
Entah kenapa sejak menjalin kerja sama dengan Ais. Ia ingin Ais menganggap dirinya ibu. Hingga Ais pun sudah terbiasa memanggil dirinya ibu, yang semula ia memanggil dirinya dengan sebutan Nyonya.
Keduanya saling bercengkrama, begitu lamanya. Hal ini sering dilakukan jika Bu Ira datang untuk mengecek kondisi restoran.
"Ais, ibu itu kadang juga tak percaya dengan pertemuan kita yang begitu singkat dengan cara yang tak terduga dan akhirnya kita dekat seperti sekarang ini."
"Padahal awal mula, ibu hanya iseng memesan makanan yang sempat kamu tawarkan di akun sosial mediamu kan ya waktu itu."
"Terus ibu ketagihan hingga ibu selalu pesan catering padamu hingga entah dari mana ibu berpikir mengajakmu bekerja sama. Dan hasilnya sungguh luar biasa."
"Ibu sama sekali tidak menyangka jika restoran ini akan menjadi megsh, mewah, dan bahkan menjadi terkena dengan sebutan restoran viral."
"Ais, ibu ingin tanya satu hal ya? boleh kan?"
"Silahkan saja, Bu. Selagi akumvjaa jawab pasti akan aku jawab," ucap Ais.
"Ais, pasti kamu pintar mengolah masakan karena ibumu yang mengajarkannya ya? maaf, kenapa aku tak pernah melihat ibumu? yang aku lihat hanya ayahmu saja?" tanya Bu Ira.
Memang sudah sejak lama Bu Ira ingin bertanya tentang hal ini tetapi ia sengaja menunggu waktu yang tepat untuk bisa berbicara dari hati ke hati dengan Ais.
Sejenak Ais terdiam, sebenarnya ia enggan untuk menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan ibunya. Karena itu sama saja membuka luka lama. Ais ingin berbohong tapi juga tak bisa. Ia ingin berkata jika Ibunya telah meninggal tapi ia berpikir lagi, khawatir jika suatu saat nanti ia akan di pertemukan dengan ibunya lagi.
Melihat sikap diamnya Aua membuat Bu Ira merasa tak enak hati.
"Ais , ibu minta maaf ya. Jika menang kamu berat untuk menjaeab pertanyaan dari ibu. Sebaiknya tak usah di jawab, ibu tidak akan marah, nak," ucapnya seraya menggenggam kedua tangan Ais karena saat ini meey sedang duduk berhadapan.
Ais duduk di kursi kerjanya dan Bu Ira duduk di hadapan Ais.
"Nggak apa-apa, Bu. Akan aku jawab sejujurnya pada ibu, tapi aku minta tolong jangan diceritakan hal ini pada orang lain."
"Jujur saja sejak aku berusia tujuh atau enam tahun aku sampai lupa, Bu. Di saat adikku si kembar masih berusia satu tahun. Pada saat itulah, kami harus kehilangan ibu."
__ADS_1
"Inalillahi wa innailaihi rojiun," ucap Bu Ira tiba-tiba pada saat mendengar cerita Ais.
"Bukan kehilangan karena ibuku meninggal, Bu. Tetapi ibuku pergi begitu saja meninggalkan kami hanya demi pria yang lebih kaya."
"Karena pada saat itu, ayah ku hanya sebagai kuli bangunan. Dan kehidupan kami tergolong miskin."
"Sejak saat ibu pergi, hanya ayah yang merawat ku dan adik kembar ku. Dari usia dini, aku harus membiasakan diri hidup layaknya orang dewasa."
"Aku membantu ayah dengan mengerjakan pekerjaan rumah sejak aku usia dini. Dan Ibu salah Bu, yang mengajari aku memasak bukan ibuku tetapi ayahku."
"Ayah yang berperan ganda bukan hanya menjadi seorang ayah tapi juga seorang ibu bagi kami bertiga."
"Betapa repotnya dulu pada saat si kembar masih kecil-kecil. Tapi ayah tak pernah berkeluh kesah. Ia selalu saja mengurus kami bertiga dengan penuh kesabaran dan suka cita."
"Bahkan ia tak pernah memikirkan diri sendiri. Hingga kini ayah tak pernah menikah lagi. Dari ayah di tinggal pergi oleh ibu, hingga aku sudah sebesar sekarang ini."
"Alasan ayah tak menikah lagi karena ia khawatir ibu tiri akan jahat pada kami. Hingga ayah memutuskan hidup seorang diri hingga saat ini."
Dengan mata berkaca-kaca, Ais menceritakan masa lalunya pada Bu Ira.
"Nggak apa-apa kok, Bu. Semua orang hidup kan punya cerita masa lalu sendiri. Alhamdulillah, kami bisa melewati semua itu. Dan kini hidup kami sudah semakin maju ini juga berkat pertolongan Mas Bagas, Bu."
"Pada awalnya aku ini hanya seorang sopir angkot, dan pada saat itu ayah sakit. Aku harus menggantikan pekerjaan ayah yakni menjadi sopir pribadinya Mas Bagas dan juga bekerja sebagai cleaning service di kantornya."
"Lantas entah bagaimana, diantara kami tumbuh rasa cinta. Padahal awalnya juga kami seperti anjing dan kucing tidak pernah akur."
"Setelah kami resmi berpacaran, Mas Bagas nggak tega jika aku terus menjadi sopir dan cleaning service."
"Hingga pada akhirnya, Mas Bagas menyarankan untuk aku buka restoran dengan modal dari Mas Bagas."
Ais dengan gamblangnya bercerita panjang lebar pada Bu Ira. Bu Ira juga sangat serius dalam mengamati cerita dari Ais. Sesekali ia menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Hingga tak terasa ponsel Bu Ira berdering, yang mana ada satu panggilan telepon.
Kring kring kring kring
Bu Ira lantas mengangkat panggilan telepon tersebut.
Dan ia segera bergegas pamot pada Ais, karena asisten pribadinya menelpon. Ada hal penting yang harus di tangani di kantor.
Sejenak Ais merasa heran sendiri karena ia begitu akrabnya dengan Bu Ira.
"Aneh, padahal aku ini tergolong orang yang sangat sulit untuk percaya apa lagi akrab dengan orang. Tapi kenapa aku mudah sekali bergaul dengan Bu Ira?"
"Kenapa aku cepat sekali akrab dengan dirinya. Bahkan tanpa sadar aku menceritakan kehidupan pribadiku di masa lalu pada Bu Ira."
Ais sampai menggelengkan kepalanya sendiri heran dengan diri sendiri dan sesekali ia menghela napas panjang.
Ais merasa jenuh juga karena hanya duduk diam di ruang kerjanya. Hingga ia memutuskan untuk keluar ruangan dan mengecek kondisi restoran.
Ais mulai melangkah berkeliling restoran yang memang tak pernah sepi. San tak sengaja ia bertemu dengan orang yang tak asing lagi. Yakni keluarga Aan.
Kebetulan sekali Aan dan orang tuanya sedang makan di restoran tersebut.
"Juragan Wardi, Aan, Bu Warsem."
"Ais, sedang apa kamu di sini?" tanya Bu Warsem tak suka melihat kedatangan Ais
Belum juga Ais menjawab, pelayan yang telah membawakan pesanan makanan untuk keluarga Aan tiba-tiba menjawab," Ibu, ini Non Ais direktur utama di restoran ini. Pemimpin restoran ini."
Mendengar apa yang dikatakan oleh pelayan tersebut sontak saja membuat keluarga Aaan terperangah. Karena selama ini mereka tak tahu menahu jika Ais telah memiliki restoran itu.
"Ais, berarti kamu sudah menjadi sukses ya?" tanya Juragan Wardi.
__ADS_1
"Alhamdulillah seperti yang Juragan lihat," ucap Ais sekenanya.
Aan pun terpana melihat penampilan Ais yang sekarang.