
Sementara Rindi kini semakin bertambah dendam pada Ais apa lagi sejak tahu jika Ais adalah anak kandung dari Marlina. Ia pun mencari tahu dimana restoran yang saat ini di kelola oleh Ais dan Ayah Lukman.
"Lihat saja Ais, aku tidak akan tinggal diam apa lagi saat aku tahu jika kamu adalah anak kandung dari Mamah Marlina. Aku juga akan membuat hancur sehancurnya dirimu!"
"Aku tidak rela jika kamu kelak bahagia bersama dengan Bagas. Jika aku tak bisa mendapatkan Bagas, kamu juga tidak. boleh mendapatkan dirinya!"
"Enak saja kamu ingin bahagia di atas penderitaanku ini. Itu tidak akan aku biarkan. Kamu pikir denganmu memenjarakanku, lantas aku akan tinggal diam? itu tidak akan aku lakukan!"
Rindi terus saja menggerutu di dalam hatinya, ia benar-benar menyimpan rasa benci dan dendam pada entah apa yang sedang ia rencanakan untuk mencelakai Ais.
Hingga pada suatu hari terjadilah suatu kehebohan kembali di sebuah restoran milik, Ais.
Dimana ada seseorang anak buah Rindi yang telah mengacau di restoran tersebut. Dimana pria ini dengan secara sembunyi-sembunyi menaruh cicak dan kecoa di dalam makanan yang ia pesan.
Bahkan orang ini juga berpura-pura sakit perut saat makan menu masakan yang ada di restoran Ais.
"Apa-apaan ini kenapa ada kecoa dan cicak pada makanan yang aku pesan ini? bahkan perutku menjadi sakit seperti ini?" teriak pria ini membuat heboh para pembeli yang lain.
Semuanya penasaran ingin melihat apakah benar di dalam makanan pria itu ada cicak dan kecoanya setelah semua pembeli melihat hal itu mereka pun memutuskan untuk tidak melanjutkan makannya di restoran. Semuanya berlalu pergi begitu saja dengan umpatan hinaan caci maki pada restoran Ais.
Semua orang merasa jijik melihat hal itu, hingga pada akhirnya memutuskan untuk tidak akan kembali datang ke restoran Ais.
Melihat kejadian itu para pelayan sempat menghentikan langkah para pembeli untuk meninggalkan restoran tersebut namun usaha para pelayan tidaklah membuahkan hasil karena semua pelanggan sudah terlanjur kecewa.
Hingga pada akhirnya salah satu asisten pribadi Ayah Lukman berlari-lari menuju ke ruang kerja untuk menemui Ayah Lukman dan Ais. Ia melaporkan kejadian hal itu kepada ayah dan anak tersebut.
"Tok tok tok tok tok"
Satu ketukan pintu terdengar di ruang kerja Ais.
__ADS_1
"Masuklah pintunya tidak dikunci," jawab Ais dari dalam ruangan.
Saat itu juga asisten pribadi Ais atau Ayah Lukman masuk ke dalam ruang kerja tersebut.
"Ada apa ya mbak?" tanya Ais memicingkan alisnya.
"Begini Mbak Ais, di luar terjadi kehebohan di mana ada salah satu pembeli mengaku bahwa makanan yang dia makan itu terdapat kecoa dan cicak. Bahkan ia mengaku sakit perut setelah makan makanan itu sehingga membuat pelanggan yang lain pergi begitu saja dari restoran ini," ucapnya dengan wajah panik dan cemas.
Saat itu juga Ais dan Ayah Lukman melangkah pergi dari ruang kerjanya menuju ke restoran. Mereka terperangah pada saat melihat tidak ada satupun pembeli, tetapi meja berserakan dengan pesanan yang tak di makan.
"Mba, mana pria yang telah berulah itu? ayah, aku yakin ini hanya akal-akalan dari seseorang saja supaya reputasi restoran kita hancur," ucap Ais seraya celingukan mencari pria yang di maksud oleh asisten pribadinya.
"Lantas siapa yang jahat pada kita seperti ini, Ais? setahu ayah, selama ini kita tidak punya musuh sama sekali," ucap Ayah Lukman bingung.
"Entahlah, ayah. Mba, mana pria yang mba barusan ceritakan tadi?" tanya Ais kembali.
"Tadi pria itu duduk di sini kok mbak, mungkin dia sudah pergi kali."
"Sudah jelas sekali kita sedang dijahati seseorang ayah, tapi sayangnya tidak ada CCTV hingga kita tidak bisa menangkap pelakunya."
"Coba saja waktu itu Ayah tidak menolak saran aku untuk memasang CCTV di setiap penjuru ruangan, pasti permasalahan yang saat ini kita hadapi akan bisa terselesaikan dan bisa untuk kita menangkap pelakunya dengan bukti CCTV tersebut, ayah."
Mendengar apa yang dikatakan oleh Ais, Ayah Lukman merasa bersalah karena memang pada saat didirikannya restoran itu, Ayah Lukman ngotot untuk tidak memasang CCTV karena menurutnya itu tidaklah penting.
"Maafkan ayah ya Ais, atas apa yang telah ayah lakukan hingga pada akhirnya kini kita mengalami kejadian seperti ini dan tidak bisa mengetahui dalang atau pelakunya," ucap Ayah Lukman seraya tertunduk lesu.
"Sudahlah ayah, tak usah dipikirkan apa yang telah terjadi yang penting kita saat ini berusaha menyelesaikan permasalahan ini," ucap Ais walaupun ia sangat ragu bisa menyelesaikan masalah ini karena sama sekali tak ada bukti yang bisa menangkap pelaku keonaran tersebut.
"Aku harus bagaimana untuk bisa menghadapi permasalahan ini? apa sebaiknya aku katakan hal ini pada Mas Bagas ya? siapa tahu saja ia punya cara jitu untuk aku bisa menyelesaikan masalah ini," batin Ais.
__ADS_1
Akhirnya saat itu juga, Ais menelpon Bagas untuk segera datang ke restoran saat itu juga.
Kring kring kring
Satu panggilan telepon masuk ke dalam nomor ponsel Bagas. Saat itu juga ia langsung mengangkat telpon tersebut.
"Halo sayang, ada apa?"
"Mas Bagas, bisakah datang ke restoran sekarang juga? karena di sini sedang ada masalah tapi aku bingung bagaimana cara menghadapinya."
"Memang apa masalah itu, sayang?"
"Sebaiknya Mas Bagas datang saja dulu kemari biar lebih jelas. Karena jika aku katakan di telepon itu tidak akan nyaman."
"Ya sudah, aku segera datang ke restoran sekarang juga."
Saat itu juga keduanya mematikan panggilan telepon tersebut. Dan Bagas langsung keluar ruang kerjanya dan menyerahkan urusan kantornya pada salah satu asisten pribadinya. Bagas sudah tak sabar lagi ingin sampai di restoran Ais.
"Ya Allah, sebenarnya apa yang sedang terjadi di restoran? kenapa aku mendadak menjadi khawatir seperti ini?" gumamnya seraya melajukan mobilnya menuju ke restoran.
Hingga tak berapa lama sampai juga Bagas ke restoran Ais. Ia langsung mencari keberadaan Ais dan Ayah Lukman.
"Ais, sebenarnya apa yang telah terjadi di restoran ini?" tanya Bagas.
Ais segera menceritakan kekacauan yang telah terjadi barusan di restoran tersebut pada Bagas.
"Sungguh sangat di sayangkan karena tidak ada CCTV. Jika seperti ini akan sulit bagi kita untuk bisa menangkap pelakunya," ucap Bagas seraya menghela napas panjang.
"Makanya aku minta Maaf Bagas datang kemari. Aku pikir Mas punya ide atau saran yang bisa kita lakukan untuk menyelesaikan permasalahan ini," ucap Ais merasa putus asa.
__ADS_1
Bagas hanya diam saja, ia juga bingung karena tidak adanya CCTV.