Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah

Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah
Kedatangan Rindi


__ADS_3

Setelah berhasil menyuapi Ais hingga habis, Bagas menyiapkan obat yang harus di minum olehnya.


"Is, ini sudah ada aturannya ya. Jika kamu akan minum obatnya jangan asal minum, tetapi di baca aturan minum tiap obatnya. Jangan sampai overdosis," canda Bagas terkekeh.


"Minumlah obat ini, nanti siang aku akan datang lagi pada saat jam makan siang."


Bagas memberikan obat yang telah di siapkan pada, Ais.


Hanya sekali tegukan Ais pun meminum beberapa macam obat itu.


"Anak yang pintar." Bagas mengusap-usap pucuk rambut Ais seraya terkekeh.


"Aku bukan anak-anak, den. Aku sudah dewasa kok," protes Ais manyun.


"Hem, iya aku tahu. Masa iya kamu nggak tahu kalau aku hanya bercanda, memangnya cuma kamu saja yang bisa bercanda dengan memanggil aku, Baginda Raja?" Bagas menaik turunkan alisnya seraya tersenyum.


Ais semakin bingung dengan sikap Bagas yang menurutnya hari ini begitu mesra padanya.


'Terima kasih ya, den. Sebaiknya Aden lekas ke kantor, pasti ayah sudah menunggu. Lagi pula ini sudah siang nanti telat loh," ucap Ais mengusir Bagas secara halus.


"Hem, juga sih. Sebenarnya aku masih ingin di sini menemanimu, tapi apa boleh buat. Kamu jangan keluyuran ya, nanti jam makan siang aku pasti datang lagi." Kembali lagi Bagas mengusap pucuk rambut Ais seraya mengulas senyum manisnya.


"Iya, den. Hati-hati ya," ucap Ais seraya tak sengaja tatapan kembali bertabrakan dengan tatapan mesra Bagas. Sekilas Ais pun melempar mukanya ke arah lain.


Bagas lekas pergi meninggalkan kamar Ais, sementara Lukman yang sedari tadi mengintip dari ambang pintu lekas beralih karena melihat langkah kaki Bagas.


"Ayok pak, kita berangkat sekarang. Oh ya, nanti siang kita balik lagi kemari ya, pak. Tepat jam makan siang," pinta Bagas.


"Baik, den."

__ADS_1


Pak Lukman langsung melajukan mobilnya arah ke kantor Bagas. Sementara sesampainya di kantor, terjadi hal yang tak mengenakkan. Datang seseorang yang tak Bagas inginkan. Seorang wanita yang pernah di kenalkan oleh orang tuanya untuk bisa dekat dengan, Bagas. Wanita ini sedang menunggunya di lobi kantor.


Kebetulan Bagas melewati lobi kantor hingga dia bisa langsung tahu jika ada wanita ini.


"Heh, untuk apa kamu datang kemari?" tanya Bagas menatap sinis pada wanita tersebut.


"Bagas, kita sudah lama tak bertemu ternyata kamu belum juga berubah ya? pantas saja tidak ada satu wanita pun yang mau dekat denganmu. Tapi kamu tidak usah khawatir, akulah wanita yang mau menerima apa adanya. Aku suka tipe pria arogant dan dingin sepertimu, yang jelas sekali tak pernah bermain wanita," ucapnya dengan anggun melangkah mendekati Bagas.


"Heh, siapa suruh kamu mendekati aku! pergi sana dari kantorku! sebelum aku panggil security!" bentak Bagas mengusir wanita itu.


"Bagas, bersikap manislah padaku. Hanya padaku saja memangnya tidak bisa. Padahal aku jauh-jauh kembali dari luar negeri, orang yang pertama aku temui adalah kamu. Tapi kenapa penyambutannya seperti ini?"


"Sudah ngebacotnya? pergi gih, aku sedang banyak kerjaan jadi nggak ada waktu untuk meladeni wanita murahan seperti dirimu!" Bagaspun berlalu pergi dari hadapan wanita itu.


'Ih, kenapa aku susah sekali untuk bisa mendapatkan hatinya. Aku pikir dengan aku pergi sejenak ke luar negeri untuk perawatan kecantikan, setelah itu dia bakal luluh pada saat melihat penampilan baruku! kenapa masih saja susah sih?" batinnya kesal.


"Makanya aku ingin bisa mendapatkan cintanya tapi kok susah sekali. Dulu ia menolakku kenapa sekarang menolakku lagi?"


"Hem, pasti titik kelemahan ada pada Tante Eti dan Om Broto. Sebaiknya aku ke rumah Bagas saja."


Dengan penuh percaya dirinya, wanita inipun bergegas menyambangi rumah Bagas untuk bertemu orang tuanya. Namun rumahnya sepi, wanita ini tak tahu jika Bagas telah pindah rumah.


Lantas ia tanya pada tetangga dan akhirnya ia tahu rumah Bagas yang baru. Hanya beberapa menit saja, wanita ini telah sampai di rumah Bagas.


"Rindi?" orang tua Bagas terhenyak kaget pada saat melihat siapa yang datang.


"Pah, bagaimana ia tahu rumah kita yang baru?" bisik Eti pada suaminya.


"Pasti dia dari rumah yang lama lantas tanya pada tetangga," ucap Broto.

__ADS_1


"Hallo, om-tante. Sudah satu tahun lamanya ya kita nggak bertemu, bagaimana kabarnya?" tanyanya seraya mengulurkan tangan pada orang tua Bagas.


"Kami, baik. Lantas untuk apa kamu datang kemari? bukannya waktu itu kamu katakan tidak akan datang lagi kemari, dan kalau tidak salah terakhir kalinya kamu bahkan datang dengan seorang pemuda yang katamu itu calon suamimu," sindir Eti ketus.


"Tante-Om, pindah rumah kok nggak bilang-bilang? Tante, semuanya kan bisa kita bicarakan. Masa iya aku pulang dari luar negeri, datang kemari tidak di persilahkan duduk dulu. Cape ini loh, Tante. Berdiri terus seperti ini," ucapnya seraya menggoyangkan kedua kakinya seraya bergantian.


"Duduklah, memang ada kepentingan apa kamu datang kemari?" tanya Broto ketus.


Rindi menjatuhkan pantatnya di kursi teras halaman tepat di hadapan orang tua Bagas.


"Tante-Om, aku kemari ingin minta maaf pada kalian juga pada Bagas," ucapnya pasang wajah memelas.


"Sudah satu tahun berlalu untuk apa kamu datang untuk minta maaf setelah hinaan darimu pada kami? katanya kamu akan menikah dengan pemuda itu yang kamu bilang lebih kaya dari Bagas," ucap Broto ketus.


"Om, itu memang suatu kesalahanku dulu. Semua manusia kan tak pernah luput dari yang namanya kesalahan," ucap Rindi.


"Sudahlah, Rindi. Sudah tak ada gunanya lagi kamu datang kemari. Lagi pula dari awal Bagas juga sama sekali tak pernah meresponmu kan? apa lagi setelah ia tahu kamu jalan dengan pemuda lain, secara ia lebih lagi malas untuk membuka hatinya untukmu."


"Tante pikir kamu ini gadis yang baik karena orang tuamu itu sahabat baik kami. Dan kami sempat berharap kamu bisa meluluhkan hati Bagas yang keras dan dingin. Tapi ternyata kami salah."


"Kedatanganmu malah membuat Bagas semakin jauh dari yang namanya wanita dan ia sempat beranggapan semua wanita sama yakni penipu dan hanya manis di bibir saja."


Mendengar apa yang di katakan oleh Eti, sebenarnya Rindi sangat kesal hanya saja ia mencoba menahan kekesalannya itu.


"Tante, kan aku sudah minta maaf. Waktu itu aku juga emosi karena Bagas sama sekali tak merespon aku. Masa iya aku selalu di kacangin, di bentak, oleh Bagas. Gadis manapun tidak akan mau di perlakukan seperti itu. Makanya aku pergi begitu saja dan tak lagi mencoba meluluhkan hati Bagas," ucap Rindi.


"Kamu sudah tahu sifat Bagas dingin kasar mudah marah. Lantas untuk apa juga kamu datang lagi kemari? katanya mau menikah dengan pemuda kaya raya?" ejek Broto.


"Om, kenapa bicara seperti itu. Iya aku salah, om. Pemuda itu tak baik seperti yang aku kira," ceplos Rindi yang membuat orang tua Bagas tak habis pikir.

__ADS_1


__ADS_2