
Ais langsung melangkah ke dapur di sambut oleh bibi yang begitu antusias pada saat melihat kedatangan Ais. Sementara Bagas langsung ke kamarnya untuk dia berganti pakaian dulu. Entah kenapa ia ingin membantu Ais di dapur.
"Aden, ada yang bisa bibi bantu? tumben Aden ke dapur?" tanya bibi yang begitu heran pada saat melihat kedatangan Bagas ke dapur.
"Nggak bi, aku hanya ingin bantu memasak kekasih hatiku ini," ucap Bagas melirik genit pada Ais.
Si bibi hanya bisa mesam mesem seraya menaik turunkan alisnya menatap ke arah, Ais.
"Aden, aku kan belum mengatakan menerimanya. Kenapa sudah pede banget mengatakan kalau aku ini adalah kekasih, Aden?" ucap Ais manyun.
"Nggak perlu dengan suatu ucapan saja aku sudah tahu jika kamu secara tak sadar telah menerimaku,"kembali lagi Bagas menaik turunkan alisnya menatap Ais.
Ais hanya menggelengkan kepalanya, ia pun mulai untuk memasak. Dan Bagas terus saja ada di samping dirinya. Dia benar-benar membantu Ais, dengan sesekali terdengar gelak tawanya hingga sampai di ruang tengah dimana Eti dan Broto sedang bersantai.
"Mah, tumben anak kita bisa ngakak seperti itu ya? papah jadi penasaran apa yang telah membuatnya sangat lepas dalam tertawa." Saat itu juga Broto bangkit dari duduknya dan melangkah ke arah sumber suara tawa Bagas.
Eti pun tak mau kalah, ia juga mengikuti langkah kaki suaminya. Mereka begitu tak percaya melihat anak semata wayangnya, yang sedang berkutat di dapur.
"Mah, lihat. Anak kita sedang belajar untuk bisa menjadi seorang koki yang handal dan bisa memasak makanan yang nikmat," ujar Broto terkekeh.
"Mamah juga heran, tumben banget Bagas ada di dapur. Seumur-umur ini pertama kalinya Bagas berkutat di dapur," ujar Eti terkekeh.
Baik Eti ataupun Broto terus saja menggoda Bagas. Apa lagi pada saat melihat mata Bagas berair gara-gara memotong bawang merah dan daun bawang.
"Ya ampun anak mamah yang tampan ini tiba-tiba menitik air matanya, pasti sangat terharu karena bisa memasak dengan kekasih hatinya," goda Eti terkekeh.
"Uluh-uluh, nangisnya karena dicubitin ini sama Ais. Jangan nakal dong Ais, nanti dedek Bagas jadi nangisnya tambah keras loh. Liihat tuh air matanya mulai bercucuran membasahi pipinya nanti tinggal hidungnya keluar ingusnya hehehe," goda Broto terkekeh.
"Mah-pah, nggak usah kemari deh kalau hanya ingin godain aku aja. Nanti malah yang ada aku jadi nggak niat lagi untuk memasak," Bagas ngambek.
"Mah, ayok kita balik nonton TV saja. Nanti malah Bagas marah dan masakannya asin semuanya." Broto menuntun istrinya berlalu pergi dari dapur.
__ADS_1
Setelah nggak ada orang tuanya, Bagas kembali membantu Ais memasak.
"Den, biar aku dan bibi saja yang masak. Aden pastinya kan cape dari pagi hingga sore berada di kantor," ucap Ais.
"Hem, mau ya aku pecat? di sini yang majikannya siapa coba? kok berani ngatur-ngatur?" tanya Bagas ketus.
"Iyaaaaa, Aden yang majikannya dan aku yang kulinya," ucap Ais melirik sinis ke arah Bagas.
"Nah itu sudah tahu, nggak usah banyak ngatur. Kalau nggak ingin aku pecat," ucap Bagas mengancam.
"Hem, dasar bunglon," gerutu Ais masi bisa di dengar oleh Bagas.
"Apa yang barusan kamu katakan? kamu bilang aku ini apa, hah?" tanya Bagas seraya menatap ke arah Ais dan berkacak pinggang.
"Katanya telinganya masih waras, masa aku berucap saja nggak dengar dan aku harus katakan ulang? Aden ini mirip binatang bunglon, yang selalu ganti kulit. Sama halnya Aden sebentar manis sebentar kasar seperti saat ini," sidir Ais ketus.
Sejenak Bagas hari tersadar jika apa yang tadi ia lakukan memang salah.
Dia khawatir Ais malah semakin menjauh jika ia tak kunjung berubah.
"Sayang, maafkan aku ya. Hhee aku lupa diri hingga lupa emosi lagi," ucap Bagas seraya tersipu malu.
"Ya, Den. Nggak apa-apa kok, aku sudah paham dengan sifat Aden. Walaupun Aden itu pemarah, tetapi sebenarnya Aden ini orang yang sangat baik," puji Ais membuat Bagas semakin salah tingkah dan merona wajahnya.
"Aahhhh masa sih?" ucap Bagas tak percaya.
"Aaahhhh iya kok," ucap Ais terkekeh.
Si bibi yang melihat akan hal itu hanya bisa tersenyum saja. Ia senang karena majikannya sudah tidak pemarah lagi. Susah banyak perubahan selama ia kenal dengan Ais.
"Senangnya melihat Den Bagas yang sekarang murah senyum, tidak seperti Den Bagas yang dulu gampang sekali marah," batin si bibi.
__ADS_1
"Cinta memang tak bisa di tebak. Awalnya Den Bagas suka sekali mengajak Ais bertengkar, tetapi kini ia malah lengket pada Ais. Bahkan rela terjun ke dapur hanya demi membantu Ais,"Batin si bibi.
Kebahagiaan juga terpancar pada orang tua Bagas yang melihat perubahan positif pada anak semata wayangnya tersebut. Mereka juga sempat heran, seorang Ais bisa membuat Bagas berubah menjadi lebih baik dan juga bisa membuatnya jatuh cinta.
Empat puluh lima menit berada di dapur, akhirnya masakan telah tersaji di meja makan.
"Den, aku pamit pulang ya. Kan masakan sudah siap tersaji," pamit Ais.
"Jangan pulang dulu, aku mau mandi dulu terus aku antar kamu pulang. Tunggu saja aku di teras halaman rumah ya."
Belum juga Ais mengiyakan, Bagas sudah berlari kecil menuju ke kamarnya untuk lekas mandi. Ais pun melangkah depan menuju teras halaman.
Beberapa menit kemudian, Bagas sudah segar dan wangi. Terlihat sekali parasnya begitu tampan dan menawan. Ia berpamitan dulu pada orang tuanya untuk mengantar Ais, dan tak lupa seperti biasa Mamah Eti berpesan supaya bibi membungkuskan masakan tadi untuk makan sore Ais dan keluarganya.
"Sayang, maaf ya menunggu lama. Ini jangan lupa di bawa ya." Bagas memberikan kantung kresek berisikan menu masakan yang barusan ia masak bersama Ais.
"Terima kasih, den."
"Sebentar ya, sayang. Aku ambil motor dulu." Bagas berlari kecil menuju garasi untuk mengambil motor gedenya, hanya beberapa detik saja ia sudah ada di hadapan Ais.
"Ayok sayang, lekas naik."
Ais pun naik di boncengan motor Bagas, dan Bagas mengaitkan kedua tangan Ais di pinggangnya.
"Den, aku belum mandi. Masih bau asem dan bau bumbu dapur," Ais menolak untuk berpegangan pada pinggang Bagas, justru ia memundurkan tubuhnya.
"Ais, jangan mundur-mundur nanti kamu jatuh. Sudah nurut saja sih," pinta Bagas.
Hingga dengan sangat sungkan, Ais kembali memegang pinggang Bagas.
"Nah, begini dong. Dudukmu maju lagi, takut aku lupa ngebut nanti kamu bisa terjatuh," ucap Bagas.
__ADS_1