Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah

Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah
Penasaran


__ADS_3

"Dalam perjalanan menuju ke rumah, tiba-tiba muncul wanita berambut panjang memanggilnya."


"Wah, penumpang nech," pikir si tukang becak.


"Akhirnya wanita ini naik."


"Si tukang becak bertanya," mba mau kemana?"


"Jalan saja pak, nanti juga saya kasih tahu," jawab wanita itu datar.


"Ketika sampai di depan kuburan, wanita itu tiba-tiba menyuruh si tukang becak berhenti."


"Stop, bang," katanya.


"Pada saat si wanita turun, tukang becak melihat ternyata kaki wanita berambut panjang itu tidak menapak ke tanah sehingga membuat si tukang becak berkata sambil gemetaran," Aaaaa....tidak kuntilanakkkkk.....!"


"Dengan spontan wanita itu melirik sinis ke arah tukang becak."


"Biarin.....dari pada luu tukang becak!"


Mendengar cerita dari Bagas, Ais hanya tersenyum kecut membuat Bagas bingung.


"Maaf ya Is, aku tak pintar bercerita lucu sepertimu," ucap Bagas sedih.


Dia ingin sekali membuat Ais tertawa seperti sediakala akan tetapi tak bisa membuat suatu lelucon.


"Den, bahasa Inggrisnya buka apa ya?" tanya Ais tiba-tiba.


"Open, Is."


"Kalau bahasa Inggrisnya pintu, apa?" tanya Ais lagi.


"Dor."


"Lantas kalau bahasa Inggrisnya buka pintu apa?" tanya Ais.


"Open the dor,"


"Hem Aden pintar ya kosakata bahasa Inggris, lantas kalau pintunya nggak dibuka-buka?"


"Apa ya?" Bagas bingung.

__ADS_1


"Di gedor-gedor lah," ucap Ais membuat Bagas tertawa.


Entah kenapa Ais nggak ingin Bagas bersedih pada saat terlihat wajahnya murung karena tak bisa membuat suatu lawakan. Ais sendiri juga tak ingin terbawa perasaan terus karena tadi bertemu ibunya. Ia tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan.


"Is, apa kamu sudah membaik?" tanya Bagas seraya melirik ke Ais.


"Membaik, aku kan tidak sakit Den. Hanya saja tiba-tiba aku ingat film yang sangat menyedihkan jadi baper," ucap Ais tak ingin berkata jujur tentang ibunya.


"Sepertinya ada yang di sembunyikan oleh Ais yang tak ingin aku tahu, tapi apa ya?" batin Bagas penasaran.


Tak berapa lama mereka telah sampai di pelataran kantor Bagas, akan tetapi Bagas tidak langsung turun dari mobil.


"Ais, kami jangan bersedih lagi ya. Oh ya, kalau kamu masih pusing nggak usah bekerja menjadi cleaning servis. Cukup duduk manis saja di ruangan ya. Nanti jam makan siang, kita keluar," ucap Bagas menatap sendu Ais.


"Baik, Den. Tapi aku tidak apa-apa kok, aku sudah sehat jadi akan tetap bekerja," ucap Ais mencoba tersenyum.


Setelah mengucapkan sedikit pesan pada Ais barulah Bagas keluar dari mobilnya dan Ais segera membawa mobil tersebut ke khusus parkiran.


Dia lantas tak berdiam diri bersantai di ruangan khusus para cleaning service tetapi dia benar-benar bekerja karena dia tak ingin bersantai ria walaupun Bagas telah mengizinkannya.


Sementara diam-diam Marlina mengikuti kepergian mobil Bagas hingga menuju ke kantornya.


Marlina pun tak sengaja melihat Ais keluar dari ruangan khusus para karyawan cleaning service dengan membawa peralatannya.


Karena rasa rindu yang sudah tak bisa dibendung lagi Marlina pun nekat melangkah menghampiri Ais. Dari arah belakang Ais, ia pun menyapanya.


"Ais, tunggu sebentar."


Marlina dari arah belakang menepuk bahu Ais sehingga gadis itu berhenti sejenak dan menoleh ke arahnya.


"Maaf, anda siapa ya? saya sedang buru-buru karena masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan saat ini juga." Ais pun akan melangkah kembali tetapi lengannya dicekal oleh Marlina, sehingga ia mengurungkan langkahnya.


Ais hanya diam saja, dia seolah tak mengenal ibu kandungnya itu.


"Aisyah, kamu Aisyah kan? anaknya Bapak Lukman yang mempunyai dua adik kembar laki-laki," tanya Marlina untuk memastikan.


Ais hanya diam saja tak menjawab pertanyaan dari ibu kandungnya tersebut.


"Ais, ini ibu. Ibu kandung kamu yang telah melahirkanmu. Ibu minta maaf atas kesalahan di masa lalu kiranya kamu bersedia memaafkan segala dosa-dosa ibu." Marlina meraih kedua tangan Ais dan menggenggamnya.


Namun Ais menepiskannya begitu saja. "Mohon maaf, anda salah orang jadi pergilah dari sini. Karena waktu saya sungguh berharga, saya tidak ingin mendapatkan amarah dari bos, permisi."

__ADS_1


Ais melangkah pergi begitu saja meninggalkan Marlina. Ia ingin sekali menangis saat itu juga tetapi ia tahan, hanya matanya saja terlihat berkaca-kaca.


Kebetulan pada saat itu Bagas keluar akan meminta Ais untuk membuatkan kopi kesukaannya, tanpa sengaja ia sempat melihat kejadian itu dan menjadi semakin bertambah penasaran.


"Kenapa sepertinya Tante Marlina mengenal Ais, ya? sekarang aku yakin pasti kesedihan Ais tadi pagi karena pertemuannya dengan Tante Marlina. Tetapi aku lihat, Ais seperti tak kenal dengan, Tante Marlina?" batinnya di penuhi oleh beribu pertanyaan.


"Ais, kebetulan kamu di sini, bisa minta tolong buatkan aku kopi? tapi jika kamu sedang sibuk sebaiknya tak usah, biar aku buat sendiri saja," ucap Bagas ragu karena melihat raut wajah murung dan mata berkaca-kaca Ais.


"Baiklah, Den. Saya akan buatkan sekarang juga."


Ais meletakkan peralatan pel, ia pun melangkah ke dapur karyawan. Untung saja letak dapur itu bertolak arah sehingga tidak melewati Marlina.


Seperginya Ais membuat kopi untuk Bagas dengan langkah cepat Marlina menghampiri Bagas.


"Tante Marlina, apakah ada perlu denganku sehingga datang kemari?" tanya Bagas merasa heran melihat Marlina.


"Tidak Bagas, tante hanya ingin tahu saja apakah gadis tadi itu namanya Aisyah anak dari Bapak Lukman?" tanya Marlina.


"Benar sekali tante, memangnya ada apa ya dengan Ais?" tanya Bagas menyelidik.


"Nggak ada apa-apa kok, Bagas. Tante ingin tahu saja, ya sudah kalau begitu tante permisi pamit pulang ya." Saat itu juga Marlina melangkah cepat menuju arah mobilnya dan ia pun melajukannya dengan cepat pergi dari kantor Bagas.


"Aneh, bagaimana Tante Marlina bisa tahu tentang Aisyah dan Pak Lukman ya?" Bagas semakin penasaran saja.


Ia pun ingin bertanya langsung pada Ais, hingga ia melangkah menuju ke dapur para karyawan. Tak sengaja ia melihat Ais sedang menangis.


"Astaga, Ais. Apa kamu tak apa-apa?" tanya Bagas khawatir, ia langsung menghampiri Ais.


Sepontanitas Ais lekas mengusap air matanya, tak ingin Bagas tahu.


"Den, maaf ya terlalu lama. Ini sudah jadi biar saya bawa ke ruangan, Aden ya?"


Namun pada saat Ais akan melangkah membawa kopi tersebut, Bagas menghentikan langkahnya.


"Letakkan di meja dulu, aku ingin bicara sebentar padamu," pinta Bagas.


"Ada apa ya, Aden?" tanya Ais seraya meletakkan cangkir kopinya di atas meja.


"Apakah kamu mengenal, Tante Marlina?" tanya Bagas menatap menyelidik ke arah Ais.


Ais tak bisa berkata, ia hanya bisa tertunduk membuat Bagas semakin penasaran. Ia pun mengulang pertanyaan tersebut pada Ais.

__ADS_1


"Ais, kenapa kamu diam? jawab dong, apa kamu kenal dengan Tante Marlina?"


__ADS_2