mengurus suami!"
"Awas saja jika sekali lagi kamu berbuat seperti ini! aku tidak akan segan-segan menghukummu dengan tidak mengijinkanmu memakai mobil! akan aku sita mobil dan aku biarkan kamu tetap berada di dalam rumah saja untuk tidak berkeliaran keluar rumah!"
Setelah mengancam Marlina, Setyo berlalu begitu saja masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya keluar pintu gerbang untuk berangkat ke kantor.
Tak berapa lama giliran Rindi yang tiba-tiba datang dengan marah-marah.
"Mah, ke mana saja sih aku kan mau pergi untuk mencari pekerjaan? semuanya aku lakukan sendiri biasanya kan mamah yang menyiapkan," oceh Rindi ketus.
__ADS_1
"Nggak anak, nggak papahnya sama saja. Bisanya hanya memerintah tidak ada yang bisa mandiri," batin Marlina kesal.
"Berbeda dengan Mas Lukman dulu, dia tak pernah memerintah, dia selalu membantu pekerjaan rumahku tanpa ada keluh kesah tanpa diminta atau di suruh. Bodohnya aku yang telah meninggalkan Mas Lukman hanya demi harta yang menyilaukan diriku," batin Marlina penuh penyesalan.
"Mah, kenapa diam saja sih? aku kan sedang bicara sama mamah, kenapa malah dicuekin seperti ini?" tegur Rindi ketus.
"Pendengaran mamah masih tajam, mamah tahu apa yang tadi kamu katakan. Kamu itu sudah dewasa bahkan sudah mengerti laki-laki, seharusnya kamu itu bersikap mandiri tidak tergantung pada mamah terus. Masa iya sudah sebesar ini segala sesuatunya harus disiapkan oleh mamah. Lantas bagaimana jika kamu telah bersuami kelak?" ucap Marlina ketus pula.
"Kok mamah ngomongnya nyolot seperti itu, bukankah sudah biasa itu tugas mamah, kenapa sekarang berubah jadi seperti ini? lagi pula jika kelak aku punya suami ya segalanya diurus oleh asisten rumah tangga, masa aku yang mengurusnya? aku ini beda sama mamah, mana mungkin aku mau di peralat oleh laki-laki, sorry saja,' ucap Rindi tersenyum sinis.
"Pokoknya mulai detik ini dan selamanya, kamu urus diri kamu sendiri. Dari pakaian, dan segala kebutuhannya. Belajarlah untuk mandiri, kamu itu bukan bayi atau anak kecil lagi yang harus selalu diurus oleh mamah. Apa gunanya kamu punya tangan dan punya kaki jika tidak dipergunakan untuk mengurus dirimu sendiri."
Setelah mengatakan akan hal itu, Marlina berlalu pergi begitu saja tanpa menghiraukan Rindi yang masih saja terpaku menatap kepergian dirinya.
"Aku selalu mandi disiapkan air oleh mamah, pakaian pun juga seperti itu. Aku tidak pede jika memilih pakaianku sendiri. Apalagi untuk soal makanan juga seperti itu, sebaiknya aku perintah saja bibi, yang untuk melakukan itu semua. Ia kan sudah digaji oleh papah, jadi biar sajalah," batin Rindi.
Rindi berniat untuk mencari pekerjaan, supaya dia bisa bebas bepergian karena jika tidak seperti itu papah nya akan melarang dia untuk sebentar-sebentar keluar dari rumah.
Rindi juga nggak ingin meminta pekerjaan di kantor papahnya karena dia akan terkekang, dia ingin bebas tak ingin di atur oleh orang tuanya.
Segala yang dia lakukan menurut kemauannya sendiri tanpa pikir panjang atau meminta persetujuan dari orang tuanya. Dia punya sikap buruk yakni keras kepala dan sangat egois. Dia hanya mementingkan dirinya sendiri tak pernah dia mementingkan urusan orang tuanya.
__ADS_1
Bahkan dia gadis yang sangat manja yang tergantung dengan Marlina dan tak bisa hidup mandiri.
Ini semua karena sudah didikan dari kecil. Ia sudah terbiasa di nomor satukan, di utamakan dan di manja. Makanya dia tumbuh menjadi gadis yang sangat egois mau menang sendiri.
Marlina masuk ke dalam kamarnya dan dia sejenak duduk termenung di tepi ranjang. Pikirannya terus tertuju pada mantan suami dan ketiga anaknya.
Kadang dia merasa tak habis pikir dengan tingkah lakunya sendiri yang tega meninggalkan suami dan ketiga anaknya hanya demi harta.
Awal mula Marlina bertemu dengan Setyo yakni pada saat dirinya bekerja di pabrik garmen milik Setyo. Dan pada saat itu tumbuhlah benih cinta di antara keduanya hingga Marlina tergoda dengan bujuk rayu Setyo dan ia begitu saja meninggalkan suami dan ketiga anaknya.
Pada saat itu si kembar baru berusia beberapa bulan, Marlina nekad pergi dengan alasan ingin membantu ekonomi keluarga.
Marlina pikir Setyo berstatus lajang seperti apa yang ia katakan dulu pada Marlina. Tetapi ternyata ia sudah punya anak satu dan pada waktu itu seusia Ais kecil.
Bagi Marlina sudah kepalang tanggung, sudah basah jadi mandi sekalian. Percuma saja ia pergi dari hidup Setyo apa lagi waktu itu mereka telah menikah.
Dan Marlina juga tak kan bisa kembali kerumahnya lagi. Hingga oa terpaksa tetap bertahan menjadi istri Setyo dan menjadi ibu tiri Rindi.
Bahkan Marlina di larang hamil oleh Setyo. Baginya cukup dengan satu anak yakni Rindi. Hingga pernikahan dirinya dengan Setyo tak memiliki keturunan sama sekali.
Terus saja Marlina melamunkan masa lalu dirinya baik pada saat bersama Lukman maupun bersama Setyo. Kadang kala ia membandingkan sifat Lukman dengan sifat Setyo.
__ADS_1
"Ah kenapa aku melamun seperti ini? biarlah aku jalani saja hidup ini apa adanya. Terpenting aku akan berusaha menebus kesalahanku ini pada ketiga anakku," batin Marlina.