Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah

Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah
Kebersamaan Dua Sejoli


__ADS_3

Tak terasa kini pernikahan Ais dan Bagas hampir dekat saja. Sudah dua bulan berlalu. Dan kini tinggal dua bulan lagi.


Semua persiapan demi persiapan sudah selesai juga. Dari pemilihan gaun pengantin, tempat resepsi hingga undangan semuanya sudah siap.


Kini sisa waktu dua bulan di gunakan oleh calon pengantin untuk memantapkan jiwa dan mempersiapkan diri.


"Sayang, lega rasanya ya karena semua persiapan untuk pernikahan kita sudah selesai." Ucap Bagas seraya memeluk Ais.


"Tapi aku belum lega, mas. Justru semakin mendekat hari H, aku kok deg-degan banget Entah kenapa," ucap Ais jujur.


"Hem...kenaka deg-degan sayang? seharusnya kamu itu senang karena akan menikah dengan pangeran tampan ini," canda Bagas terkekeh.


"Hem, bukan pangeran tampan, tetapi pangeran jutek dan super menyebalkan," ledek Ais terkekeh.


"Hem, masa iya sih? menyebakkan apa menyebalkan? aku yakin kamu sebenarnya selalu kangen kan jika jauh dariku?" goda Bagas.


Keduanya tiada hentinya saling menggoda satu sama lain. Membuat yang melihatnya iri di buatnya.


"Mah, jika melihat mereka berdua kok papah jadi iri. Iri ingin mengulang masa muda kita, mah."


"Waduh, kalau kita muda lagi lantas nanti Bagas menjadi bayi lagi donk."


Perkataan Eti membuat Broto terkekeh," mah, coba dulu kita nggak progam KB ya? pasti lebih senang dech punya banyak anak suasana rumah menjadi sangat ramai."


"Iya juga sih, pah. Salah siapa dulu pada saat Mamah lepas KB malah papah marah-marah. Sebenarnya kasihan juga kan Bagas hanya seorang diri tak punya adik satupun," ucap Eti.


"Mah, nggak usah ada penyesalan. Kita kan sebentar lagi akan punya menantu. Kita minta saja pada Bagas supaya kelak punya banyak anak. Walaupun kita anak satu kalau cucu banyak kan sama saja," saran Broto.


"Iya juga ya lah, nanti dech mamah atur waktunya untuk bicara pada Bagas." Eti mengacungkan kedua ibu jarinya.


Lantas keduanya masuk ke dalam rumah, tak jadi duduk di teras halaman karena tak ingin mengganggu anak dan calon menantunya sedang berduaan.


"Mas, apa planning kita setelah menikah?" tanya Ais.


"Hem, apa ya? untuk saat ini aku tidak ada suatu yang penting. Hanya ingin setelah menikah ya menyantap kamu setiap hari supaya kamu lekas hamil. Dan aku juga akan mengajakmu honey moon. Kamu harus siap saja ya," ucap Bagas menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


"Santap, memangnya aku ini makanan? main santap saja dech," rajuk Ais.


"Memang kamu aku umpamakan seperti makanan yang sudah membuat aku ingin menyantapnya tetapi belum saatnya hhhheeee..."


"Mas, memang mau ajak aku honeymoon kemana sih? aku nggak mau jauh-jauh, cape malas," ucap Ais.


"Ada dech, karena untuk acara honeymoon khusus Mamah dan papah yang akan mengaturnya. Kata mereka akan memberikan kado pernikahan berupa honeymoon," ucap Bagas karena memang belum tahu orang tuanya akan memberikan kado honeymoon kemana.


"Mas, jika aku boleh kasih saran kenapa kita nggak honeymoon ke Surtaling saja?" ucap Ais menahan rasa ingin tertawa.


"Hah, Surtaling? apaan itu, memang ada ya nama kota atau tempat wisata seperti itu?" tanya Bagas memicingkan alisnya.


"Masa nggak tahu Surtaling sih?"


"Sayang, aku benar-benar nggak tahu."


"Surtaling itu, Kasur bantal dan guling hhhaa...kena dech."


Bagas menghela napas panjang karena telah di kerjain oleh Ais.


"Bisa apa coba? bisa marah?" Ayah memotong perkataan dari Bagas.


"Bisa memakanmu dan tak membiarkanmu keluar dari kamar selama berhari-hari," ucap Bagas seraya mempererat pelukannya terhadap Ais.


Ia begitu merasakan bahagia karena sebentar lagi akan resmi meminang Ais. Bahkan ia sudah tak sabar lagi ingin lekas bisa bersama Ais.


"Hey gadis ceroboh pemikat tuan pemarah, apa kamu tahu yang sedang aku pikirkan dan aku rasakan?" tanya Bagas berbisik di telinga Ais.


"Mene ketehe?" jawab Ais sekenanya.


"Apa, mana keteke? ini ketek kamu hhhaaa..."


Tiba-tiba Bagas menggelitik ketek Ais.


"Iiihhh Mas Bagas iseng banget dech, nanti aku ketekin sekalian loh," ancam Ais.

__ADS_1


"Habisnya kamu tuh, di ajak bicara serius malah bercanda seperti itu," raut wajah Bagas berubah murung sejenak tapi Aja tak bisa melihatnya karena posisi ia sedang di peluk Bagas dari arah belakang.


"Benar-benar Tuan pemarah, aku kan jawab benar sayangggggg.....mana aku tahu? malah di kira mana keteknya? Mas Bagas saja yang nyeleneh begitu dech," ucap Ais.


"Hem, iya maaf sayang. Sudah jangan merusak suasana romantis kita dengan pertengkaran yang tak penting."


Mendengar apa yang dikatakan oleh Bagas malah membuat Ais terkekeh.


"Hheee siapa juga yang sedang bertengkar, bukannya dari tadi kita sedang berpelukan seperti ini?" Ais merasa menggenggam kedua tangan Bagas yang saat ini sedang melingkar di perutnya.


"Damainya hati ini ya, sayang. Kadang kala aku suka berpikir, kenapa pula pertemuan kita harus di buat sekenario sama authornya?"


"Kita di buat saling bersi tegang terus olehnya. Hhhii... tapi authornya baik dech pada akhirnya cerita kita di buat indah."


Ais terkekeh mendengarnya, dan ia pun berkata singkat," namanya juga novel."


Kini keduanya tertawa terbahak-bahak, bahagia yang tiada taranya sedang di rasakan oleh keduanya.


******


Pagi menjelang, kini baik Ais maupun Bagas menjalankan aktifitasnya seperti sedia kala. Bagas fokus di kantor sedangkan Aia fokus di restoran mewah hasil kolaborasi dengan Bu Ira.


Bu Ira sangat senang bisa bekerja sama dengan Ais. Ia bangga sekali dengan kinerja Ais.


"Ais, ibu bangga padamu. Dan ibu sangat puas dengan kerja sama kita, sebenarnya ibu ingin membuka satu cabang restoran lagi dan ibu ingin kamu yang kelola lagi. Tapi saat ini kamu sedang sibuk dengan mengurus segala keperluan pernikahanmu," ucap Bu Ira pada saat datang ke restoran.


"Iya, Bu. Maaf ya, karena memsng pernikahanku dengan Mas Bagas tinggal dua bulan lagi. Nanti setelah menikah, akan aku bicarakan dulu dengan Mas Bagas tentang niat ibu ini," ucap Ais.


"Ais, ibu benar-benar kagum denganmu. Bahkan sampai sekarang ibu tidak percaya jika kamu hanya lulusan SLTA saja. Karena daya pikir dan kinerjamu itu seperti anak lulusan sarjana," puji Bu Ira.


"Ibu, jangan terus memujiku nanti yang ada aku menjadi besar kepala. Aku juga kadang merasa tak percaya dengan semua yang aku dapat ini, ibu."


"Dari aku hanya sopir angkot kok tiba-tiba menjadi direktur utama sebuah restoran merah megah dan viral."


Sejak bekerja sama dengan Ais, Bu Ira meminta Ais untuk tidak terlalu formal padanya. Karena ia ingin akrab dengan Ais.

__ADS_1


__ADS_2