
Tak terasa sore telah menjelang, Ais pun beralih profesi menjadi sopir pribadi lagi.
"Ais, apa kamu tidak punya keinginan untuk melanjutkan studymu?" tanya Bagas tiba-tiba.
"Nggak lah Den, biarpun aku menginginkannya itu tidak akan mungkin terlaksana, yang terpenting sekarang bagiku adik-adik bisa sekolah dan keluargaku bisa makan saja itu sudah cukup bersyukur," ucap Ais.
"Misalkan ada seseorang yang mau menyekolahkan dirimu dan membiayai kuliahmu hingga lulus apakah kiranya kamu akan menerimanya?" tanya Bagas.
"Entahlah Den, aku pikir ulang lagi kalau hal itu terjadi karena misalkan aku bisa kuliah lantas siapa yang akan bekerja? kecuali kuliahku itu bisa dilakukan menjelang aku selesai bekerja pasti aku akan menerima tawaran baik dari orang tersebut."
"Tapi sepertinya tidak mungkin lah, Den. Ada orang yang bersedia membiayai pendidikanku, biaya kuliah kan tidak sedikit Den."
Ais ragu dengan apa yang dikatakan oleh Bagas karena di zaman seperti ini mana ada orang yang mau membiayai kuliah dirinya apalagi biaya kuliah itu kan tidak sedikit.
"Kamu masih belum percaya jika ada orang yang bersedia membiayai kuliahmu jika kamu ingin melanjutkan studymu?" tanya Bagas.
"Aku tidak ingin bermimpi atau berhayal terlalu tinggi, karena nanti jatuhnya akan terasa sakit. Sudah bisa makan setiap hari, sudah bisa menyekolahkan adik-adik saja itu sudah cukup. Apalagi beberapa bulan ini malah aku belum bisa membayar SPP kedua adikku. Bagaimana mungkin ada orang yang mau membiayai kuliah aku kayaknya mustahil deh, Den," ucap Ais tak percaya saja ada orang yang mau membiayai kuliahnya.
"Menurut aku ya den, untuk seorang wanita itu tidak perlulah sekolah tinggi-tinggi karena paling ujung-ujungnya ya di kasur dan di dapur hehehe," ucap Ais terkekeh.
"Intinya ya den, aku itu jadi wanita tidak muluk-muluk. Tidak punya keinginan untuk menjadi wanita karir atau apa, hanya ingin kelak menjadi seorang istri yang benar-benar patuh terhadap suami. Sudah seperti itu saja simple, biar saja suami yang mencari nafkah untuk apa aku ikut-ikutan cari nafkah," ucap Ais terkekeh kembali.
"Aku pikir kamu punya cita-cita ingin menjadi seorang dokter atau ingin menjadi seorang insinyur atau ingin bekerja di kantor orang gitu," ucap Bagas.
"Tidak, den. Aku hanya ingin menjadi seorang kakak dan seorang anak yang baik bagi keluargaku. Aku hanya ingin memberikan kebahagiaan pada ayah dan si kembar. Kebahagiaan itu bukannya dengan materi atau harta yang banyak, itu menurutku sih den," ucap Ais.
"Lantas definisi kebahagiaan menurutmu apa?" tanya Bagas.
__ADS_1
"Selalu ada buat keluarga di setiap kondisi dan selalu perhatian dan peduli pada keluarga itu saja bisa buatku bahagia, Den," ucap Ais.
"Oh ya Ais, aku ingin menanyakan satu hal yang beberapa hari lalu ingin aku tanyakan tetapi aku sempat lupa," ucap Bagas.
"Tanya saja, Den. Jika aku bisa jawab pasti akan aku jawab, tapi jika pertanyaan Aden itu sangat sulit mungkin aku tidak akan bisa menjawabnya," ucap Ais sekenanya.
"Baiklah Ais, aku ingin tanya apakah kamu kenal dengan Tante Marlina? karena beberapa hari lalu dia juga sempat tanya tentangmu bahkan sepertinya dia juga mengenal ayahmu," ucap Bagas.
"Memangnya wanita itu tanya apa tentang ayahku, Den?" Ais malah balik bertanya.
"Pada saat kamu bertemu dengannya, lantas aku minta kamu membuatkan kopi. Nah Tante Marlina mendekatiku, dia bertanya apakah itu tadi Ais anaknya Pak Lukman? aku jawab saja iya, berarti kan Tante Marlina itu kenal kamu dan juga ayahmu," ucap Bagas.
Sejenak Ais menghentikan laju mobilnya, membuat Bagas mengernyitkan dahinya.
"Ada apa, Is?" tanya Bagas heran.
"Kayanya Aden ingin tahu siapa Tante Marlina. Menurutku tidak nyaman jika bercerita sambil aku tetap mengemudi, apa lagi ini tentang Tante Marlina," ucap Ais.
Ais pun mulai bercerita panjang lebar tentang Marlina tanpa ada yang ia tutupi.
"Marlina itu wanita yang telah melahirkanku dan si kembar. Makanya ia kenal aku dan ayah...
Belum juga Ais selesai bicara, Bagas sudah memotong pembicaraan.
"Berarti ia ibu kandungmu?" tanya Bagas.
"Iya, Den. Ia ibu kandung yang telah trga meninggalkan kami, tepatnya pada saat aku umur tujuh tahun dan si kembar masih umur satu tahun."
__ADS_1
"Loh kenapa begitu?" tanya Bagas memotong pembicaraan lagi.
"Ibu rela pergi meninggalkan ayah dan ketiga anaknya hanya demi pria yang kaya raya," ucap Ais.
"Hah, jadi Tante Marlina itu bukan ibu kandungnya Rindi? lantas sifatnya memang jauh berbeda," ucap Bagas.
"Sudah tidak ada pertanyaan lagi kan, Den. Aku akan melajukan mobilnya lagi," ucap Ais memastikan.
"Ya ampun ternyata kehidupan Ais dan keluarganya sangatlah menderita. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana Pak Lukman merawat kedua anaknya yang kembar yang pada saat ditinggal oleh tante Marlina mereka masih berumur satu tahun pasti repotnya minta ampun," batin Bagas.
"Aku nggak menyangka jika Tante Marlina tega sekali pada suami dan anaknya. Aku pikir dia seorang ibu yang sangat perhatian pada seorang anak. Karena ia begitu memanjakan Rindi," batin Bagas.
"Den Bagas, apakah masih ada yang akan ditanyakan lagi karena aku akan melajukan mobilnya kembali," tanya Ais kembali supaya lamunannya terbuyar.
"Tidak ada, Ais. Aku minta maaf ya, telah membuka luka lama keluargamu," ucap Bagas merasa iba pada Ais.
"Nggak usah minta maaf, den. Aku tidak apa-apa kok, ya sudah aku lajukan lagi ya mobilnya?" Saat itu juga Ais melajukan mobilnya menuju ke rumah Bagas.
Hanya beberapa menit saja, mereka telah sampai di pelataran rumah Bagas. Akan tetapi Bagas tidak langsung turun dari mobil, melainkan ia mengatakan sesuatu kembali pada Ais.
"Ais, kamu tak perlu lagi masak. Pulang saja dan istirahatlah di rumah. Kamu sudah terlalu cape bekerja di kantor," ucap Bagas.
"Lantas bagaimana dengan Nyonya Eti, Den?" tanya Ais ragu.
"Nggak usah kamu pikirkan, karena sebenarnya aku yang meminta mamah untuk memintamu memasak di sini. Itu semua karena aku telah candu dengan masakanmu yang super lezat itu," ucap Bagas baru berani mengakuinya.
"Hem, begitu ya den. Ya sudah aku akan tetap memasak untuk Aden. Nggak perlu di bayar juga nggak apa-apa, aku ikhlas kok," ucap Ais tanpa sadar ia berkata seperti itu.
__ADS_1
"Ais, apa ini suatu tanda kamu telah bisa membuka hatimu untukku?" tanya Bagas.
Ais hanya tersipu malu tak berani berkata-kata," ayok Den turun karena aku akan masak buat Aden.