
Bagas sama sekali tidak menghiraukan sapaan dari Rindi, bahkan ia menggandeng tangan Ais dan si kembar untuk segera pergi dari hadapan Rindi.
"Sayang, sebaiknya kita pergi dari sini. Yuk, Ade-Ado. Kita ke wahana yang lain saja."
"Bagas, tunggu sebentar! aku kan sedang bicara denganmu kenapa kamu tak merespon aku?" Rindi berlari ke hadapan Bagas seraya merentangkan kedua tangannya ke samping kanan dan kiri.
"Untuk apa lagi sih? aku itu tidak ada urusan denganmu, dan tak ingin berurusan denganmu baik hari ini esok ataupun selamanya, " ucap lantang Bagas.
"Bagas, apa kamu tidak pernah merasa bersalah sedikitpun karena telah membuat papahku masuk ke dalam penjara?" ucap Rindi lantang.
"Rindi, menyingkirlah dari hadapanku. Jangan sampai aku berbuat kasar padamu!" bentak Bagas.
"Seharusnya kamu merasa ada sedikit rasa bersalah padaku jangan seperti ini Bagas. Kamu sama sekali tidak punya hati nurani!" bentak Rindi.
Kini kesabaran Ais sudah di batas ambang, ia pun kini ikut bicara.
"Heh, dasar muka tembok ya. Sudah jelas-jelas Mas Bagas menolakmu berulang kali kamu masih saja datang padanya," ejek Ais.
"Lagi pula Papahmu masuk penjara juga karena kesalahannya sendiri. Bukan kesalahan, Mas Bagas!"
Mendengar ejekan dari Ais justru Rindi semakin tersulut emosi dan pada saat tangan kanannya melayang akan menampar Ais, dengan cepat Bagas menangkisnya.
"Jangan harap kamu bisa menyentuh Ais! seujung kukupun tidak akan aku biarkan hal ini terjadi begitu saja! pergilah jauh, sebelum aku bertindak lebih tegas lagi padamu! apa kamu ingin dipermalukan di depan umum, hah?" bentak Bagas melotot ke arah Rindi, hingga pada akhirnya barulah ia menyingkir pergi begitu saja.
Rindi merasa malu sekali, usahanya tidak pernah berhasil untuk bisa mendekati Bagas lagi. Ia pergi dengan penuh amarah dan kekecewaan.
Dan pada saat ia berjalan tak melihat arah, ia tak sengaja menabrak seorang pemuda.
BRUG!
__ADS_1
Seketika itu juga ia berada tepat di dalam pelukan pemuda tersebut. Dan pemuda itu juga kaget karena ia juga sedang tak fokus. Ia berjalan sambil memainkan ponselnya.
"MAAF" serentak satu kata tersebut keluar dari mulut keduanya.
Dan mereka berdua saling bertatapan satu sama lain, keduanya begitu lama saling menatap tak sadar hingga pada akhirnya pemuda itu memundurkan badannya.
Ia pun tersenyum kepada Rindi dan langsung beralih pergi begitu saja tanpa menghiraukan Rindi lagi. Kini ia bagai terhipnotis, ia diam terpaku berdiri di tempat menatap ke arah dimana pemuda itu melengkah pergi.
"Ternyata pemuda tadi lumayan ganteng juga, pertemuan kami mirip seperti di acara film-film Korea. Aaahhh so sweet banget deh," batin Rindi tak sadar ia menyunggingkan senyuman.
Seketika itu juga ia pun celingukan sana sini dan kembali melanjutkan langkah kakinya pergi dari pasar malam tersebut.
"Untung saja tidak ada orang yang melihatku tersenyum sendiri. Untung saja di sekitarku tadi sepi. Jika banyak orang yang melihatku pasti mengira aku ini gila senyam senyum sendiri."
'Lumayan juga bertemu dengan pemuda yang lumayan tampan, bisa sedikit mengobati rasa kecewa pada Bagas."
Kali ini Rindi membawa motor maticnya dan pada saat ia nangkring di atas motor matic dan akan memasukkan kontak motornya, bahunya di tepuk oleh seseorang.
Mendengar suara itu, Rindi menoleh ke arah pemuda yang tadi menepuk bahunya.
"Astaga, dia lagi," batin Rindi.
"Mba, ini motor saya," ucap pemuda itu lagi."
Sejenak Rindi turun dari tangkringan motornya. Dan ia melihat lebih jelas body motor serta plat nomornya. Dan ia baru sadar jika memang ia salah mau ambil motor.
"Sialan, pasti ia mengira aku ini akan maling motor jika seperti ini," batin Rindi menahan rasa malunya.
"Mas, maaf ya. Aku pikir ini motorku karena body dan warnanya sama hanya saja plat nomor berbeda. Sekali lagi aku minta maaf." Rindi menangkupkan kedua tangannya di dada seraya mencoba tersenyum di tengah rasa malunya itu.
__ADS_1
Dia memundurkan badannya dan lagi-lagi ia merasa malu karena tidak melihat jalan dia pun tersandung di belakangnya, yang tak lain ada motor miliknya.
Dia pun mencoba tersenyum lagi pada pemuda itu dan justru pemuda itu ngakak melihat tingkah Rindi.
"Sialan sekali, ia menertawakanku! kalau ia jelek sudah aku caci maki habis-habisan dech. Kenapa tiga kali aku malu di depan pemuda itu?" batin Rindi langsung nangkring di motornya sendiri dan lekas melajukannya untuk menghilangkan rasa malunya pada pemuda itu.
Seperginya Rindi, pemuda ini terus saja melihat ke arah perginya Rindi.
"Hem cantik juga, tetapi apakah hatinya cantik seperti seseorang yang selama ini aku puja dan aku cinta tapi tak bisa aku miliki?" batin pemuda tersebut.
"Astaga....aku baru ingat! kenapa aku tadi tidak meminta nomor ponselnya ya? siapa tahu saja aku bisa perlahan mendekati dirinya. Siapa tahu saja aku ada kecocokan dengannya sehingga aku bisa move on dari Ais," batin pemuda ini yang tak lain adalah Aan.
Hal yang sama juga di rasakan boleh Rindi, ia juga merasa tolol karena tidak meminta nomor ponsel Aan. Padahal tiga kali ia di depan Aan saat itu juga.
"Waduh, seharusnya tadi aku dekati saja pemuda itu. Kan lumayan ya bisa untuk sejenak melupakan rasa kecewaku pada Bagas," batin Rindi.
"Hem, semoga lain kali aku bisa bertemu dengannya lagi. Dan jika saat itu tiba aku akan meminta nomor teleponnya, lumayanlah untuk mengisi kekosongan hati ini," batinnya kembali.
Dengan penuh rasa kecewa, ia pun terus saja melajukan motor maticnya arah pulang ke rumah. Dan pada saat sampai di rumah, asisten rumah tangganya menghadap pada dirinya.
"Non Rindi, bibi ingin bicara sebentar ya?" pintanya seraya ketakutan karena ia tahu Rindi itu begitu galak apa lagi kalau sudah memerintah tak punya aturan dan pikiran.
"Katakan jangan lama-lama," ucap ketus Rindi.
"Non, saya dari bulan kemarin belum di gaji sama papah non. Sementara saya juga butuh uang untuk keluarga saya di kampung, non," ucapnya pilu.
"Hah, masa iya papah belum gaji bibi? berarti dua bulan dengan sekarang ya?" tanya Rindi memastikan.
"Benar sekali, non."
__ADS_1
"Waduh...jika aku tak bayar gaji bibi. Lantas siapa yang akan mengurus rumah ini dan mengurus segala kebutuhanku. Dan juga aku harus membeli kebutuhan dapur juga ya?" batin Rindi terus saja berpikir.
"Hem...besok coba ya bi. Karena aku juga tidak punya uang. Bibi tahu sendiri kan aku tidak bekerja sementara papah sedang pergi entah kemana dan nggak memberi kabar sama sekali," ucap Rindi seenaknya mangkir dari tanggung jawab untuk membayar gaji bibi.