
Drt drt drt drt
Ada dua notifikasi chat pesan masuk ke dalam nomor ponsel Marlina. Ia pun lekas membacanya satu persatu. Dan ia langsung membalas chat pesan yang di kirim oleh Ika padanya.
[Terima kasih ya, kamu telah menjaga amanah dengan baik. Kamu memang sahabat terbaikku.]
[Kabarku di sini baik, karena kamu benar-benar menempatkan aku pada majikan yang baik. Kamu juga jaga diri baik-baik di situ.]
"Hem, aku yakin saat ini kalian sedang merasakan penyesalan yang teramat dalam. Ini suatu pelajaran bagi kalian berdua," ucap Marlina tersenyum sinis.
Sementara Lukman dan Ais telah sepakat untuk tidak memakai uang yang dikirimkan oleh Marlina pada mereka beberapa bulan ini.
Sejak Marlina bekerja di luar negeri, ia mengirimkan uang lewat pos, karena ia tak tahu nomor rekening Ais atau pun Lukman. Hingga ia mengirim via kantor pos. Bahkan kerap kali kirim surat pada Lukman.
[Mas Lukman, saat ini aku berada diluar negeri tepatnya di negara Singapura. Aku bekerja menjadi TKW, dan aku juga sudah mengurus perceraian dengan suamiku. Mas Lukman, setiap bulannya aku akan mengirimkan uang untuk keperluan si kembar. Tolong jangan di tolak, aku tak bermaksud apa-apa hanya ingin menebus kesalahanku di masa yang lalu.]
Itulah isi surat dari Marlina, tapi Lukman sama sekali tak membalasnya. Bahkan pada saat Marlina kirim surat kembali meminta nomor rekening dan nomor telepon. Lukman juga tak membalasnya lagi. Ia justru selalu merobek surat itu supaya tidak di ketahui oleh si kembar, hanya Ais saja yang tahu.
"Ayah, apa nggak sebaiknya ayah balas surat dari ibu?"
"Untuk apa Ais," sela Lukman.
"Ayah, aku kan belum selesai bicara. Kenapa sudah di tabrak sih?" protes Ais kesal.
"Maafkan ayah, ya sudah kamu katakan."
"Begini ayah, sebaiknya balas saja surat dari ibu. Kita pergi saja ke rumah sahabat nya itu katanya ayah tahu si sapa itu, Ika."
"Dan ayah minta nomor ponsel ibu, ayah bukan balas surat ibu lewat surat juga. Tetapi lebih efektif lewat via telpon."
"Ayah katakan saja padanya supaya jangan kirim-kirim uang. Dan nanti uang yang pernah ibu kirim kemari, kita titipkan saja pada Bu Ika."
Mendengar saran dari Ais, Lukman pun setuju. Kini Ais dan Lukman sudah ngelola sebuah restoran pemberian dari Bagas. Dan kebetulan Restoran ini benar-benar rame pembeli. Penampilan Ais dan Lukman juga sudah berubah.
Saat itu juga Ais dan Lukman meminta tolong karyawan kepercayaan mereka untuk sementara menghandle restoran.
__ADS_1
"Mba Irma, titip resto ya. Kami akan pergi sebentar karena ada urusan penting. Kalau si kembar datang bilang saja sedang pergi ke rumah teman ayah," pesan Ais.
"Baik mba Ais, hati-hati di jalan ya?"
Ais dan Lukman pergi ke rumah Ika dengan mengendarai mobil pribadi dari hasil keuntungan restoran. Hanya beberapa menit saja telah sampai di rumah Ika.
Ika yang kebetulan sedang bersantai, kaget sekali melihat siapa yang datang dengan mengendarai mobil.
"Bukannya itu Ais dan Mas Lukman? wah, sekarang mereka nampak berubah sekali," gumamnya langsung menghampiri mereka.
"Mas Lukman- Ais, tumben datang kemari?" sapanya seraya menyalami keduanya.
Ais dan Lukman pun menyambut uluran tangan dari Ika. Mereka bertiga duduk di kursi yang ada di teras halaman rumah, Ika.
"Ika, kami mohon maaf jika kedatangan kami mengganggu dirimu. Kami ingin meminta tolong padamu untuk menyerahkan ini kepada Marlina."
Lukman memberikan begitu banyak uang yang beberapa bulan selalu dikirimkan oleh Marlina kepadanya lewat kantor pos.
"Ini uang apa ya Mas?" tanya Ika heran.
"Katanya untuk biaya sekolah si kembar, tapi aku tidak bisa menerimanya. Karena aku juga bisa membiayai sing kembar tanpa bantuan darinya."
"Alhamdulillah dengan usaha restoran yang kami dirikan ini bisa untuk membiayai kebutuhan sehari-hari kami juga kebutuhan sekolah si kembar."
"Sebenarnya aku ke sini juga ingin meminta nomor ponsel Marlina tapi aku rasa itu tidak perlu, lebih baik kamu saja yang menyampaikan hal ini padanya."
"Tolong katakan padanya untuk tidak mengirim uang lagi atau mengirim surat kepadaku karena itu tidak perlu. Kami ini berkecukupan karena sudah punya sebuah restoran yang kami kelola untuk sumber keuangan kami."
"Jadi tak usah risau mengenai biaya sekolah si kembar. Karena kami tidak akan kekurangan sama sekali."
Mendengar apa yang dikatakan oleh Lukman, Ika pun hanya bisa berhoooh ria.
"Kalau begitu aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, nanti aku transfer balik semua uang ini ke nomor rekening Marlina."
"Mas Lukman, apa nggak sebaiknya mas telpon dan ngomong langsung saja padanya. Biar untuk uang ini saya yang akan kirimkan balik ke nomor rekening Marlina. Supaya lebih jelas cara penyampaiannya."
__ADS_1
Mendengar saran dari Ika sebenarnya Lukman merasa malas jika harus berbicara dengan mantan istrinya yang benar-benar telah menorehkan luka di hatinya.
Lukman hanya diam saja hingga Ais pun menengahi pembicaraan.
"Ayah, apa yang dikatakan oleh Bu Ika ada benarnya. Sebaiknya memang ayah berbicara lewat via telpon supaya lebih jelas."
"Kalau ayah tak mau ibu tahu tentang nomor ponsel ayah. Ayah pinjam saja ponsel Bu Ika, nanti kita ganti pulsanya."
Hingga pada akhirnya Lukman pun mau menelpon Marlina lewat telepon genggam milik Ika.
Saat itu juga Ika memencet nomor ponsel Marlina dan langsung tersambung.
"Hallo Ika, ada apa ya?"
"Lina, kamu sedang sibuk nggak?"
"Aku sudah selesai urusan rumah, ada apa ya?"
"Ada yang ingin bicara denganmu, nanti ya aku berikan telponnya padanya."
Ika memberikan ponsel itu pada Lukman.
Dengan rasa malas, Lukman berbicara pada Marlina lewat panggilan telepon.
"Lina, aku minta kamu tak usah lagi kirim uang atau surat padaku. Karena itu semua tak penting. Dan satu hal lagi yang perlu kamu tahu, kami ini sudah berkecukupan karena sudah punya satu restoran yang Alhamdulillah selalu ramai pembeli."
"Uang yang beberapa bulan lalu kamu kirimkan lewat kantor pos, sudah aku titipkan pada Ika."
Setelah mengatakan hal itu, ponsel di berikan pada Ika. Padahal Marlina akan mengatakan sesuatu, akhirnya ia urungkan.
"Lina, uangnya ada di aku. Nanti aku kirimkan balik ke nomor rekening kamu ya."
"Ya sudah mau bagaimana lagi. Tadi aku belum selesai bicara malah Mas Lukman sudah pergi dulu."
"Nggak usah sedih, Lina. Semua bisa dibicarakan lagi nanti kalau kamu sudah pulang dari luar negeri ya."
__ADS_1
Setelah cukup lama telponan, baik Ika maupun Marlina mematikan sambungan telepon tersebut.