
Begitulah kehidupan Rindi sejak Setyo di dalam penjara. Hidupnya berbanding terbalik dengan Ais. Memang dahulu Aus hidup sangat sederhana, bahkan terlilit hutang sana sini. Tapi sejak kenal Bagas dan bahkan berpacaran dengan Bagas, kehidupan Ais berubah.
"Sayang, bagaimana hari ini di restoran?" tanya Bagas pada saat menjemput Ais pulang dari restoran
"Alhamdulillah, baik mas. Bahkan ada satu pelanggan yang memakai jasa restoran untuk acara pernikahan di sebuah hotel berbintang lima," ucap Ais sumringah.
"Wah, calon istriku ini memang pintar pembisnis ulung dan profesional," puji Bagas.
"Ist...ini semua itu berkat kamu mas. Awal mula kan kamu yang memberi saran buka restoran. Dan pada saat restoran tutup kamu juga yang memberikan saran untuk memasarkan secara on line. Dan alhasil aku bisa kenalan dengan Bu Ira."
"Terima kasih ya, mas. Sejak aku kenal dan dekat dengan dirimu, banyak sekali perubahan positif di dalam hidupku. Terlebih dari segi finansial."
"Mungkin jika aku tidak kenal kamu, saat ini aku masih menjadi sopir angkot. Sekali lagi terima kasih ya mas."
Mendengar akan hal itu, Bagas hanya tersenyum dan tiba-tiba ia menepikan mobilnya di pinggir jalan yang kebetulan sangat sepi.
"Mas, kok berhenti sih? apa ada masalah dengan mobilmu?" tanya Ais heran.
"Bukan mobilku yang ada masalah, tapi ini." Bagas mengetuk-ngetuk bibirnya sendiri dengan jari telunjuknya.
"Memang ada masalah apa dengan bibirmu, apa kamu sedang sariawan?" tanya Ais.
"Iya benar sekali, aku sedang sariawan karena kurang vitamin C," ucap Bagas.
"Hem, ya belilah vitamin C."
"Hem, vitaminnya kan ada padamu sayang," Bagas mengedipkan matanya.
"Hemmmmmm....alasan sariawan padahal ada maunya."
"Nggak mau nech kasih vitamin C untukku?" Bagas malah mendekatkan wajahnya dekat sekali di hadapan Ais hingga tak bercelah sama sekali.
__ADS_1
Ais pun mendekatkan bibirnya ke bibir Bagas. Dan ia terlebih dahulu mencium bibir Bagas. Akan tetapi pada saat Ais akan menarik bibirnya, justru Bagas menekan kepala Ais. Hingga Ais tak bisa melepaskan ciumannya.
Sejenak mereka berciuman di mobil. Setelah beberapa menit, Bagas dan Ais saling mengusap bibir mereka.
"Hemmmm lezat, nikmatnya bibirmu manis sekali sayang." Bagas terkekeh.
Ia pun melanjukan kembali mobilnya arah pulang.
"Sayang, nanti malam kita nyicil ya? membeli segala kebutuhan untuk pernikahan kita. Waktunya kan tinggal tiga bulan lagi," ajak Bagas.
"Baiklah, Mamas sayang."
Mendengar apa yang dikatakan oleh Ais, Bagas begitu riangnya.
"Coba katakan lagi aku ingin mendengarnya sekali lagi tapi kali ini katakan yang agak keras ya? kata-kata sayangnya itu loh, aku suka sekali," ucap Bagas seraya sejenak melirik ke arah Ais.
"Baiklah calon imamku, calon suamiku tersayang yang paling aku aku sayang." Ucap Ais seraya mengusap pipi halus Bagas.
"Baiklah Mas Bagas, aku akan mengabulkan keinginanmu. Setiap hari aku akan mengatakan kata sayang padamu, supaya setiap hari kamu merasa bahagia selalu," ucap Ais riang.
"Asik.... terima kasih ya sayangku cintaku kebanggaanku pujaanku segalanya bagiku..muach... muach...muach .."
Ais hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah calon suaminya tersebut yang begitu sumringah pada saat memanggil dirinya dengan kata sayang.
Tak terasa saat ini mobil yang ditumpangi oleh Bagas dan Ais telah sampai di i pelataran rumah Ais, ia
pun langsung turun.
Aja segera melakukan ritual mandi sorenya karena nanti setelah Maghrib, Bagas akan mengajak Ais pergi ke suatu tempat.
"Bi, sudah buat rekening belum? nanti terlupakan loh," tegur Ais pada saat selesai mandi.
__ADS_1
"Heee sudah, non. Bibi sengaja menunggu Non Ais bertanya dulu pada bibi tentang hal ini,' ucap si bibi.
"Lah kok begitu sih, bi. Kan sudah aku bang supaya bibi tak usah sungkan jika sudah buat rekening langsung saja kasih tahu aku. Seperti ini kan jadi bibi yang rugi, aku nggak transfer-transfer ke bibir rekening bibi kan?" ucap Ais.
"Nggak apa-apa, Non. Lagi pula Non juga sudah berbaik hati dengan mengizinkan saya kerja di sini dan tinggal di sini. Apa lagi semuanya di penuhi oleh, Non Ais. Gaji bibi bersih nggak di kurangi untuk kebutuhan bibi," ucap Bu Asih.
"Bibi, lain kali tidak ada hal seperti ini terjadi lagi ya. Perhatikan ini baik-baik, karena aku tidak ingin kebutuhan keluarga bibi di kampung terbengkalai hanya gara-gara aku telat mentransfer uang," ucap Ais menasehati bibi.
"Iya Non, bibi itu minta maaf ya."
"Iya Bi, mana nomor rekeningnya biar aku transfer sekarang juga," pinta Ais.
Bi Asih, meraih ponselnya yang ada di kantor saku bajunya dan ia menunjukkan nomor rekening milik ayahnya yang ada di kampung. Dan saat itu juga, Ais mentransfer gaji yang kemarin sempat tertunda karena bibi belum memiliki nomor rekening.
"Bi, ini gaji bibi satu bulannya di rumahku segini. Aku transfer semuanya ke nomor rekening yang tadi bibi berikan padaku. Apakah gajinya cukup atau kurang?" tanya Ais seraya menunjuk bukti transferan ke BI Asih.
"Astaga Non Ais, itu mah lebih banyak dari gaji bibi di tempat kerja bibi yang dulu. Terima kasih banyak ya Non Ais, bibi hanya bisa mendoakan semoga rezeki selalu mengalir yang deras dan juga selalu diberi kesehatan jasmani rohani dilindungi oleh Allah selalu diberikan panjang umur kemurahan dalam segala hal," ucap Bi Asih terharu dengan kebaikan Ais.
"Amin semoga doa yang bibi panjatkan untukku juga berbalik ke bibi juga ya? ya sudah bibi lanjut saja aktifitasnya"
"Oh ya bi, aku lupa ingin bertanya satu hal sama bibi. Apakah bibi kerasan bekerja denganku di rumah ini?" tanya Ais penasaran.
"Itu tidak perlu ditanyakan lagi Non Ais, bibi sangat kerasan tinggal di sini karena semua orang yang ada di rumah ini begitu baik sama bibi," ucapnya antusias.
"Alhamdulillah, jika begitu aku senang mendengarnya. Jika ada hal yang mengganjal di pikiran bibi sekiranya jangan dipendam ya bisa cerita saja sama aku atau sama ayah," pesan Ais.
"Siap Non Ais, sekali lagi bibi mengucapkan banyak terima kasih atas segala kebaikan Non Ais dan keluarga ini."
"Iya Bi, sama-sama."
Setelah sejenak ngobrol dengan bibi, Ais pun kembali ke kamarnya. Untuk segera bersiap-siap karena sebentar lagi Bagas akan datang untuk menjemputnya.
__ADS_1
Sementara bibi juga kembali ke paviliun belakang ke kamarnya. Karena pekerjaannya telah selesai. Ia benar-benar bersyukur karena telah di pertemukan dengan Ais.