
Melihat pertikaian yang begitu hebat antara Ais dan Setyo, tak lantas membuat Ayah Lukman diam saja. Ia pun melerai keduanya.
"Ais, sudahlah. Kamu nggak lihat apa, semua pembeli melihat ke arah kita," Ayah Lukman menarik Ais untuk menjauh dari hadapan Setyo akan tetapi Ais tak berkutik.
"Ayah, jangan terus mengalah seperti ini. Sesekali kita perlu bertindak tegas dengan lelaki yang tak punya hati seperti dia yang tega memisahkan seorang ibu dengan ke tiga anaknya hanya demi kepentingan pribadinya," ucap Ais masih saja tersulut emosi.
"Heh, apa kupingmu tuli hah? di sini tidak ada yang merebut atau di rebut, ibumu dengan suka rela memilihku yang punya segalanya dari pada ayahmu yang waktu itu hanya sebagai kuli bangunan!"
Mendengar, lagi-lagi Setyo menghina ayahnya, Ais semakin kalap dan ia tak terima akan hal itu. Tiba-tiba saja tangannya akan melayang menamparnya tetapi di cegah oleh Ayah Lukman.
"Ais, kalau kamu masih anggap ayah ini ayahmu. Tolong dengarkan ayah, tinggalkan dia dan jangan ikuti amarahmu. Itu tidak baik, nak," tegur Ayah Lukman menggenggam salah satu pergelangan tangan Ais yang tadi akan menampar Setyo.
"Baiklah, ayah. Maafkan aku karena aku tidak terima dia terus saja menghina ayah," ucap Ais mulai bisa meredam rasa emosinya.
"Dan kamu, pergilah dari sini dan jangan buat keributan lagi di sini. Kamu salah jika mencari keberadaan Marlina di sini, karena ia tidak pernah kesini. Sejak saat itu kamu membawa nya pergi, hingga detik ini Marlina tidak pernah kesini!" usir Ayah Lukman pada Setyo.
"Baiklah, aku akan pergi. Tapi jika ternyata suatu saat nanti aku melihat Marlina ada di sini, aku akan buat perhitungan dengan kalian berdua!" ancam Setyo seraya berlaly pergi begitu saja.
Ayah Lukman kini bisa merasakan lega seperginya Setyo dari restorannya.
"Ais, lain kali kamu tidak boleh bersikap kasar seperti itu karena kamu ini kan seorang wanita," nasehat Ayah Lukman.
"Aku tahu jika aku ini seorang wanita, tetapi aku paling tidak terima jika ada orang yang menghina ayah di depan mataku sendiri. Karena ayah begitu berharga bagiku," ucap Ais yang membuat Ayah Lukman terbawa perasaan dan hampir saja ia tak tahan untuk menitikkan air matanya.
Setyo pergi dari restoran Ais dengan penuh rasa amarah yang membara. Ia begitu merasa terhina dengan apa yang telah di katakan oleh Ais padanya.
"Gila, aku benar-benar tak menyangka jika gadis yang di jadikan pacar oleh Bagas adalah anak kandung Marlina! apakah Marlina tahu tentang hal ini atau tidak ya? karena selama ini ia tak pernah berkata apapun. Bahkan aku juga tak pernah mendapati ia bersikap mencurigakan."
__ADS_1
"Hanya kali ini saja, Marlina pergi begitu saja tanpa ada kabar sama sekali. Tapi kenapa aku masih belum percaya jika Marlina tidak ada di restoran itu ya?"
"Bisa jadi mereka menyembunyikan Marlina dariku dengan dalih tak tahu apa-apa. Aku tidak akan tinggal diam, akan aku selidiki terus keberadaan Marlina."
"Jika perlu aku akan meminta beberapa anak buahku untuk selalu mengawasi restoran dan rumah mantan suami Marlina."
Terus saja Setyo menggerutu di dalam hati selama perjalanan pulang ke rumahnya. Bahkan hingga sampai di rumah, ia masih saja merasa kesal.
"Pah, dari mana saat sih kok lama sekali?" tanya Rindi kesal.
"Berisik kamu, jangan menambah kemarahan papah!" bentaknya kasar.
"Papah, pulang-pulang kok marah seperti ini? aku kan tanya baik-baik kok jawabnya penuh dengan emosi?" protes Rindi.
"Papah habis mencari mamah, tetapi justru papah mendapatkan bukti baru yang sangat membuat papah emosi!" ucap Setyo lantang.
Dengan rasa sungkan, Setyo menceritakan semuanya pada Rindi. Sejenak Rindi membelalakkan matanya tanda terkejut.
"Apa, jadi gadis kumuh itu adalah anak kandung mamah? kok aku nggak tahu ya? apakah mamah sudah tahu atau belum sih pah?" tanya Rindi penasaran.
"Entahlah, papah juga nggak tahu tentang hal itu. Jika saja di rumah ini ada mamah pasti papah akan tanya tentang hal ini padanya," ucap Setyo.
"Hem, mamah kan sudah bukan istri papah lagi. Lantas untuk apa pula papah mencarimya bersusah payah seperti itu?" ucap Rindi.
"Papah melakukan hal ini hanya untuk memastikan saja apakah mamahmu itu rujuk dengan mantan suaminya atau tidak. Makanya papah begini," ucapnya kesal.
"Lantas, papah sudah tahu belum? apa mamah rujuk dengan mantan suaminya itu?" tanya Rindi.
__ADS_1
"Entahlah, Rindi. Papah masih belum yakin untuk hal ini, sepertinya papah harus mengulang penyelidikan kembali."
"Pah, memangnya kenapa jika mamah rujuk dengan mantan suaminya? lagi pula status mamah sekarang kan sudah bukan istri Papah lagi."
Mendengar apa yang dikatakan oleh Rindi membuat darah Setyo semakin mendidih.
"Dasar bodoh! jelas papah tidak terima jika mamah rujuk dengan mantan suaminya! di sini harga diri papah merasa di injak-injak tahu!" bentaknya hingga membuat Rindi terlonjak kaget.
Baru kali ini Rindi mendapati Setyo marah besar, karena sebelumnya ia tidak pernah melihat kemarahan Setyo yang seperti sekarang ini.
"Astaga....setan mana yang sedang merasuki pikiran papahku ini? hingga sebegitu besar amarahnya saat ini," batin Rindi begidig ngeri.
"Sebaiknya aku pergi saja dari hadapan papah karena tak ingin menjadi pelampiasan amarahnya. Saat ini wajahnya menyeramkan. Pasti sebentar lagi akan keluar taringnya dan juga kuku yang runcing. Kenapa aku tiba-tiba membayangkan papah berubah menjadi makhluk buas seperti serigala?"
Saat itu juga Rindi pergi dari hadapan Setyo karena dia takut melihat amarahnya yang begitu besar.
"Heh, mau ke mana kamu? main nyelonong saja!" tegur Setyo pada saat melihat Rindi akan pergi.
Hingga akhirnya Rindi menghentikan langkah kakinya sejenak.
"Mau ke kamar mandi, Pah. Tiba-tiba perut aku mules ingin buang air besar," ucapnya berbohong.
"Ya sudah sana pergi, daripada nanti kamu di sini kentut terus yang membuat amarah Papah semakin tidak terkendali," ucap Setyo menatap sinis pada Rindi.
"Memang itu yang aku takutkan makanya aku ingin pergi dari hadapanmu, pah," batin Rindi seraya melanjutkan langkahnya masuk menuju ke kamarnya.
Seperginya Rindi, sejenak Setyo melamunkan Marlina.
__ADS_1
"Jujur saja mah, aku sampai saat ini masih cinta padamu. Tapi kenapa kamu pergi begitu saja? seharusnya semua kan bisa di bicarakan secara baik-baik. Seperti yang biasa kita lakukan jika aku punya salah, kamu menegurku. Yah walaupun aku kerap kali tak mau akui salahku secara langsung padamu," batinnya berkeluh kesah.