Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah

Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah
Rasa Penasaran Orang Tua Bagas


__ADS_3

Lukman duduk di teras halaman, untuk menunggu Bagas yang terlebih dahulu melakukan ritual mandi sorenya.


"Pak Lukman, masih di sini? apa Bagas yang meminta bapak untuk tetap di sini?" tanya Broto.


"Iya, Tuan Besar. Saya di karang pulang, katanya Den Bagas yang akan mengantarkan saya pulang. Saya di karang menolak, jika saya tak mau di antar pulang, saya di pecat," ucap Lukman bangkit dari duduknya seraya tertunduk.


"Hah, kok aneh ya? duduk saja Pak Lukman, tak usah sungkan."


Broto melangkah masuk ke dalam rumahmya dan dia berpapasan dengan Bagas.


"Pah, hampir saja tabrakan."ini


"Kamu ganteng amat, Bagas. Mau kemana sih, seperti mau apel saja," Broto sengaja menggoda anaknya yang sangat mahal untuk tersenyum.


"Aku ah, papah."


Bagas berlalu keluar rumah dan mengambil motor gedenya.


Tapi sejenak dia terdiam, seolah sedang berpikir.


"Kok aku jadi trauma ya, ingat pada saat itu kehabisan bensin? tapi aku sudah janji pada Pak Lukman untuk mengantarnya," batin Bagas mulai gelisah.


"Bagas, kenapa bengong? kasihan Pak Lukman sudah menunggu dari tadi, katanya kamu akan mengantarkan pulang?" tegur Broto yang sudah ada di belakang Bagas hingga membuat Bagas terlonjak kaget.


"Iya, ini juga mau berangkat kok. Ayok pak, kita berangkat sekarang," ajak Bagas.


"Iya Den."


Sebenarnya Lukman canggung membonceng motor Bagas, apa lagi ini juga pertama kalinya.


Seperginya Bagas, Eti nongol di samping Broto.


"Pah, itu Bagas mau kemana sama Pak Lukman? kok pakainya motor?" tanya Eti heran.


"Bagas mau antar pulang, Pak Lukman."


Mendengar jawaban dari suaminya, sejenak Eti terperangah. Karena selama Pak Lukman menjadi sopir Bagas, baru kali ini Bagas mengantar pulang.


"Hah, antar pulang? Bagas lagi kesambet apa sih pah? tumben dia mau antar Pak Lukman pulang segala? lagi pula kan rumah Pak Lukman juga dekat, waktu itu di minta antar Ais saja sewot. Ini kenapa mau antar pulang bapaknya Ais?" serentetan pertanyaan keluar dari mulut Eti.

__ADS_1


"Papah juga heran, mah. Ini kemauan Bagas juga, kata Pak Lukman jika dia menolak di antar pulang, Bagas akan memecatnya," ucap Broto.


"Aneh bin ajaib itu, anak. Ada apa sih ya, pah?"


"Ada-ada saja, mah," Ucap Broto terkekeh seraya melangkah masuk ke dalam rumah.


Eti pun mengikuti dari belakang.


Karena rumah Pak Lukman tidak begitu jauh, hingga sebentar saja telah sampai. Kebetulan Ais sedang mengangkat jemuran baju. Dia mengerutkan dahinya pada saat melihat Bagas mengantarkan ayahnya.


"Ya ilah, tuh muka kaku yang tak pernah senyum sedikitpun kenapa juga antar ayah pulang? jangan-jangan ayah sakit lagi," batinnya mulai cemas.


Aia langsung menghampiri ayahnya," ayah sakitkah?" tanyanya cemas.


"Sakit, nggak kok," jawab Lukman singkat.


"Tapi kenapa pula pulang diantar, manja amat ih ayah," canda Ais.


"Aku yang ingin antar ayahmu, kenapa nggak suka ya lihat aku kemari?" tiba-tiba Bagas nyeletuk.


"Ya ilah, Den. Jadi orang kok hatinya cetek banget, itu dulu waktu lahir plasenta Aden pendek ya? makanya gampang marah, kalau plasentanya panjang kaya aku jen orangnya sabaran dan murah senyum pula," canda Ais menaik turunkan alisnya.


"Ais, jangan kurang ajar sama Den Bagas!" tergur Lukman.


"Sialan, aku kesini untuk ikut makan. Eh belum apa-apa di buat kesal seperti ini!" batin Bagas.


"Den Bagas, keep smile. Kenapa sih mahal amat untuk tersenyum, padahal senyum itu ibadah loh," ucap Ais.


"Astaga.....Ais....berapa kali ayah harus bilang sama kamu, hah!" Lukman menarik telinga Ais sembari membawanya masuk.


"Den Bagas, terima kasih ya? apa mau mampir dulu, silahkan duduk dulu nanti bapak buatkan minum. Oh ya, apa sekalian ikut makan yuk," ucap Lukman tersenyum.


"Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Kenapa pula nggak dari tadi menawarkan makan, tuh si gadis bar-bar bikin enek aku dulu," batin Bagas kesal tapi senang karena mendapatkan tawaran makan oleh Lukman.


Lukman melakukan hal itu untuk menutupi rasa malunya pada Bagas atas segala ucapan Ais. Lukman khawatir Bagas akan murka dengan segala yang di katakan oleh Ais.


Tanpa ada sepatah katapun, Bagas masuk ke dalam rumah Lukman dan langsung duduk di ruang tamu.


"Ais, ayah lapar sekali. Apa kamu sudah masak?" tanya Lukman melepaskan tarikan tangannya di telinga Ais.

__ADS_1


"Sudah, Daddy. Semua sudah siap tersedia di meja makan, masih anget loh," ucap Ais tersenyum riang.


Ais memang jarang marah, walaupun dia sering di tarik telinganya oleh ayahnya. Itu juga karena keusilan dia sendiri.


Saat itu juga, Ayah Lukman berpamitan mandi sejenak karena nggak enak berdekatan dengan Bagas kondisi bau keringat.


"Den, saya mandi dulu sebentar ya? nanti kita makan bersama," pamit Lukman seraya menangkupkan kedua tangannya di dada.


"Baik, pak silahkan."


Lukman menghampiri Ais yang ada di ruang makan.


"Is, kamu tawarin Den Bagas minum dulu. Ayah mau mandi dulu, malu bau keringat." Lukman lekas melangkah ke dapur menuju ke kamar mandi.


Ais melenggang ke ruang tamu.


"Aden, mau minum apa?" tanya Ais ramah.


"Terserah dech, yang ada di rumahmu ini minuman apa saja," jawabnya ketus seraya terus memainkan ponselnya.


"Hem, maunya Aden minum apa?" tanya Ais lagi untuk memastikan.


"Ih, kamu itu ya ganggu aku saja! sudah aku bilang tadi, terserah kamu saja. Disini yang ada minuman apa!" jawabnya ketus.


"Astaghfirullah aladzim."


Ais mengelus dada seraya menghela napas panjang, dia pun melangkah ke dapur membuatan teh, kopi, susu, sirup, dan air bening.


Dia suguhkan ke hadapan Bagas, dan Bagas menatap heran ke arah meja.


"Astaga...Ais..... apa-apaan ini? hah? masa iya aku minum segini banyaknya?" protes Bagas.


"Aden, bisa nggak jangan ngegas. Woles men, santai bro..ntar cepat tua loh marah-marah mulu," canda Ais menaik-turunkan alisnya.


"Heh, kamu ini sengaja ya mau buat aku kembung suruh minum segini banyaknya?" Bagas protes lagi.


"Baginda Raja Yang Terhormat, bukankah Anda barusan mengatakan terserah pada saya. Dan mengatakan apa saja minuman yang ada di rumah ini. Ya itu di rumah ini ada minuman seperti itu. Saya nggak minta Aden untuk minum semuanya."


"Cerdas sedikit dong, Aden. Masa iya Aden mau minum semuanya? Ya pilih saja yang Aden suka, salah siapa pada saat di tanya jawabnya terserah."

__ADS_1


"Nanti aku buatkan kopi, Aden mintanya teh. Nanti aku buatkan teh, Aden mintanya susu. Kan Aden sendiri yang menjelaskan mau minum apa."


Ais terus saja nyerocos membuat Bagas semakin kesal, tapi dia menyadari kesalahannya sendiri.


__ADS_2