Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah

Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah
Kejujuran & Keramahan Ais


__ADS_3

Saat ini Ais melangkah menuju ke bagian Kasir.


"Mba, jika meja nomor dua membayar bilang saja tak usah ya. Mereka itu masih kerabat dekatku, jadi aku menggratiskan semuanya. Dan jika mereka akan memesan sesuatu untuk di bawa pulang juga berikan saja. Nanti semua akunyang ganti. Di hitung saja semuanya, nanti nota berikan padaku dan aku yang bayar," ucap Ais.


Ia bekerja sangat jujur, walaupun ia menggratiskan semua makanan yang di pesan oleh keluarga Aan, tidak berarti ia tak mengganti semua harganya dari makanan itu. Karena ia tahu jika restoran yang di pimpinnya itu merupakan restoran kolaborasi.


Jadi bukan restoran miliknya seutuhnya.


"Maaf, Non Ais. Boleh nggak saya tanya, tapi jangan marah ya?" ucap kasir tersebut menghentikan langkah Ais yang akan pergi.


"Hem, katakan saja mba. Apa yang ingin kamu tanyakan," ucap Ais tersenyum.


"Non, restoran ini kan di pimpin oleh Non sendiri. Tetapi kenapa non Ais kok mau membayar yang di gratiskan pada kerabat non itu? bukannya nggak usah di ganti kan nggak apa-apa?" tanyanya penasaran.


"Harus di ganti dong. Restoran ini bukan sepenuhnya punyaku, jadi kolaborasi dengan Bu Ira. Jika aku tak ganti sama saja aku curang dong. Aku ingin memberikan dengan uangku sendiri. Jika aku tak bayar sama saja yang memberi bukan pribadi tapi juga Bu Ira."


"Aku harus disiplin dalam bekerja di sini, tidak semaunya sendiri. Dan aku juga tidak ingin merugikan Bu Ira yang telah menjadi rekan kerjaku."


"Bu Ira sudah percaya sepenuhnya padaku untuk memimpin restoran ini jadi aku tidak boleh seenaknya sendiri seolah ini adalah punya sendiri. Walaupun Bu Ira tidak akan tahu, tapi menurutku itu tidak akan berkah."


Mendengar apa yang dikatakan oleh Ais, pelayan kasir tersebut benar-benar kagum atas sikap bijaksana dan kejujuran Ais.


"Wah, Non Ais hebat. Pantas saja restoran ini laris manis dan semakin berkembang. Terima kasih ya Mba Ais atas jawabannya, sekarang saya sudah tak penasaran lagi."


Ais hanya tersenyum, ia pun melanjutkan langkahnya untuk menyapa para pembeli yang lain.

__ADS_1


Ais selalu saja meluangkan waktunya untuk menyapa para pembeli, supaya bisa tahu apakah ada komplenan tentang cara penyajian atau pelayanannya atau bahkan tentang masakan yang di sajikan.


"Selamat siang, Bapak Johan dan teman-temannya," sapa Ais ramah.


"Selamat siang, Mba Ais" serentak jawaban Johan dan teman-temannya.


"Bagaimana hari ini, dan jika boleh saya tahu apakah ada hal yang kurang berkenan di resto kami? jika ada, bapak sekalian bisa katakan saja. Sehingga kami bisa memperbaiki diri lebih lagi, supaya para konsumen di sini tidak kecewa," ucap Ais seraya menyunggingkankan senyuman.


"Ada satu yang membuat saya kurang berkenan di sini, Mba Ais," ucap Pak Johan dengan mimik serius.


"Katakan saja, pak. Tak perlu sungkan, supaya kami bisa koreksi diri," ucap Ais ramah.


"Satu yang kurang berkenan dan sangat di sayangkan. Mba Ais sudah punya calon suami, jika masih lajang akan saya minta untuk menjadi menantu saya."


Sejenak gelak tawa teman-teman Pak Johan pada saat mendengar yang di katakan olehnya.


"Saya serius, Mba Ais. Saya itu kagum dengan Mba Ais. Masih muda belia tapi sudah menjadi seorang pemimpin."


"Yang lebih membuat saya kagum, Mba Ais mau seperti ini. Mengapa setiap pembeli di sini tanpa ada rasa sungkan. Karena dari sekian banyak restoran yang saya singgahi, hanya restoran ini yang saya tahu direktur utamanya."


"Restoran yang lain, saya sama sekali tidak tahu seperti apa wajah atasannya. Apa lagi di sapa seperti ini."


"Makanya saya membawa teman-teman saya ke sini. Supaya mereka tahu sendiri bagaimana pelayanan restoran ini. Bukan hanya para pelayan yang ramah tapi juga atasannya ramah dan tidak kaku suka bercanda seperti Mba Ais ini."


Mendengar banyak puji dari Pak Johan tak lantas membuat Ais besar kepala dan menyombongkan dirinya.

__ADS_1


"Wah, Pak Johan ini terlalu dalam memuji saya. Padahal saya di sini juga tahap belajar loh, masih butuh perbaikan diri. Makanya saya selalu rutin bertanya pada para pembeli karena khawatir kami punya salah yang tak kami tahu."


"Kami berusaha semaksimal mungkin untuk tidak membuat kecewa para pelanggan di sini. Oh ya Pak Johan, terima kasih atas pujiannya."


"Kalau begitu saya pamit, lain waktu kita sambung lagi. Mohon maaf Pak Johan dan bapak semua yang mungkin merasa terganggu karena kedatangan saya ini."


Ais berpamitan pada Pak Johan dan teman-temannya seraya menangkupkan kedua tangannya di dada.


Semua aktifitas Ais bisa di lihat oleh Bu Ira dari rekaman video CCTV yang di pasang tanpa sepengetahuan Ais.


"Subhanallah, Ais memanguar biasa. Pantas saja banyak para pelanggan yang memuji dirinya. Memang setahuku baru ada seorang direktur utama yang selalu rutin berkeliling hanya untuk menyapa para pembeli ya Ais saja."


"Sifat jujurnya itu juga aku suka sekali. Padahal aku tidak masalah sana sekali jika ia ingin berbagi dengan memberikan makanan pada kerabatnya."


"Hingga saat ini kok aku kok belum juga percaya jika Ais itu mantan sopir angkot. Karena dari sikap dan perilaku serta tutur katanya itu tak mencerminkan jika ia itu pernah menjadi sopir angkot."


"Juga aneh saja, Ais itu cuma lulusan SLTA tapi kok data pikir dan segala tindak tanduk mirip sekali dengan anak yang berpendidikan tinggi."


"Luar biasa didikan dari Pak Lukman. Dan sangat di sayangkan ibunya yang tega meninggalkan Ayah beserta adik-adiknya serta suaminya. Aku yakin pasti saat ini, oa sedang merasakan penyesalan."


Demikian gerutuan Bu Ira pada saat melihat Ais dari rekaman video CCTV yang ada di ponselnya. Setelah itu ia menutup ponsel tersebut dan melanjutkan aktifitasnya kembali.


Sementara saat ini, keluarga Aan segera ke bagian kasir. Dan pada saat Juragan Wardi akan membayar, utangnya di rampas oleh Bu Warsem.


"Mba, kata ...

__ADS_1


"Ya, Bu. Non Ais sudah mengatakan barusan, jadi semua makanan di gratiskan," ucap pelayan kasir memotong pembicaraan Bu Warsem.


"Oh syukurlah jika Mba sudah tahu. Sekalian saja ya mba, saya pesan serupa tetapi di bungkus. Tadi juga Ais sudah mengatakan jika kami boleh memesan lagi untuk di bawa pulang," ucap Bu Warsem tanpa ada rasa malu sama sekali.


__ADS_2