
Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya dokter yang menangani Ais keluar dari ruang UGD.
"Dok, bagaimana kondisi pasien?" tanya Bagas terlihat khawatir.
"Pisau yang menancap di perut telah berhasil kami ambil. Tetapi luka tusuknya begitu dalam hingga sempat terjadi pendarahan. Saat ini pasien kondisinya kritis."
"Saya tidak bisa menjanjikan apapun, kita sama-sama berdoa saja semoga terjadi suatu keajaiban dan pasien bisa pulih sediakala."
Mendengar apa yang di katakan oleh Dokter, tiba-tiba tubuh Bagas seketika lemas dan dia jatuh terduduk di bangku yang ada di depan ruang UGD.
"Jangan putus asa, untuk saat ini yang pasien butuhkan adalah dukungan doa dari kita semua," ucap sang dokter.
"Saya permisi dulu, jika ada sesuatu hubungi saya saja. Karena ada pasien lain yang harus segera saya tangani."
Setelah mengucapkan akan hal itu, dokter pun meninggalkan ruangan tersebut.
Bagas dan kedua orang tuanya segera masuk ke dalam ruangan UGD. Bagas duduk di kursi yang telah tersedia di samping brankar dimana saat ini Ais berbaring tak berdaya.
"Ais, sadarlah. Jika kamu seperti ini, apa yang harus aku katakan pada ayahmu? aku minta maaf atas segala apa yang pernah aku lakukan padamu, Ais. Ayohlah sadar, Ais."
Orang tua Bagas ikut sedih melihat kondisi, Ais. Mereka juga bingung bagaimana caranya menjelaskan pada Pak Lukman tentang kondisi Ais.
"Pah, bagaimana cara kita menjelaskan pada Pak Lukman tentang kondisi Ais?" mamahnya mulai gelisah.
"Biar, papah saja yang kerumahnya untuk menjelaskan kondisi Ais pada ayahnya. Mamah di sini saja menemani Bagas." Broto langsung pergi dari ruang UGD dan berlalu pergi menuju ke rumah Ais.
Ganja beberapa menit saja telah sampai di rumah, Pak Lukman.
"Tuan Broto, ada apa gerangan datang kerumah?" tanya Pak Lukman penasaran.
"Bagaimana kondisi kesehatanmu, Lukman?" tanya Broto.
"Alhamdulillah saya sudah baikan. Besok saya sudah bisa bekerja lagi," ucapnya sumringah.
__ADS_1
"Lukman, saya kemari karena ada hal yang ingin saya sampaikan padamu," ucap Broto merasa tak enak hati.
"Kenapa wajah Tuan terlihat serius memangnya ada apa ya, Tuan? apakah Ais berulah lagi ya?" tanya Lukman menyeledik.
Dengan penuh rasa khawatir dan tak enak hati, Broto mulai menceritakan tentang apa yang telah menimpa pada Aisyah. Mendengar cerita dari Broto, seketika Lukman menjadi panik.
"Astagfirullah alazdim, Ais. Saya ingin melihat kondisi anak saya, tuan. Apakah dia saat ini baik-baik saja?" tanya Lukman semakin ingin tahu kondisi Ais karena Broto sengaja tak mengatakan jika saat ini Ais kondisi sedang kritis.
"Lukman, jika ingin jenguk Ais ayok sekarang juga kita ke rumah sakit."
Saat itu juga Lukman tak lupa berpamitan pada kedua adik Ais, dan dia pun pergi bersama Broto.
"Ya Allah, kenapa hati ini merasa tak tenang mendengar kabar tentang Ais. Semoga anakku kondisinya tak apa-apa," batin Lukman.
Tak berapa lama mereka telah sampai di rumah sakit dan langsung melangkah ke ruang UGD. Lukman sempat panik pada saat tahu jika Ais berada di ruang UGD.
"Tuan, apakah kondisi Ais parah hingga di tempatkan di ruang UGD?" tanya Lukman.
"Ayok kita masuk, Lukman. Kamu lihat sendiri kondiso Ais."
Saat itu juga Broto masuk di ikuti oleh Lukman. Dan pada saat Lukman melihat anaknya tak berdaya, dia pun menitikkan air matanya.
"Ais, kenapa semua ini harus terjadi padamu? ayah sudah sembuh dan akan kembali bekerja, tetapi kamu malah seperti ini. Seharusnya saat ini ayah yang ada di posisi kamu, bukan kamu. Ini semua gara-gara ayah," Lukman terus saja menangis.
"Pak Lukman, ini bukan salah bapak. Tetapi ini salah saya, gara-gara meminta Ais untuk menerobos jalan karena saya ada meeting dadakan."
"Saya minta maaf, pak. Gara-gara Ais menyelamatkan nyawa saya hingga dia seperti ini."
Mendengar apa yang di katakan oleh, Bagas. Lukman sama sekali tak menyalahkan dirinya.
"Den Bagas, Aden tidak bersalah. Jika saya ada di posisi Ais, saya juga akan melakukan hal yang sama. Menjaga majikan saya dengan sepenuh hati. Apa yang Ais lakukan ini karena saya yakini mengajarkannya," ucao Lukman.
"Pak Lukman, sebaiknya saat inikira berdoa saja bersama supaya masa kritis ia lewat dan dia lekas sadar," saran Bu Eti.
__ADS_1
Hingga saat itu juga semua yang ada di ruang UGD menuju ke mushola yang ada di rumah sakit, untuk mendoakan Ais. Sementara Ais di titipkan sementara ke salah satu perawat selama mereka berada di mushola.
Beberapa menit kemudian, setelah mereka selesai sholat berjamaah. Mereka kembali ke ruang UGD.
"Pak Lukman, jangan khawatir biar saya yang rutin menjaga Ais. Karena bapak pasti repot untuk mengurus kedua adik Ais," ucap Bagas.
"Ya,den. Terima kasih ya."
Setelah cukup lama berada di rumah sakit terpaksa Lukman pulang, akan tetapi sebelum pulang, Bagas mm memberikan amplop yang berisikan uang padanya.
"Pak Lukman, ini ada sedikit uang untuk kebutuhan rumah bapak dan dua adik Ais. Untuk biaya rumah sakit, bapak tak usah khawatir. Semua menjadi tanggung jawab saya. Biar saya juga yang akan menjaga Ais selama ada di sini," ucap Bagas.
"Terima kasih ya, Den." Lukman menerima pemberian uang tersebut karena memang dia membutuhkan untuk keperluan sehari-hari.
Lukman pulang di antar oleh sopir pribadi Broto. Dan pada saat dia sampai di depan rumah, telah menunggu Aan.
"Aan, kamu sudah lama?" tanya Lukman.
"Belum, pak. Kok rumah sepi, memangnya Ais belum pulang? oh iya, besok Akan sudah bisa narik angkot belum ya, pak?"
Serentetan pertanyaan keluar dari mulut Aan yang membuat Lukman menjadi sedih kembali. Lukman mengajak Aan duduk di teras halaman.
"Tolong sampaikan pada ayahmu, kalau Ais belum bisa narik angkot. Karena terjadi musibah padanya, dan saat ini Ais kondisi kritis di rumah sakit," ucap Lukman tertunduk lesu.
"Astagfirullah alazdim, bagaimana hal itu bisa terjadi pak?" tanya Aan semakin penasaran.
Lukman pun menceritakan semuanya pada Aan bagaimana hal itu bisa terjadi. Setelah mendengar akan hal itu, Aan tak tinggal diam. Dia meminta alamat rumah sakit dimana Ais di rawat saat ini.
"Pak, terima kasih atas informasinya. Baik tak perlu khawatir, saya juga akan membantu bapak untuk menjaga Ais selama ada di rumah sakit. Kalau begitu saya permisi pamit pulang."
Aan tak lupa mencium punggung tangan Lukman.
Dia sudah menganggap Lukman seperti ayahnya sendiri. Karena kebetulan Lukman teman dekat ayahnya. Dan Aan teman masa kecil Ais.
__ADS_1