
Sore menjelang, Ais pun berpamitan pada ayahnya untuk lekas pergi ke rumah, Bagas.
"Ayah, aku pergi sebentar ya? siang tadi Nyonya Besar telpon meminta aku untuk datang sekitar jam lima sore, tapi aku akan datang lebih awal," pamit Ais.
"Memangnya untuk apa kamu datang ke sana? nyonya besar mengatakan apa saja?" tanya Ayah nya penasaran.
"Iihhhhh ayah kepo dech, kasih tahu nggak ya?" canda Ais terkekeh membuat ayahnya hanya bisa menghela napas panjang seraya menggelengkan kepalanya.
"Is, kapan kamu bisa serius? setiap ayah ajak bicara kamu selalu saja bercanda seperti ini, pantas saja Den Bagas suka melaporkanmu katanya kamu itu tak pernah serius dalam bekerja," ucap Ayahnya kesal.
"Ayah, menghadapi segala sesuatu itu jangan terlalu serius. Adakalanya kita butuh hiburan biar nggak gampang stres dan tekanan darah tinggi. Jika terlalu serius penyakit akan mudah datang, dan cepat tua," ucap Ais terkekeh.
"Sudah sana pergi lah, percuma ayah bicara panjang lebar yang ada malah di ceramahi sama kamu," usir ayahnya ketus.
"Astoge ayahku yang terganteng ngambek ria, keep smile dong my father. Nyonya besar nggak mengatakan apapun, yah. Hanya telpon bilang supaya aku datang sore katanya dia butuh pertolongan aku, tapi nggak ngomong tolong apa. Sudah ayahku terlope lope, jangan marah dong," Ais segera melangkah ke luar rumah menuju ke rumah Bagas yang jaraknya tak begitu jauh.
Ais dengan datang lebih awal yakni tiga puluh menit sebelumnya. Setengah lima sore, Ais sudah berangkat ke rumah Bagas.
"Ais, ayok masuk."
Ternyata Nyonya Eti sudah menunggu dirinya di teras halaman.
"Siap, Nyonya. Ada apa ya saya di minta datang kemari?" tanya Ais penasaran.
"Begini, Ais. Bagas kemaren makan malam di rumah kamu ya?"
"Iya, nyonya. Lantas kenapa ya?" Ais semakin bertambah penasaran.
"Bagas mengatakan katanya makan masakan kamu itu lezat sekali bagai masakan restoran. Jadi saya dan papahnya Bagas penasaran ingin pula merasakan masakan kamu itu. Mau ya kamu memasak untuk kami sekali ini saja," ucap Eti menatap sendu Ais hingga Ais tak enak untuk menolak.
"Den Bagas mah terlalu memuji, masakan saya cuma masakan kampung dan khas Nusantara. Baiklah, Nyonya. Saya akan memasak untuk Nyonya dan Tuan," ucap Ais tersenyum ramah.
"Kamu bisa misal apa saja, Ais?" tanya Eti penasaran.
__ADS_1
"Hem, maaf. Nyonya besar saat ini ingin makan apa, Insa Allah segala masakan saya bisa. Asal jangan masakan ala barat atau ala luar negeri," celotehnya terkekeh.
"Hem, apa ya? kita lihat saja di dapur ada stok sayuran apa dan daging atau ikan ada atau nggak. Nanti tinggal kamu oleh sesuai keinginan kamu saja." ucap Eti seraya tak sungkan merangkul Ais menuju ke dapur.
Di dapur Eti membuka kulkas dan fresernya." Itu Is, kamu tinggal pilih saja sayur apa dan daging atau ikan yang akan kamu masak ya?"
"Siap, Nyonya. Hem, kira-kira mau buat berapa menu masakan dan berapa menu lauknya ya Nyonya?" tanya Ais untuk memastikan.
"Hem, waktunya cukup nggak hingga menjelang Maghrib. Nanti bibi sama saya bantu kamu potong-potong biar cepat ya?" ucap Eti.
"Apa nggak merepotkan, Nyonya? biar saya saja dan bibi juga sudah cukup kok, nyonya. Nanti saya akan buat tiga menit masakan dan dua lauknya."
Ais langsung mengambil sayuran yang ingin dia masak.
Eti pun menuruti Ais, dia tak membantunya. Sementara Ais mengolah semua bahan makanan tersebut seraya berdendang ria, membuat si bibi sesekali terkekeh.
"Hehe, maaf ya bi.Saya sudah terbiasa jika di rumah memasak seperti ini."
"Iya, Ais. Sudah lanjut saja berdendang sambil bergoyangnya, bibi suka kok."
Pada saat Ais mempraktekkan goyang ngebornya, kala pantatnya nungging. Dia baru sadar jika dia menyenggol seseorang. Ais pun menoleh dan dia langsung terperangah seraya membekap mulutnya sendiri. Sementara si bibi terus saja terkekeh.
"Bibi, kenapa nggak bilang-bilang sih? kalau ada...," ucap Ais lirih seraya mepeik ke arah Bagas.
"Maaf, Baginda Raja. Saya nggak tahu ada Aden tepat di belakang saya." Ais menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Kamu masak apa lagi joged? jika seperti ini kapan selesainya sementara saya sudah sangat lapar!" bentaknya seraya melotot tepat di hadapan Ais.
"Heh, biasa saja kali. Nggak usah nyolot seperti itu, siapa kamu mengatur saya? di sini saya tamu karena mendapatkan undangan dari Nyonya Eti. Jadi anda tak usah seenaknya ya pada, saya." Ais justru berkacak pinggang melotot pula ke arah Bagas.
Mereka saling bertatapan lama sekali tanpa ada senyuman sedikitpun. Hingga pada akhirnya, Ais kesal pun berkata.
"Nggak usah menatap aku seperti itu kalau nggak mau aku colok matanya, Aden!"
__ADS_1
Mendengar perkataan itu, emosi Bagas memuncak. Dia pun melayangkan tangannya menampar akan menampar Ais, tetapi Ais sigap dan mengelak. Hingga tamparan malah mengenai si bibi.
Plak
"Ahhhh...sakit...den..." pekiknya.
"Huh, dasar kurang ajar ya kamu!" bentak Bagas.
"Bukan kurang ajar, tapi kurang tepat. Minta maaf sana sama bibi, kalau tidak saya akan laporkan hal ini pada, Nyoya Besar. Dan pergilah dari sini jangan ganggu waktu memasak saya. Jika seperti ini bagaimana akan lekas matang," ucap lantang Ais.
Namun Bagas sama sekali tak mengucapkan kata maaf pada bibi, dia malah berlalu pergi. Justru Ais yang merasa tak enak hati pada bibi.
"Bi, sakit pastinya ya? aku minta maaf ya, gara-gara ulah aku bibi yang kena tamparan." Ais menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Hem, nggak apa-apa Ais. Bibi cuma pura-pura kok, nggak sakit nggak," ucapnya lirih seraya terkekeh.
"Haduh bibi telah berhasil membuat jantungku mau copot," ucapnya seraya menghela napas panjang.
"Ais, goyang lagi dong. Bibi suka lihat kamu goyang dan menyanyi. Suaramu bagus loh, Ais. Kenapa kamu nggak mencoba mendaftar ikut lomba nyanyi sih?" puji bibi.
"Bi, aku tak perlu repot-repot ikut lomba. Karena aku sering kok berdendang membuat rekaman."
Ais kembali bergoyang.
"Wah hebat dong, kamu rekaman di mana Ais?" tanya bibi penasaran.
"Di dapur bi, dapur rekaman."
Bibi pun terkekeh mendengarnya, keduanya tidak ada hentinya berkali-kali tertawa hingga Eti pun mendengar.
"Ceria sekali Ais, aku jadi ingin bergabung di dapur."
Eti melangkah menuju ke dapur dan pada saat melihat Ais sedang menyanyi dan berjoged sembari masak, Eti pun tertawa hingga membuat Ais terhenyak kaget dan menoleh.
__ADS_1
"Hheeee.....ada Nyonya Besar."
Ais malu merona pipinya.