Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah

Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah
Kecewa


__ADS_3

Sesampainya di ruang kerja, Bagas. Ia pun menyajikan kopi tersebut.


"Mas, ini kopinya."


"Terima kasih sayang, duduklah karena aku ingin bicara penting denganmu," pinta Bagas.


Ais langsung duduk di hadapan Bagas dengan wajah yang sangat panik.


"Sayang, jangan panik seperti itu. Biasa saja kali, karena aku tidak akan menerkammu," goda Bagas terkekeh pada saat melihat wajah Ais yang begitu tegang.


"Hhee iya, mas. Tahu saja jika aku sedang panik," ucap Ais tersipu malu.


"Sayang, aku ingin bicara tentang pekerjaanmu ini," ucap Bagas kembali serius tak menggoda Ais lagi.


"Apa aku melakukan kesalahan, jika iya katakan saja salahku dimana mas. Aku minta jangan pecat ya, karena aku sedang menjadi tulang punggung untuk keluargaku," ucap Ais ketakutan.


"Sayang, aku kan belum selesai berbicara tapi kamu sudah kembali menyela. Kamu memang tidak melakukan sebuah kesalahan sama sekali, tapi aku tetap akan memecatmu."


Ucapan Bagas membuat Ais berkaca-kaca.


"Mas, kalau aku tak punya salah kenapa pula aku di pecat seperti ini? tolong jangan, mas," pinta Ais memelas tak sadar ia menggenggam jemari tangan Bagas.


"Sayang, aku ingin memberikan pekerjaan yang layak untukmu. Aku takkan ingin kamu menjadi cleaning servis atau sopir lagi. Masa iya seorang kekasih direktur utama menjadi sopir?" ucap Bagas terkekeh seraya membalas genggaman tangan Ais.


"Lantas jika aku tak menjadi cleaning servis dan sopir, aku akan bekerja menjadi apa? karena aku cuma lulusan SLTA?" ucap Ais memicingkan alisnya.


"Kamu kan bakat dalam hal memasak, aku akan memberikan modal untukmu membuka restoran. Kamu bisa di bantu oleh ayahmu," ucap Bagas.

__ADS_1


"Mas, tapi modal usaha kan besar? lantas bagaimana aku bisa mengganti uangmu kelak?" tanya Ais bingung.


"Sayang, barusan kan aku katakan memberimu modal bukan meminjamkan. Jadi tidak ada istilsh hutang piutang sama sekali."


Mendengar apa yang dikatakan oleh Bagas, Ais merasa tak enak hati.


"Mas, apa kata orang nanti. Pasti mereka akan mengira jika aku ini matre, aku tidak mau dikatakan seperti itu, mas," ucap Ais menolak secara halus.


"Jangan seperti itu, sayang. Tidak akan ada yang berani mengatakan hal itu padamu, jika aku dengar pasti akan aku hajar orang yang berkata seperti itu padamu," ucap Bagas.


"Mas, aku tak bisa langsung memutuskan. Aku akan bicarakan hal ini dulu dengan ayah ya, nggak apa-apa kan?" tanya Ais ragu.


"Iya, sayang tidak apa-apa kok. Memang sebaiknya seperti itu, kamu bicarakan dengan ayahmu dulu," ucap Bagas tersenyum.


Kini Bagas sudah benar-benar berubah, tidak pernah marah-marah lagi. Karena Aislah, Bagas menjadi luluh lantak begitu mudahnya. Padahal Ais tak melakukan apa pada Bagas. Justru pada saat awal mereka berkenalan, Ais selalu membuat ulah yang membuat Bagas semakin menjadi pemarah.


Selagi Ais sibuk dengan pekerjaannya datanglah Marlina, ia meminta Ais untuk tidak memenjarakan Setyo.


"Ais, ibu minta maaf jika mengganggu waktumu sebentar ya. Tolong dengarkan apa yang ingin ibu katakan padamu," pinta Marlina.


Dengan sangat terpaksa Ais menghentikan pekerjaannya dan ia menatap tajam Marlina," apa yang ingin anda katakan tapi waktuku tidak banyak cepat katakan saja!"


"Ais, ibu mohon padamu tolong jangan memenjarakan suami ibu. Biarkan saja Rindi yang menanggung semuanya Kate ia yang berbuat salah. Jika suami IB di penjara, lantas bagaimana dengan nasib ibu," pinta Marlina tanpa ada rasa malu sedikitpun.


"Sasaran egois, dari dulu hingga sekarang anda tak pernah berubah sama sekali. Hanya mementingkan diri anda sendiri. Yang berhak memutuskan bukan saya tapi Mas Bagas, memohon saja padanya jangan pada saya!" ucap Ais lantang.


Hingga pada akhirnya, Marlina melangkah menuju ke ruang kerja Bagas. Tanpa ada rasa canggung ia meminta kepada Bagas untuk mencabut tuntutannya terhadap, Setyo.

__ADS_1


"Bagas, tante mohon padamu untuk tidak memenjarakan Om Setyo. jika Om Setyo di penjara lantas bagaimana dengan kehidupan tante, karena yang menafkahi tante adalah Om Setyo," ucap Marlina.


"Tante, aku heran dengan sikap tante. Pada waktu itu tante sendiri yang mengadu pada aku jika Ais akan dilaporkan ke polisi. Sekarang aku telah berhasil membebaskan Ais supaya tidak sampai di penjara dan aku melakukan tindakan yang memang harus dilakukan selayaknya yakni menuntut balik atas apa yang dilakukan Om Setyo dan Rindi."


"Seharusnya tante mendukung apa yang aku lakukan karena semua ini demi anak kandung tante, tetapi kenapa malah lebih memihak pada Om Setyo? katanya Tante tidak ingin melakukan kesalahan yang sama seperti yang dulu pernah Tante lakukan."


"Aku benar-benar salah menilai Tante. Aku pikir Tante ini adalah seorang ibu yang sangat baik karena begitu menyayangi Rindi. Tetapi ternyata Tante ini ibu yang tak punya hati nurani yang telah menelantarkan anak tante."


"Sekarang Tante memohon seperti ini untuk suami Tante? maaf Tante, sekali aku memutuskan tidak akan berubah."


Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Bagas, Marlina sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia pun berlalu pergi dari ruang kerja Bagas dengan langkah gontay.


"Aku pikir bisa membujuk Bagas, ternyata tidak. Lantas akan sampai berapa lama, Mas Setyo dan Rindi ada di dalam penjara?" batinnya seraya putus asa.


Dalam perjalanan menuju vke pelataran kantor, Marlina sudah tidak berani lagi mendekati Ais. Ia hanya menatap sendu pada Ais, sementara Ais pura-pura tak melihatnya.


Ia malah membelakangi Marlina dengan sengaja supaya tak melihat wajah seorang ibu yang telah berlaku jahat padanya.


Situasi berbeda di rumah Lukman, dimana ia sedang dalam perjalanan ke sekolahan dengan tujuan ingin membayar tunggakan uang sekolah si kembar.


Namun pada saat ia sampai di sekolah dan menemui pak kepala sekolah, ia terhenyak kaget pada saat tahu jika uang sekolah telah lunas.


"Siapa sebenarnya yang telah melunasi uang sekolah si kembar ya? kata pak kepala sekolah masih family dengan Marlina. Sementara yang aku tahu Maina Sudan tak punya sanak saudara. Aku yakin pasti Marlina yang telah datang ke sekolah."


"Tapi kenapa juga si kembar tak mengatakan bahwa angsuran sekolah sudah lunas? apa mereka memang tidak tahu atau bagaimana ya?'


"Ah Marlina, untuk apa lagi sih kamu datang lagi di kehidupan kami setelah sekian tahun menghilang dan melupakan kami!"

__ADS_1


Ada rasa tak suka pada saat tahu jika yang telah membayar angsuran sekolah si kembar adalah Marlina. Lukman seumur hidup tidak akan memaafkan Marlina begitu saja. Sakit yang telah ia toreh begitu dalam.


__ADS_2