Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah

Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah
Bentrok


__ADS_3

Tak lama kemudian sampailah mobil Bagas di pelataran rumah Pak Lukman.


"Pak, aku izin ya untuk memberikan makan siang pada Ais." Belum juga Lukman mengatakan iya, Bagas sudah nyelonong masuk terburu-buru membawa makanan jatah Ais.


Sementara Pak Lukman menjatuhkan pantatnya di sofa ruang tamu, dia masih saja melamunkan tentang pertemuannya dengan Marlina.


"Sudah sekian lamanya kami berpisah dengan Marlina tetapi kini dia datang kembali walaupun bukan untuk kami. Tapi aku sangat yakin suatu saat nanti, anak-anak pasti akan bertemu dengan, Marlina," batin Lukman.


Sementara saat ini Bagas sudah ada di kamar Ais. Ais sedang duduk bersandar pada ranjang sembari memainkan ponselnya.


"Ais, sudah saatnya makan siang. Bagaimana kondisimu?" Bagas meletakkan punggung tangannya di kening Ais.


"Aku sudah baikkan kok, Den Bagas. Jadi Aden tak perlu repot-repot untuk bolak balik kemari," ucap Ais menyunggingkan senyuman.


"Makanlah, biar aku suapin kamu."


"Nggak usah, den. Biar aku makan sendiri."


Namun pada saat Ais akan meminta makanan itu, Bagas melarangnya dan ia berkeras hati ingin menyuapi Ais.


"Nggak usah keras kepala, menurut saja."


Hingga pada akhirnya Ais tak lagi menolak pada saat Bagas menyuapi Ais. Selalu saja mereka beradu pandang. Pasti Ais mengalihkan pandangannya karena merasa salah tingkah jika terus di tatap oleh Bagas.


"Ais, kamu kenapa? malu ya jika aku terus menatap mu?" tanya Bagas terkekeh seraya dia pun mengejar kemana Ais memandang hingga kembali lagi wajah Bagas ada di depannya.


"Aden, sedang apa sih? kenapa menggodaku?" Ais kembali memalingkan wajahnya ke lain arah lagi, tetapi kembali lagi Bagas beralih di hadapan Ais.


"Is, kamu kenapa sih? aku ini hanya ingin menatap wajahmu saja kok nggak boleh?" tanya Bagas seraya terus menatap lekat pada Ais.


Sementara di luar ruang tamu, tepatnya di ambang pintu. Datanglah Aan mengetuk pintu ruang tamu.


"Tok tok tok tok"


Ketukan pintu mengagetkan lamunan Lukman, ia pun langsung bangkit dari duduknya dan melangkah menghampiri pintu.

__ADS_1


"Eh Nak Aan," sapanya.


"Ada apa ya, Nak Aan? mari silakan masuk dan duduklah," sapa Lukman.


Aanpun lekas duduk di ruang tamu dia pun mengatakan apa maksud tujuan kedatangannya.


"Pak, kenapa Ais nggak juga narik angkot?" tanyanya penasaran.


"Oh iya, maaf ya Nak. Bapak dan Ais sampai lupa tidak mengatakan padamu dan Juragan Wardi, kalau Ais sudah tidak bisa narik angkot. Dia sekarang positif gantikan bapak, nak," ucap Lukman.


"Malah hari ini sedang tak narik angkot karena sedang sakit," ucap Lukman.


"Sakit, boleh saya jenguk pak?" tanya Aan meminta izin.


"Boleh saja, saat ini Ais ada di dalam kamarnya," ucap Pak Lukman, dia lupa jika saat ini di dalam kamar Ais ada Bagas.


Langsung saja Aan melangkah masuk mencari kamar Ais dan pada saat dia diambang pintu dia melihat Bagas sedang menyuapi Ais begitu mesranya.


Sementara Lukman baru ingat akan hal itu dia pun menyusul melangkah ke kamar Ais," aduh, bakal terjadi perang nech! kok bisa aku lupa jika ada Den Bagas di dalam kamar Ais ya."


"Aan, sejak kapan kamu ada di situ?" tanya Ais menutupi rasa gugupnya.


"Heh, lancang sekali kamu datang kemari?" ucap Bagas tak suka dengan kedatangan Aan.


"Maaf, Den. Tadi saya yang mengatakan jika Ais sakit dan ia ingin jenguk Ais," ucap Lukman.


"Pak, lain kali jangan seperti ini. Karena Ais itu butuh istirahat, dan tak boleh di ganggu gugat!" ucap lantang Bagas.


"Maafkan saya, den."


"Pak Lukman, anda seharusnya tak perlu minta maaf padanya. Ini kan rumah anda dan Ais itu putri anda. Masa iya dia yang hanya orang asing mengatur hidup anda," ucap Aan.


"Sudahlah, kalian itu jangan berantem hanya karena masalah sepele seperti ini," ucap Ais melerai pertikaian antara Bagas dan AAn.


"Ais, lekas minum obatnya dan setelah itu istirahatlah." Bagas mengambilkan obat yang perlu di minum oleh Ais.

__ADS_1


Setelah Ais meminum obatnya, Bagas pun melangkah pergi dari kamarnya. Dan ia juga memaksa Aan untuk tidak masuk ke dalam kamarnya.


'Heh, pergilah! Ais akan istirahat jangan di ganggu karena jika di ganggu nanti dia takkan lekas sembuh." Bagas menarik paksa Aan dan lekas menutup pintu kamar Ais.


Bagas terus mengawasi Aan, hingga ia benar-benar melihat Aan keluar dari rumah Ais. Setelah itu ia baru bisa tenang untuk kembali ke kantornya.


"Aku harus secepatnya mengatakan rasa cintaku ini pada Ais. Jangan sampai pemuda itu mengambil Ais dari sisiku," batin Bagas.


Dia sudah bisa merasakan jika Aan ada hati pada Ais.


Sementara Aan juga merasa heran dengan sikap Ais pada Bagas.


"Kenapa tadi mereka mesra sekali ya? apakah mereka sudah saling mencintai satu sama lainnya? aku melihat ada cinta di mata mereka berdua, aku lihat mereka itu saling mengagumi. Bisa aku lihat dari cara mereka saling bertatapan satu sama lain," batin Aan.


"Padahal aku belum mengatakan isi hatiku pada Ais, malah aku sudah ada pria lain yang sudah ada di hati Ais. Patah hati dech judul lagunya," batin Aan.


Berbeda situasi di tempat lain, Marlina juga sedang melamun memikirkan Lukman dan ketiga anaknya.


"Sudah sekian lama aku berharap bisa bertemu kembali dengan, Mas Lukman. Hingga pada akhirnya bertemu. Sebenarnya aku ingin menjenguk anak-anak, tapi aku khawatir ketahuan oleh Mas Setyo. Yang ada nanti aku bakal kena marah."


"Bagaimana ya kondisi Ais dan si kembar? apakah mereka hidup layak tanpa adanya seorang ibu? ataukah Mas Lukman sudah menikah lagi?"


Terus saja Marlina berkata sendiri di dalam hatinya. Dia agak menyesal telah meninggalkan keluarganya demi harta yang melimpah, demi seorang pria yang bisa memberinya segalanya.


"Marlina, kamu kenapa tak makan malah hanya diam saja? apa kamu sakit?" tegur Setyo menepuk lengan Marlina.


"Nggak ada apa-apa kok, mas. Hanya sedikit pening saja, tapi sudah agak mendingan kok," ucap Marlina menutupi kegugupannya.


"Makanlah walaupun sedikit setelah itu kita pulang kerumah ya. Dan nanti aku akan menelpon dokter pribadi kita," ucap Setyo.


"Iya, mas."


Beberapa menit kemudian, Setyo pulang ke rumah bersama dengan Rindi dan Marlina. Dokter pribadi keluarga itu telah terlebih dulu sampai di rumah mewah milik Setyo.


Dokter langsung memeriksa kondisi Marlina, dan mengatakan bahwa Marlina saat ini kondisi baik-baik saja.

__ADS_1


"Mas, kamu dengar kan? aku itu tidak apa-apa, sebenarnya kamu tak perlu memanggil dokter,' ucap Marlina.


__ADS_2