
Eti tersenyum pada saat melihat aksi lucu Ais sembari masak sembari berjoged.
"Lanjutkan saja, Ais. Saya suka kok."
Lantas Eti berlalu pergi dari dapur karena tak ingin mengganggu keseruan Ais dalam memasak sambil berjoget.
Setelah Eti mengurungkan niatnya ke dapur, Ais mulai lagi dengan aktifitas tersebut hingga tak terasa semua masakan telah matang dan tersaji di meja makan.
"Hem, wanginya benar-benar menggugah selera makan," ucap Eti pada saat melihat semua makanan sudah tersaji di meja makan.
Dia pun tak ingin tunggu lama lagi langsung memanggil suami dan juga anaknya untuk makan bersama. Pada saat Ais akan pergi, Eti telah terlebih dahulu membungkus untuk di bawa pulang Ais.
"Ais, kamu ikut makan juga ya?" ajak Eti.
"Nggak usah, Nyoya Besar. Saya mau makan di rumah saja, berhubung tugas saya sudah selesai, saya pulang ya Nyonya Besar-Tuan Besar," pamit Ais.
"Ya sudah jika kamu ingin pulang sekarang, biar Bagas yang mengantarkan pulang kamu ya?" pinta Eti.
"Nggak, aku nggak mau antar pulang dia! Biar dia pulang sendiri jalan kaki juga sampai," ucap ketus Bagas.
"Bagas, kamu tak boleh menolak permintaan mamah."
Mendengar akan hal itu, Bagas pun tak punya pilihan lain hingga dia akhirnya mau mengantarkan Ais pulang ke rumahnya dengan mengendarai motor gedenya.
Eti juga tak menyuruh Ais dengan cuma-cuma, dia memberikan amplop berisi uang. Walaupun Ais sempat menolak tetapi Eti tetap memaksanya.
Selama dalam perjalanan pulang, keduanya tidak ada kata hingga sampai di depan rumah, Ais.
"Cepat turun, lama banget sih!" bentak Bagas.
"Sabar kenapa, perutku kan masih sakit!" Ais pun balik membentaknya.
"Berani banget sih kamu sama aku, hah!" Bagas mulai tersulut emosi.
"Hah hah, kemarin heh heh. Apa nggak bisa membiasakan dengan memanggil namaku? apa kamu lupa aku kaya gini juga karena menolongmu, sehingga aktifitasku menjadi lambat!" omel Ais.
"Mau itung-itungan, kamu pikir aku sudi di tolong olehmu, hah? seharusnya kamu biarkan saja aku yang kena tusuk!"
Mendengar akan hal itu Ais hanya bisa menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Dasar pria berhati batu! bukannya bersyukur telah di tolong malah nyolot. Ok, lain kali jika aku melihat kamu dalam bahaya, aku tidak akan menolongmu!" bentak Ais.
Setelah itu dia berlalu pergi masuk ke dalam rumah tanpa sepatah kata lagi.
"Sialan, ketemu cewe kok sifatnya nggak banget. Tapi dia lain dari pada yang lain, unik juga sih. Ada lucunya pada saat joged tadi, ada barbarnya, ada cerobohnya, ada sifat kewanitaannya yakni pintar memasak, ada juga sifat tomboynya menjadi sopir angkot."
Sejenak Bagas senyum senyam sendiri pada saat mengingat segala sifat Ais, mendadak dia pun tersadar juga.
"Ih, kenapa juga aku mikirin dia ya?" gumamnya seraya melajukan motornya arah pulang.
"Eh, jalan-jalan sebentar kayanya asik juga nech. Hem, lama juga aku nggak berkeliling dengan si jantan motor gedeku ini."
Hingga akhirnya Bagas melupakan rasa laparnya, dia malah berniat berkeliling kota sejenak.
Namun pada saat baru setengah jalan, tiba-tiba motor berhenti sendiri.
"Kenapa sih ini motor, nggak bisa di ajak kompromi sama sekali! aduh, ternyata bensinnya habis," gumamnya kesal pada saat cek tangki isi bensin, ternyata bensin kosong.
"Aku nggak bawa ponsel, nggak bawa dompet lagi! lantas bagaimana ini?" batinnya kesal seraya celingukan kanan kiri.
"Setiap kali aku sama Ais, pasti selalu saja sial dan apes seperti ini! mau jalan kaki pulang jauh, nggak mungkin juga. Mau beli bensin, nggak ada uang sama sekali. Lantas aku harus bagaimana ya? apa aku jalan saja pulang ke rumah ya, paling tiga puluh menit baru sampai rumah. Ah, tapi cape juga, apa lagi perut aku belum di isi makanan gara-gara mamah nyuruh aku anter Ais pulang!" terus saja Bagas menggerutu kesal akan apa yang sedang dia alami saat ini.
"Itu kan teman Ais, apa aku minta tolong saja padanya ya? ah gengsi amat, kemarin aku kan sudah marah-marah padanya," batin Bagas.
Tetapi setelah dia berpikir panjang, dia memutuskan untuk minta tolong pada Aan.
"Untuk hari ini aku hilangkan dulu rasa gengsinya dari pada aku tak bisa pulang ke rumah. Mau jalan juga males."
Bagas menghentikan laju mobil angkot yang sedang di kemudikan oleh Aan.
"Itu bukannya cowo majikan, Pak Lukman? untuk apa pula dia menghentikan laju angkotku, apa dia ingin menyelesaikan permasalahan yang lalu ya? Hem siapa takut."
Aan pun menepikan angkotnya dan menghampiri Bagas seraya berkacak pinggang.
"Apa kamu, mau lanjutin pertengkaran kita waktu itu? mau ajak adu jotos, ayok aku sudah siap."
Aan menyingsingkan lengan bajunya.
"Bukan, mas. Aku justru ingin meminta maaf padamu atas sikap aku yang lalu," ucap Bagas walaupun di dalam hati nggak rela mengucapkan kata maaf tersebut.
__ADS_1
"Haa kamu akhirnya sadar juga jika kamu itu salah. Ya sudah aku maafkan, tapi awas kalau lain kali kamu menantang aku lagi, aku ladenin kamu." Aan pun membalikkan tubuhnya dan akan kembali ke angkotnya.
Namun di tahan oleh Bagas.
"Mas tunggu sebentar, ada yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Bagas.
"Apa lagi sih, kita kan sudah tak punya masalah tapi kenapa masih saja menghalangi langkahku?" ucapnya ketus.
"Mas, aku butuh bantuanmu mau ya?" ucap Bagas memelas.
"Bantu apa lagi, hah?" tanya Aan ketus.
"Motor aku kehabisan bensin, bolehkah aku pinjam uangnya untuk isi tangki bensin motorku. Besok aku kembalikan uangnya. Kebetulan aku tidak bawa ponsel atau dompet sama sekali.Rumah aku jauh jadi aku malas jalan dengan menuntun motornya," ucap Bagas memelas tanpa menghiraukan lagi gengsinya.
"Hem, sebentar ya? ini buatmu, nggak usah hutang."
Aan memberikan uang lima ribu pada Bagas dia sengaja mengerjainya.
"Yang benar saja, masa lima ribu perak? hari gini uang lima ribu nggak dapat buat beli bensin. Apa lagi hari gini BBM naik," ucap Bagas menahan rasa geram.
"Ya sudah kalau nggak mau aku ambil lagi uangnya. Lagi pula jarak rumah kamu dari pombensin kan nggak jauh-jauh amat. Jadi uang lima ribu ya cukup untuk bensin sampai ke rumah." Setelah itu Aan pergi berlalu begitu saja tanpa menghiraukan Bagas.
"Sialan, aku malah di kerjain seperti ini. Masa iya beli bensin pake uang lima ribu? tapi biarlah aku coba dari pada nantinya aku pulang jalan kaki."
Kebetulan pom bensin tak jauh dari lokasi motor Bagas mogok.
"Full tang ya, mba?"
"Maaf nggak bisa, mas?"
"Kenapa nggak bisa, mba? apa tangki motor saya kegedean?"
"Masih saja bertanya, apa pom bensin ini milil nenek moyangmu. Masa uang lima ribu minta full tangkinya!"
"Mba, nanti aku bayar kurangnya kalau sudah di rumah. Aku bakal datang lagi."
"Nggak, mas. Beli tempat lain saja sana, di sini nggak terima hutang!"
Hingga pada akhirnya Bagas pun mengalah, dia membeli dengan harga lima ribu dan bensin yang dia dapat sedikit sekali.
__ADS_1