Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah

Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah
Hati Yang Tak Menentu


__ADS_3

Seperginya Marlina, barulah Lukman kembali membuka pintunya.


"Sialan, kenapa ia datang kemari setelah sekian lamanya pergi begitu saja? aku tidak akan membiarkan ia bisa bertemu dengan anak-anak."


"Aku yang bersusah payah membesarkan ketiga anak kami sendirian. Kini ia datang dengan gampangnya meminta maaf, ini tidak akan aku biarkan begitu saja!"


"Tidak akan pernah aku maafkan dirinya sampai kapanpun. Tidak akan!"


Terus saja Lukman bergumam sendiri, dia benar-benar sudah tidak bisa memaafkan atas apa yang pernah di lakukan oleh Marlina tempo dulu. Walaupun Lukman selalu mengatakan pada Ais supaya tidak benci pada ibunya, tetapi ia sendiri kerap kali masih saja merasakan sakit yang teramat sangat.


Pada saat Marlina pulang dari rumah Lukman dengan kondisi tak menentu. Tepat di depan pintu gerbang rumah Bagas, mobilnya hampir saja menabrak mobil Bagas yang sedang keluar dari pintu gerbang.


Ccccrrriiiiiiiittt....


Bunyi roda mobil berdecit karena rem mendadak.


Ais merasa kesal dengan kekemunculan mobil yang begitu mendadak. Baik mobil yang sedang di kemudikan olehnya maupun di kemudikan oleh Marlina keduanya saling mengerem mendadak.


"Den, sebentar ya." Ais keluar dari mobil begitu pula Marlina, ia keluar untuk meminta maaf.


Namun pada saat Ais melihat siapa orang yang mengemudi mobil itu, ia pun terperangah.


"Ibu, bagaimana mungkin ia ada di kota ini? Bukannya dulu ia ada di kota lain? setelah sekian lama, bagaimana mungkin tiba-tiba ia ada di depan mata? tapi aku takkan mengaku jika aku ini anaknya, anak kandung yang tak di anggapnya. Karena ia lebih memilih lelaki kaya dari pada suami dan anak-anak," batin Ais seraya terus menatap ke arah Marlina yang sedang melangkah ke arahnya.


"Nak, saya minta maaf ya. Karena saya buru-buru." Marlina menangkupkan kedua tangannya di dada dan menatap sendu ke arah Ais.


Namun Ais tidak mengatakan sepatah katapun, ia terus saja menatap sinis ke arah Marlina. Hingga satu teguran mengagetkan dirinya.


"Ais, lama sekali sih." Bagas akhirnya keluar dari mobilnya dan melihat ada Marlina ia pun menyapa.


"Tante Marlina, bagaimana Tante ada di sini?" tanya Bagas menyelidik.


'Bagas, hem anu sedang jalan-jalan saja. Berarti kamu sekarang tinggal di sini, di rumah ini?" tanya Marlina seraya menatap ke rumah Bagas.

__ADS_1


"Iya Tante, silahkan saja kalau mau mampir tapi saya sedang buru-buru karena ada meeting pagi hari."


"Ais, ayok kita berangkat karena aku tak ingin telat," pinta Bagas menatap ke arah Ais.


Ais pun masuk ke dalam mobil begitu pula dengan Bagas, ia segera melajukan mobil Bagas tanpa ada sepatah kata pun.


Sementara Marlina terbelalak dan ia terus saja menatap ke arah kepergian mobil Bagas.


"Ais? apakah tadi itu Aisyah anakku, sepertinya memang iya. Bukankah waktu itu yang aku lihat menyupiri mobil Bagas adalah Mas Lukman. Tapi tadi Ais, iya berarti tadi Ais anakku. Kenapa sudah ada di depan mata aku hanya diam saja?" batin Marlina seraya melangkah ke mobilnya dan melajukannya lagi.


Ia mengindahkan Bagas yang menawarkan untuk mampir ke rumahnya.


'Ais sudah besar, cantik, tetapi kenapa dia kerja sebagai supir? lantas apakah ia tidak sekolah?"


Terus saja pikiran Marlina tertuju pada Ais.


Begitu pula Ais yang saat ini juga sedang melamunkan Marlina. Tepatnya melamun kan masa lalu di saat dulu ia berlari mengejar ibunya hingga terjatuh tetapi ibunya tetap tak peduli, malah ia lebih memilih lelaki kaya yang ternyata adalah papahnya Rindi.


Bagas merasa heran melihat Ais yang biasa ceria dan riang kini diam saja.


"Sakit ini tidak akan pernah hilang begitu saja, karena telah membekas di dalam jiwa," tiba-tiba Ais berkata aneh hingga Bagas semakin bingung.


"Is, kamu ngomong apa sih? aku tanya apa jawabnya apa, dan....tolong hentikan mobilnya sebentar."


Ais pun menghentikan mobilnya seraya ia menatap ke arah lain. Namun Bagas sudah melihat air matanya.


Dengan kelembutan, Bagas meraih dagu Ais dengan kedua tangannya


dan menolehkan wajahnya ke wajah Bagas.


"Is, apa yang membuat kamu menangis?" tanya Bagas heran seraya jemarinya menghapus air mata Ais.


"Nggak apa-apa, den. Aku tidak menangis hanya saja tadi kelilipan," ucap Ais berbohong.

__ADS_1


Pada saat Ais akan menatap ke arah lain, kembali lagi Bagas memalingkan wajah Ais ke wajahnya.


"Ais, katakan saja kesedihanmu padaku. Dan jika dengan menangis mampu membuat hatimu lega, maka menangislah," ucap Bagas.


Hingga tak sadar Ais malah menangis kencang, di hadapan Bagas. Ia pun tanpa sungkan meraih Ais meletakkannya di dadanya.


Bagas mengusap surai hitam Ais.


"Sebenarnya ada apa, Ais? jika aku bersalah padamu aku minta maaf. Katakan saja apa yang membuat mu seperti ini? karena tak biasanya kamu seperti ini, Ais? kamu ini gadis periang dan suka sekali bercanda," ucap Bagas.


Setelah begitu lamanya Ais menangis tanpa sadar di dalam pelukan Bagas. Pada saat ia sudah tenang, ia pun merenggangkan diri dari pelukan Bagas.


"Maafkan saya ya, den. Saya nggak sadar telah....


"Sadar pun tak apa-apa, justru aku sangat menikmatinya," sela Bagas memotong perkataan Ais.


"Aden ngomong apa sih?" tanya Ais seraya mengusap air mata dengan tisue yang ada di depan kaca mobil.


"Ais, aku ingin mengatakan hal ini sekarang saja ya?"


"Mengatakan apa, den? nanti saja ya den bicaranya, katanya Aden ada meeting di pagi hari." Ais pun mulai siap untuk mengemudikan mobil Bagas.


"Astaga, ia benar juga. Oh ya, biar aku saja sini yang nyetir karena suasana hatimu sedang tak menentu."


Tanpa menunggu lama, Bagas keluar dari mobil dan melangkah ke arah kemudi lantas meminta Ais pindah di samping kemudi.


Awalnya Ais menolak, tapi akhirnya ia pun menyerah juga karena memang suasana hatinya sedang tak menentu gara-gara bertemu dengan Marlina.


"Ais terlihat sangat sedih, ada apa sebenarnya ya? tapi aku sedang buru-buru karena ada meeting pagi, jika tidak pasti aku akan tanyakan hal ini dan aku akan hibur Ais lebih lagi," batin Bagas seraya sesekali melirik Ais yang sedang melamun.


"Is, aku punya cerita ini. Kamu mau dengar nggak?"


"Boleh, den. Cerita saja pasti aku akan dengarkan," ucap Ais menoleh ke arah Bagas seraya mencoba tersenyum.

__ADS_1


Bagaspun mulai bercerita, untuk menghibur hati Ais yang sedang sedih.


"Pada suatu malam yang cukup dingin, seorang tukang becak sedang jengkel karena tidak dapat penumpang dari siang hari. Akhirnya si tukang becak memutuskan untuk pulang saja."


__ADS_2