
Pada saat pagi, Bagas bingung bagaimana mengatasi permasalahan kasur basah tersebut. Dia mondar mandir sendiri di ambang pintu kamarnya.
"Aduh, bagaimana ini? aku harus beralasan apa pada mamah dan papah?" batinnya seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Bagaspun mengambil air satu gayung dan mengguyur kasurnya yang basah tersebut supaya semakin basah dan tak berbau. Dia akan keluar dari kamarnya, tetapi di ambang pintu berpapasan dengan Eti.
"Tumben kamu sudah bangun, Bagas?" tanya Eti merasa heran melihat Bagas sudah di ambang pintu kamar.
"Anu, mah. Eh itu...Hem..."
Bagas bingung mau berkata apa pada mamahnya. Dia juga bingung beralasan apa pada Eti tentang kasurnya yang basah kuyup.
Awalnya dia ingin beralasan terkena air makanya dia guyur kasurnya dengan satu gayung air, tetapi setelah itu dia malah tak yakin dengan alasan yang akan ia berikan itu.
"Mah, tolong panggilkan Bibi sama Mamang. Minta gantiin kasurku dengan kasur yang baru karena kasusnya basah. Aku minum malah air tumpah," ucap Bagas salah tingkah.
"Seumur hidup, ini baru pertama kalinya kamu bertindak ceroboh. Masa iya, minum air tumpah ke kasur?" Eti penasaran, ia langsung saja masuk ke kamar anaknya.
"Ya ampun, Bagas. Yang benar saja, masa kasurnya basah seperti ini? tapi kok kaya bau apa ya, kalau air putih mah nggak berbau," ucap Eti seraya hidungnya mendengus bau sesuatu di kasur Bagas.
"Mah, buang saja kasur ini. Ganti yang baru kan ada stok, bisa pake yang di kamar tamu dulu. Kalau nggak nanti aku pesan sekalian dech, biar di kirimkan ke mari," ucap Bagas.
Eti hanya menggelengkan kepalanya, ia pun melangkah keluar kamar seraya ke paviliun belakang untuk meminta tolong Mamang dan Bibi mengangkat kasur Bagas. Sementara Bagas melakukan ritual mandi paginya.
Selama mandi dia pun senyam-senyum sendiri seraya membayangkan mimpinya dengan Ais.
"Ternyata mimpi indah benar-benar indah dan tak terlupakan. Hingga kini aku masih ingat betul dengan mimpi itu. Hem Ais, kamu sudah mampu merebut hati ini bahkan hingga terbawa ke alam mimpi," gumamnya seraya tersenyum.
Beberapa menit kemudian, Bagas telah siap menunggu Aus di teras halaman. Akan tetapi Ais tak kunjung datang, malah yang datang Pak Lukman.
"Pak Lukman, Ais mana?" tanya Bagas celingukan mencari Ais.
"Maaf, den. Ais dari semalam badannya demam, dan sampai tadi dia masih demam. Katanya kepalanya sakit sekali, jadi dia minta saya yang menyopir dulu," ucap Pak Lukman seraya menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Ya ampun, jadi Ais sakit? berarti dari semalam belum ke dokter?" tanya Bagas dengan raut wajah panik serta cemas.
__ADS_1
"Ais nggak mau, Den. Dia lebih memilih minum obat warung dari pada ke dokter. Dia kan takut jarum suntik, Den,' ucap Pak Lukman.
"Sebentar ya, pak." Bagas meraih ponselnya dan menelpon dokter pribadinya untuk segera datang ke rumah.
Beberapa menit kemudian, dokter datang dan Bagas lekas mengajaknya ke rumah Pak Lukman untuk memeriksa kondisi Ais.
"Bagaimana, dok?" tanya Bagas panik.
"Aden nggak usah cemas, neng ini cuma masuk angin saja. Ini ada resep obat antibiotik untuk penyembuh demam dan sakit kepala serta saya berikan juga vitamin."
Dokter memberikan kerras resep pada Bagas.
"Terima kasih ya, dok. Pak Lukman, bisa minta tolong antar dokter ke rumah saya karena mobil beliau di rumah. Juga tembus resep ini, dan ini untuk bayar resepnya."
Bagas memberikan uang serta kertas resep tersebut.
"Biar saya di sini dulu menjaga, Ais."
"Den, saya nggak apa-apa tak perlu dijaga. Sudah biasa kok kalau sakit di biarkan saja minum obat warung juga sembuh. Sebenarnya Aden nggak usah repot bawa dokter segala," ucap Ais lirih.
Bagas hanya diam saja karena dia tak ingin tersulut emosi, dia ingat akan pesan papahnya supaya sedikit demi sedikit bisa meredam emosinya. Dan saat ini dia sedang mempraktekkannya.
Bagas mendekati Ais, Ais sangat ketakutan.
'Aden, mau ngapain? jangan dekat-dekat, awas ya kalau macam-macam!" ancam Ais menutupi wajah nya dengan selimut, tetapi matanya mengintip sedikit dari balik selimut membuat Bagas terkekeh.
"Hheee, Ais-Ais. Otakmu itu mesum banget ya, aku hanya ingin mengecek suhu tubuhmu saja. Sama sekali tak ada niat buruk."
Bagas membuka paksa selimut yang menutupi wajah Ais, dia menempelkan punggung tangannya di kening Ais.
"Panas sekali, pantas saja otakmu rada gesrek," canda Bagas terkekeh.
"Apa, Aden barusan ngatain aku apa?"
Ais emosi dan dia mengambil bantal memukulkan pada wajah Bagas.
__ADS_1
Bantal itu di tangkap oleh Bagas hingga tubuh Ais terdorong tepat di hadapan wajah Bagas hanya berjarak beberapa inci saja. Sejenak keduanya saling bertatapan satu sama lain begitu lamanya. Hingga mereka di kagetkan oleh datangnya Lukman.
"Den Bagas, ini...
Lukman salah tingkah sendiri melihat adegan mesra tersebut di mana anak dan majikannya saling berpandangan begitu dekatnya.
"Pak Lukman."
"Ayah, jangan salah paham. Kami tak melakukan apapun loh,' ucap Ais malu.
"Iya, pak. Tadi hanya ada kesalahan teknis saja," ucap Bagas merona wajahnya.
"Iya, den. Saya nggak lihat apa pun kok, hanya melihat adegan tatap menatap saja," Pak Lukman terkekeh karena melihat rona malu di wajah Bagas juga Ais.
"Ino obatnya, den. Dan ini ada uangnya sisa."
"Sisanya ambil saja buat bapak tak usah di kembalikan."
Bagas hanya menerima obat tersebut tanpa menerima uang sisa pembelian obat tersebut.
"Is, kamu sudah sarapan belum?"
Belum juga Ais menjawab, Pak Lukman telah berkata terlebih dahulu.
"Dari semalam nggak mau makan, Den," sela Pak Lukman.
"Pak Lukman, di sekitar sini ada yang jual bubur nggak? biasa kan kalau orang sakit itu makan bubur," tanya Bagas.
"Ada den, ini samping rumah tetangga jual bubur ayam juga nasi rames. Tadi pagi sudah saya belikan bubur tapi nggak mau di makan," ucap Lukman.
"Sebentar ya, pak. Kita tunda dulu ke kantornya."
Bagas melangkah keluar kamar Ais dan ia melangkah ke luar rumah mencari tukang bubur dan membelinya. Setelah itu ia kembali ke kamar Ais.
"Is, kamu harus makan untuk minum obat biar lekas sembuh." Bagas menyuapkan bubur tapi Ais tetap menutup mulutnya seraya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Is, kalau kamu nggak mau makan kapan sembuhnya? katanya kamu mau bantu ayahmu mencari uang, apa kamu mau di rumah teys seperti ini?"
Bujukan Bagas ampuh, hingga Ais mau makandi suapi oleh Bagas. Pak Lukman keluar dari kamar Ais karena tak enak melihat pemandangan itu.