Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah

Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah
Keributan Yang Terjadi Di Restoran


__ADS_3

Sampai hari ini Setyo masih belum menerima keputusan cerai dari Marlina.


"Padahal perceraian sudah beberapa bulan yang lalu tetapi aku masih saja belum terima atas apa yang dilakukan Marlina padaku."


"Aku menjadi penasaran dengan kehidupan Marlina yang sekarang. Kenapa tidak dari beberapa bulan yang lalu aku menyelidikinya ke rumah mantan suaminya saja ya? betapa bodohnya aku hingga melupakan hal itu."


"Jika memang ternyata Marlina rujuk dengan mantan suaminya, aku tidak akan memaafkannya begitu saja."


Setyo pun memutuskan saat itu juga menyambangi rumah mantan suami Marlina yakni rumah Ayah Lukman. Perjalanan tak butuh waktu lama, Setyo telah sampai di pelataran rumah Ayah Lukman. Sejenak ia terus mengintai dari balik mobilnya namun tak kunjung juga ia melihat adanya sosok seorang Marlina di rumah tersebut.


Karena rasa penasarannya yang belum juga hilang, ia pun memutuskan untuk keluar dari mobilnya. Ia melangkah menuju ke rumah tetangga untuk menyelidiki tentang Marlina lebih lanjut.


Ia berpura-pura ingin bertemu dengan Ayah Lukman dengan dalih yakni ia adalah salah satu sahabat karib dari Ayah Lukman yang sudah lama tak bertemu.


"Maaf Bu, saya mengganggu waktunya sebentar ya," ucapnya sopan.


"Oh iya pak, nggak apa-apa. Apakah ada yang bisa saya bantu?' tanya wanita tersebut.


"Begini ibu, saya ini adalah sahabat karib dari pemilik rumah di sebelah ibu ini. Saya sudah lama sekali tidak bertemu dengannya, bahkan kami hilang komunikasi hingga saya memutuskan untuk datang saja kemari. Tapi tat kala saya datang kemari kok rumahnya sepi ya?" ucap Setyo.


"Oh maksud bapak, Pak Lukman ya? kebetulan beberapa bulan ini Pak Lukman dan anak perempuannya itu di sibukkan di restoran baru mereka yang letaknya lumayan jauh sih dari sini," ucapnya.


"Oh pantes saja, saya dari tadi menunggu di pelataran rumahnya tidak ada satupun orang yang keluar dari rumah itu. Kalau boleh tahu di mana ya Bu alamat restoran Pak Lukman? karena saya akan datang ke sana untuk ketemu kangen lah ceritanya," ucap Setyo seraya tersenyum.


Tetangga dari Ayah Lukman tak ada rasa curiga sama sekali ia pun memberikan alamat restoran di mana saat ini Ayah Lukman dan Ais saat ini sedang berada.


"Bagaimana bisa mantan suami Marlina memiliki sebuah restoran? padahal yang aku tahu dulu mantan suaminya hanya seorang kuli bangunan, makanya Marlina meninggalkannya dan lebih memilih hidup denganku."


Beberapa menit kemudian Setyo sudah berada tepat di pelataran restoran yang sangat mewah megah dan ramai pengunjungnya, tetapi ia sama sekali tidak turun dari mobilnya. Ia hanya mengintai dari dalam mobil dengan kondisi mobil yang benar-benar tertutup kaca jendela mobilnya.


"Kok bisa ya mantan suami Marlina mempunyai sebuah restoran yang mewah seperti ini bahkan ramai sekali pengunjungnya?" gumam Setyo masih saja belum percaya dengan apa yang telah ia lihat.

__ADS_1


Setyo sengaja menunggu beberapa menit di dalam mobilnya tersebut, mengintai ke arah restoran n


Ayah Lukman.


"Kenapa dari tadi aku tidak melihat keberadaan Marlina? apa aku harus masuk ke dalam restoran itu, tetapi yang ada nanti mantan suaminya mengenaliku," gumamnya lagi.


Tetapi rasa penasaran dan rasa resah gelisahnya sama sekali tak bisa di bendung, hingga pada akhirnya ia pun keluar dari mobilnya dan melangkah masuk ke dalam restoran tersebut tanpa ada rasa gentar sedikitpun.


Setyo memilih tempat duduk yang menurutnya sangat nyaman dan strategis untuk bisa mengintai orang yang keluar masuk dari dalam restoran tersebut, supaya ia lebih mudah untuk mengetahui apakah Marlina ada di dalam restoran tersebut atau tidak.


Pada saat Setyo mengusap-usap wajahnya beberapa kali, tanpa ia sadari di hadapannya telah datang Ais membawa menu makanan dan minuman yang ada di dalam restoran tersebut.


Baik Ais maupun Setyo sama-sama terkejut.


"Kamu"


"Om"


"Itu dulu, om. Sekarang saya mengelola restoran ini bersama ayah saya," ucap Ais lantang.


Mendengar perkataan dari Ais, jantung Setyo bagai terhenti sejenak.


"Jadi pacar Bagas ini ternyata adalah anak kandung dari Marlina," batin Setyo masih tak percaya.


"Kenapa om tertegun seperti itu? om tak mengira kan kalau saya ini adalah anak kandung dari seorang wanita yang telah om ambil paksa dari suaminya," ucap lantang Ais.


"Heh, jaga bicaramu ya? aku sama sekali tak pernah mengambil paksa Marlina, tetapi ia dengan suka rela mau menjadi istriku. Seharusnya kamu itu menyalahkan ayahmu yang miskin hingga istrinya dengan mudah berpaling darinya," ejek Setyo.


"Berhenti anda menghina ayah saya ya! sekarang pergi saja anda dari sini, lagi pula untuk apa sih anda datang kemari?" Ais semakin tersulut emosi.


"Kamu pikir saya datang kemari untuk makan di sini, nggak level saya makan makanan orang kampung! yang ada nanti saya keracunan!"

__ADS_1


"Mana Marlina, cepat panggil supaya ia keluar! gara-gara kamu dan ayahmu, Marlina menjadi berani pada saya dan meninggal rumah!"


Tanpa ada rasa malu, Setyo melangkah masuk saja seraya celingukan mencari Marlina.


"Hentikan! anda jangan buat keributan di sini, karena orang yang anda cari tidak ada di sini! pergilah dari sini dan jangan datang lagi!" bentak Ais kesal seraya mendorong paksa tubuh Setyo untuk tidak melanjutkan langkahnya masuk lebih dalam lagi ke restorannya.


"Heh, lancang kamu ya? berani sekali melawan saya, apa kamu tak takut dengan akibatnya?" bentak Setyo melotot seraya berkacak pinggang.


"Saya sama sekali tidak takut dengan orang sombong seperti anda! yang saya takutkan hanya yang kuasa!" tantang Ais melotot pula ke arah Setyo.


Keributan yang terjadi di dalam restoran sempat terdengar di dapur hingga Ayah Lukman pun keluar untuk melihatnya.


"Ais, ada apa ini?" tanya Ayah Lukman memicingkan alisnya pada saat melihat Ais sedang bersi tegang dengan Setyo.


Belum juga Ais menjawab, Setyo sudah terlebih dahulu berkata seraya melotot ke arah Ayah Lukman.


"Heh, di mana kamu sembunyikan Marlina?" bentaknya.


"Marlina, aku sama sekali tak menyembunyikannya. Jadi anda jangan asal bicara ya," ucap Ayah Lukman mulai tersulut emosi juga.


"Halah, ayah dan anak sama saja tukang bohong!" ejeknys ketus.


"Berhenti anda berkata kasar pada kami, dasar pebinor! perebut bini orang!" bentak Ais.


"Ais, jadi orang ini...


"Iya ayah, orang ini yang telah merebut ibu dari ayah. Dan orang ini juga yang waktu itu melaporkan aku ke kantor polisi, padahal anak ya yang berulah."


"Apa belum cukup masa tahanan yang anda lewati, hah? anda ingin merasakan lebih lama lagi berada di dalam jeruji besi?'


Ais begitu marah besar pada Setyo, bahkan ia sama sekali tak sadar jika para pelanggan yang ada di restoran melihat ke arah dirinya yang sedang berdebat dengan Setyo.

__ADS_1


__ADS_2