
Selagi mereka asik berduaan di motor, Aan yang sedang menyupir angkot tak sengaja melihat akan hal itu. Dia begitu cemburu melihat kebersamaan Ais dan Bagas.
"Bagaimana bisa Ais berduaan dengan majikannya itu, katanya dia sangat benci dengannya karena sifat pemarahnya. Tetapi aku lihat dia sangat menikmati kebersamaannya, tangannya aja melingkar di pinggang pemuda itu. Jika seperti ini sudah tidak ada lagi kesempatan bagiku untuk bisa mendekati, Ais," batin Aan merasa putus asa dan patah hati.
Aan terus saja memperhatikan Ais dan Bagas yang kebetulan motor mereka berjalan tepat di depan mobil angkotnya, tanpa sadar Aan terus saja memukul-mukul kemudi angkotnya.
"Kenapa darah ini serasa mendidih ingin rasanya aku tabrak saja motor yang ada di depanku itu, tetapi aku khawatir Ais yang justru akan celaka karena ulahku," batin Aan sangat kesal.
Tak berapa lama Bagas menghentikan motornya di pelataran cafe, tetapi ia mencari tempat parkiran terlebih dahulu di cafe tersebut. Setelah itu dia mengajak Ais melangkah masuk ke dalam kafe dan memesan makanan yang sekiranya akan dijadikan menu untuk makan sore baik itu untuk keluarga Ais maupun keluarga Bagas.
Setelah mereka mendapatkan apa yang diinginkannya, Bagas pun melangkah kembali ke parkiran motornya dan dia pun melajukannya menuju ke rumah Ais.
Setelah sampai di pelataran rumah Ais, ia pun segera turun dari boncengan motor Bagas
"Den, terima kasih ya sudah diantar dan terima kasih juga ini lauk-pauknya," ucap Ais seraya tersenyum ramah.
"Sama-sama sayangku," ucap Bagas terkikik merasa geli sendiri mendengar apa yang di katakan sendiri.
"Ih, Den Bagas. Apa-apaan sih," Ais tersipu malu.
"Eh ada, Den Bagas. Silakan masuk dulu, Den," sapa Lukman keluar dari arah dalam rumahnya menuju ke pelataran di mana ada motor Bagas terparkir.
"Iya pak, terima kasih. Kebetulan saya sedang buru-buru karena khawatir lauknya dinanti oleh mamah dan papah," ucap Bagas menyunggingkan senyuman.
"Saya pamit pulang dulu ya, pak."
__ADS_1
"Iya den, hati-hati ya."
"Ais, aku pulang dulu ya," ucapnya menatap sendu wajah cantik Ais.
"Ya Den, sekali lagi terima kasih ya. Hati-hati di jalan," ucap Ais tersenyum manis.
Setelah itu Bagas pun melajukan motornya menuju arah pulang. Seperginya Bagas, Lukman pun menghampiri Ais.
"Is, sepertinya Den Bagas menyukaimu. Terlihat sekali dari cara menatapmu dan sejak bersamamu dia banyak sekali perubahan yang positif loh, sudah tidak marah-marah lagi seperti dulu," ucap Lukman menebak apa yang sedang di rasakan Bagas.
"Ayah, duduklah sebentar di sini. Aku ingin bicara karena banyak sekali yang ingin aku ceritakan pada ayah hari ini," pinta Ais.
Ayah Lukman dan juga Ais duduk di kursi teras halaman.
"Ada apa Ais, kenapa wajahmu terlihat sangat serius sekali?" tanya Lukman seraya terus menatap ke arah Ais.
"Untuk masalah hati, ayah tidak bisa memberikan sebuah keputusan atau saran karena hanya kamu yang bisa merasakan apakah kamu itu suka sama Den Bagas atau tidak. Ayah tidak akan melarangmu berhubungan dengan pria manapun selama pria itu benar-benar orang yang baik," ucap Lukman.
"Sekarang Ayah tanya padamu, apakah kamu menyukai Den Bagas seperti dia menyukaimu?" tanya Lukman menyelidik.
sejenak Ais diam saja, dia merasa bingung untuk mengatakan apa yang saat ini dirasakan.
"Entahlah Ayah, aku sendiri juga tak tahu apakah aku menyukai Den Bagas. Perasaan ini terasa aneh, kadang aku sebal dengannya tapi kadang aku juga memikirkannya," ucap Ais tersipu malu.
"Jika ayah lihat dari raut wajahmu itu, dan dari kebersamaanmu bersama Den Bagas, ayah rasa kamu itu telah jatuh cinta pula kepadanya," ucap Lukman.
__ADS_1
"Sebenarnya Den Bagas itu orangnya baik, hanya sifat buruknya itu gampang marah. Tetapi sepertinya dia sudah merubah sifat burungnya tersebut karena ayah sudah tidak melihat ada pancaran kemarahan pada diri, Den Bagas," ucap Lukman.
"Ayah, ada satu hal lagi yang ingin aku katakan padamu. Tadi pagi ibu datang ke kantor Den Bagas untuk menemuiku," ucap Ais.
"Lantas apa yang dia katakan padamu, memangnya kamu masih mengingat wajahnya?" tanya Lukman menyelidik.
"Aku tidak akan pernah melupakan wajah seorang wanita yang begitu kejam pada suami dan ketiga anaknya. Dia datang menemuiku dan bertanya apakah aku ini Ais, anak dari ayah. Aku tidak menjawabnya dan dia meminta maaf padaku tapi aku juga tidak menjawabnya lagi."
"Pertemuan itu yang pertama dan kami bertemu kembali untuk kedua kalinya pada saat jam makan siang di sebuah cafe di mana ibu datang bersama suaminya yang sekarang dan anaknya yang ternyata anak itu suka dengan, Den Bagas."
Mendengar apa yang dikatakan oleh, Ais. Sejenak Lukman diam saja tetapi di dalam hatinya dia berkata.
"Apa yang aku khawatirkan menjadi kenyataan, Marlina benar-benar menemui, Ais," batinnya.
"Lantas setelah kamu bertemu dengan ibumu perasaanmu bagaimana terhadapnya, ayah ingin tahu," tanyanya.
"Aku sama sekali tidak ada rasa rindu padanya, Ayah. Karena sudah dari kecil aku terbiasa hidup hanya dengan ayah saja, bahkan aku sangat membencinya karena dengan bertemunya aku dengan ibu, aku ingat kembali pada saat di mana ibu tak menghiraukan panggilanku hingga aku pun terjatuh. Dia sama sekali tak memperdulikanku, yang dia pikirkan hanyalah suaminya yang kaya raya itu," ucap Ais.
"Ya sudah kalau begitu tak usah kamu pikirkan lagi, dan kalau bisa kamu tak perlu cerita pada kedua adikmu ya," pinta Lukman.
"Walaupun aku tak di nasehati oleh ayah aku juga tidak akan menceritakan pertemuanku dengan ibu pada kedua adikku, karena aku rasa itu tidak perlu dan tidak penting," ucap Ais.
"Ayah tak usah khawatir ya, aku tidak akan meninggalkan ayah seorang diri. Karena aku sadar betapa besar pengorbanan ayah dalam membesarkan aku dan si kembar."
"Ayah bahkan tidak pernah memikirkan diri sendiri tidak pernah punya pikiran untuk menikah lagi. Terima kasih ya ayah atas kasih sayang yang ayah berikan pada kami selama ini. Aku minta maaf karena belum bisa membuat ayah bahagia."
__ADS_1
Tiba-tiba air mata keluar dari mata indah Ais, dia begitu sedih jika membayang kisah di masa lalu.
"Ais, ayah tak minta kamu membalas jasa ayah dalam membesarkanmu dan si kembar. Itu sudah kewajiban seorang ayah," ucap Lukman dengan mata berkaca-kaca.