Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah

Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah
Mencari Lahan Untuk Restoran


__ADS_3

Ais menahan rasa malunya pada di rumah Bagas.


"Ya sudah ya, mas. Aku pemir pulang."


"Tante-Om, aku pamit pulang ya."


Namun baik Bagas maupun orang tuanya tak mengizinkan Ais pulang.


"Eits, kenapa mau pulang? duduklah dulu bersama kami di sini, karena kami ingin bicara sejenak denganmu," ucap Eti.


"Iya, Ais. Jangan pulang dulu, ngobrolah sejenak dengan kami," ucap Broto.


Dengan rasa terpaksa Ais akhirnya duduk bergabung dengan Bagas dan orang tuanya di teras halaman.


"Ais, Bagas pernah berkata pada kami jika dia itu tak tega melihatmu bekerja sebagai sopir dan cleaning service. Bagas juga pernah bercerita pada kami dia ingin memberimu modal untuk usaha buka restoran. Apakah kamu sudah membicarakannya dengan ayahmu?" tanya Broto begitu halusnya dalam bertutur kata.


"Iya Ais, apakah kamu sudah mengatakannya pada ayah Lukman?" tanya Bagas pula.


"Sudah, Om. Sudah Mas," ucap Ais.


"Lantas apa keputusan dari dan ayahmu?" tanya Bagas penasaran.


"Kata ayah, menerima niat baik dari Mas Bagas," ucap Ais.


"Alhamdulillah, jika begitu aku lega Ais. Jadi kamu tak usah lagi menjadi sopir dan cleaning servis lagi," ucap Bagas tersenyum.


"Terima kasih ya, mas. Atas kebaikannya padaku dan keluargaku," ucap Ais tersipu malu.


Begini saja, kamu ajak saja Ais mencari lahan untuk mendirikan restoran lebih cepat bukannya lebih baik, Bagas," saran Broto.

__ADS_1


"Iya pah, tunggu ya Is. Aku akan mengganti pakaianku dahulu, nanti setelah itu kita ke rumahmu ya, ajak ayahmu juga jika ia mau untuk memilih lahan yang akan kita jadikan restoran," ucap Bagas seraya ia berlalu pergi masuk ke dalam rumah.


"Ais, mulai sekarang kamu tak usah lagi canggung pada kami ya. Anggaplah kami ini juga orang tuamu," ucap Eti.


"Iya, Tante."


Tak berapa lama Bagas telah datang lagi dengan menggunakan pakaian santai tapi yang memperlihatkan ketampanannya. Aispun sempat terpana karenanya.


"Wah, Mas Bagas tampan sekali. Melebihi hari-hari biasanya," batin Ais seraya tak sadar ia menatap Bagas Tek berkedip.


"Ehem, biasa saja kali. Aku tahu kk kalau aku ini sangat tampan hingga kekasihku ini saja terpesona oleh ketampananku," ucap Bagas menggoda Ais.


Seketika itu juga, Ais menjadi gelagapan mengalihkan pandangan ke arah lain karena ketahuan dirinya terpana oleh ketampanan Bagas.


Setelah cukup puas bercengkrama, barulah Bagas mengajak Ais pulang kerumahnya dengan mengendarai mobilnya. Hanya sekejap mata mereka telah sampai di pelataran rumah Ais. Dan kebetulan Ayah Lukman sedang sibuk menjemur pakaian.


""Pak Lukman, kita akan mencari lahan untuk restoran. Apakah bapak mau ikut?" tanya Bagas.


Sementara Ais masuk ke dalam rumah untuk berganti pakaian sejenak. Dan Bagas juga bercengkrama dengan Ayah Lukman sejenak seraya menunggu Ais yang sedang berganti pakaian.


Beberapa menit kemudian, mereka segera berangkat untuk mencari lahan guna mendirikan sebuah restoran.


"Ais, kita cari ruko saja ya? jangan lahan kosong atau tanah kosong karena akan lama pembangunannya. Jika ruko kan kita tinggal mereparasi saja tak butuh waktu lama," saran Bagas seraya melajukan mobilnya.


"Terserah Mas Bagas saja baiknya bagaimana, aku percaya kok."


Bagas sengaja melajukan mobilnya secara perlahan sambil tengok kanan dan kiri. berharap menemukan sebuah ruko di pinggir jalan besar yang akan dijual.


Hingga beberapa detik kemudian, Bagas melihat ada sebuah ruko besar yang akan dijual dan dia pun segera menghubungi nomor ponsel yang ada di banner dinding ruko tersebut.

__ADS_1


Satu jam lamanya akhirnya mendapatkan sebuah kesepakatan harga. Dan saat itu juga ruko tersebut berhasil di beli oleh Bagas.


"Alhamdulillah ya, sayang. Hanya dalam waktu sekejap kita memperoleh ruko yang lokasinya pas sekali yakni depan jalan raya seperti ini. Aku yakin pasti kelak restoranmu akan ramai pembeli," ucap Bagas.


"Sekarang kita ke rumah sahabatku ya, kebetulan tak jauh dari sini. Ia seorang arsitektur yang pandai pula merenovasi rumah atau ruko dengan desain yang sangat indah."


Sekejap saja, mereka telah sampai di rumah sahabat Bagas. Dan Bagss langsung menceritakan semuanya pada sahabatnya tersebut.


"Kamu nggak usah khawatir, Bagas. Aku akan merubah ruko itu menjadi sebuah restoran yang sangat nyaman untuk di singgahi para pembeli. Bukan hanya sembarang restoran pada umumnya, tetapi akan aku desain sedemikian rupa," ucapnya meyakinkan Bagas.


"Beneran loh ya, kamu nggak usah khawatir masalah biaya. Dan ongkos untyk dirimu. Jika hasilnya memuaskan pasti aku juga tak sayang untuk bayar mahal jasa renovasi desain ruko yang kamu kerjakan," ucap Bagas.


Saat itu juga Bagas mengajak temennya itu ke ruko yang tadi ia beli. Untuk memperlihatkan letak lokasi dan luas serta posisi ruko tersebut l pada temennya.


Beberapa jam kemudian, semua urusan telah selesai. Dan kini Bagas mengajak Ais makan siang di suatu cafe dimana ada kenangan lucu antara dirinya dan Ais.


"Sayang, kamu ingat cafe ini nggak?" tanya Bagas.


"Ingatlah, cafe dimana dulu Mas Bagas akan mengerjaiku tapi aku tahu terlebih dahulu hingga aku yang mengerjaimu," ucap Ais terkekeh.


"Aku pikir kamu telah lupa tentang itu, kalau aku tidak akan pernah melupakan kenangan itu. Bahkan jika aku mengingatnya selalu saja tak bisa menahan rasa geli dan pada akhirnya aku tertawa sendiri," ucap Bagas tersenyum.


"Iya dulu kamu itu galak banget sama aku, Mas. Hampir setiap hari bahkan setiap detik kamu selalu marah-marah padaku. Kadang tanpa alasan yang jelas pun kamu selalu marah sampai aku tak kuat bekerja padamu tapi aku memikirkan kesehatan Ayah waktu itu," ucap aais manyun.


"Maafkan aku ya Ais, memang sifat burukku dulu seperti itu. Tetapi lambat laun entah kenapa aku malah tak bisa jauh darimu, walaupun kadang kala aku ingin mencoba untuk memupus ingatanku tentangmu, tapi itu takkan pernah bisa kadang aku sampai ngedumel sendiri marah sendiri," ucap Bagas terkekeh.


"Tapi aku heran padamu loh Ais, kenapa bisa meluluhkanku dan bisa merubah sifat buruk hingga aku tidak menjadi seorang pemarah lagi," puji Bagas.


"Sebenarnya bukan aku yang merubah sifat burukmu, Mas. Tetapi itu karena kemauanmu sendiri di dalam hatimu telah bertekad untuk bisa merubahnya hingga pada akhirnya kamu bisa menghilangkan sifat burukmu itu," ucap Ais.

__ADS_1


"Tapi nggak seperti itu, memang motivasi aku untuk bisa merubah diri menjadi lebih baik itu juga karena dirimu. Jika tidak, mungkin hingga detik ini aku masih menjadi seorang pemarah," ucap Bagas selalu saja memuji Ais.


__ADS_2