Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah

Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah
Di Balik Kecerobohannya


__ADS_3

Bagas langsung meminta Ais masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya.


"Den, ini bajunya bagaimana ya? yang tadi di pakai aku?" tanyanya di sela mengemudi.


"Itu sudah aku belikan untukmu, Ais. Jadi ya buatmu lah," ucap Bagas kembali ketus.


"Huh, ini orang atau bunglon ya berubah-ubah? aku pikir sudah berubah halus ini kembali lagi ketus dan tak ada senyuman sama sekali," batin Ais.


Sejenak Ais melirik ke arah Bagas tapi sialnya moment ini pas dengan Bagas yang sedang melirik ke arahnya juga. Hingga tak sengaja mereka pun saling lirik-lirikan.


"Heh, ngapain kamu mencuri pandang padaku?" tegur Bagas ketus.


"Justru aku yang ingin bertanya pada Aden, bukannya Aden dulu yang mencuri pandang?" Ais tak mau kalah.


"Heh, enak saja ya. Sudah jelas-jelas kamu yang barusan mencuri pandang diriku tapi kenapa enggan mengakui hah?" Bagas masih saja mengelak.


"Hah heh hah heh lagi, kumat lagi dech," gerutu Ais masih bisa di dengar Bagas.


"Heh, kamu mengatakan aku kumat? secara tidak langsung kamu mengatakan aku ini gila, berani kamu ya!" bentak Bagas.


"Itu Aden yang ngomong sendiri, dari tadi aku tak mengatakan hal buruk apa pun kok," sanggah Ais.


Baru saja keduanya mesra dan seolah tak ada permasalahan, kini mereka kembali lagi berantem lagi bagaikan Tom dan Jerry di serial film kartun.


Hingga pada akhirnya Ais diam , karena dia tak ingin semakin terbawa emosi.


"Kenapa diam, sudah tak bisa lagi melawan apa yang aku katakan ya?" tanya Bagas memecah kesunyian.


Ais hanya melirik sinis tanpa berkat apa pun, dia sudah jengah jika harus meladeni apa yang di katakan oleh Bagas. Hingga sedang asik menyupir, tiba-tiba Ais menghentikan laju mobilnya.


Ada dua pengendara motor menghentikan laju mobilnya dengan berhenti tepat di hadapan mobil yang sedang Ais kemudikan.

__ADS_1


"Sialan, pasti mereka ini orang jahat. Hatiku mengatakan akan terjadi hal buruk..Oh ya, aku lupa lewat jalan sepi ini gara-gara Den Bagas terus saja nyerocos," batin Ais.


"Is, sebaiknya kamu nggak usah turun. Biar aku saja yang turun, aku khawatir akan terjadi hal yang buruk seperti waktu itu," ucap Bagas.


Namun Ais hanya diam, dia malah keluar dari mobil untuk menghadap dua pengendara motor yang berboncengan. Jadi ada empat pria yang menghadang.


"Ada apa kalian menghalangi jalanku, hah?" tanya Ais melotot kepada empat pria yang bertumbuh tinggi tersebut.


"Wah, ternyata sopirnya seorang wanita yang sangat cantik. Rezeki nech buat kita, bro. Bisa bersenang-senang dengannya,' ucap salah satu preman.


Mendengar ada niat tak baik dari salah satu preman tersebut, Bagas pun lekas keluar pula dari mobil dan melangkah menghampiri Ais.


"Aden kenapa keluar, masuk saja den..Aku mampu kok hadapi mereka," ucap Ais dengan sangat yakinnya seraya sudah pasang kuda-kuda akan melawan ke empat preman tersebut.


"Sombong amat kamu, Is. Waktu itu saja kamu terluka kan?" Bagas bukannya masuk ke mobil lagi, malah dia mengejek Ais.


"Waktu itu karena aku di serang dari belakang, jika mereka tak curang aku pasti mampu mengalahkan mereka," ucap Ais.


"Ayok lawan aku, dan jika kalian memang jantan satu lawan satu. Masa iya lawan perempuan kok keroyokan, itu namanya kalian banci kaleng!" tantang Ais.


Ke empat preman yang tadinya akan menghajar bersamaan kini mereka malah termakan tantangan Ais. Hingga mereka mengurungkan niatnya untu melawan secara bersamaan, tetapi mereka pun melawan Ais satu persatu.


Terjadilah baku hantam yang sangat ramai antara Ais dengan salah satu preman, dan pada saat preman itu lengah, Ais menendang area reproduksinya hingga dia kesakitan. Dan di tambah lagi dengan tendangan di perut. Satu preman kalah telak.


Dan maju lagi preman berikutnya untuk melawan Ais karena melihat temannya kalah dan tak bisa melawan Ais. Sementara Ais kembali melawan satu preman. Bagas tak mau kalah, dia melawan dua preman yang sedang menatap Ais dan temannya berkelahi.


Hanya beberapa detik saja, Ais kembali menang. Preman lawannya kalah telak dengan memegangi kedua matanya yang berdarah karena colokan benda tumpul.


"Haduh, ternyata Ais bukan hanya barbar tapi sadis banget," batin Bagas melirik Ais seraya terus melawan kedua preman itu.


Ais tak tega melihat Bagas kewalahan melawan dua preman, hingga dia pun membantu Bagas. Dan hanya dalam waktu singkat dia preman itu juga terkapar tak berdaya.

__ADS_1


Ke empat preman itu lari terbirit-birit dengan segera naik ke motor mereka dan melajukannya kencang.


Ais dan Bagas lekas masuk ke dalam mobil.


"Ternyata Ais bisa bela diri, dan sadis juga. Ih menyeramkan sekali," batin Bagas.


"Ada apa Aden menatap aku seperti itu?" tanya Ais di sela melajukan kembali mobilnya.


"Nggak ada apa-apa kok," jawabnya ketus.


Dia tak ingin memuji terang-terangan kehebatan Ais dalam bela diri. Dia tak ingin jika Ais menjadi besar kepala.


"Padahal pada waktu terluka, dia sama sekali tak melawan para preman yang akan menusukkan pisau ke perutku, apa karena serangan mendadak ya lantas dia tak bisa melawannya?" batin Bagas masih saja belum percaya dengan apa yang barusan dilihatnya.


Hanya beberapa menit mobilnya telah sampai di pelataran rumah Bagas. Dan Bagas lekas turun, sedangkan Ais melajukan kembali mobilnya masuk ke dalam garasi.


Setelah itu dia pun berpamitan pada Bagas, akan tetapi Bagas melarangnya.


'Heh, se enaknya kamu mau pulang saja. Kamu kan belum selesai tugasnya, cepat sana masak di dapur,' pintanya ketus.


Ais tak berkata, hanya menatap tajam ke arah Bagas seraya melangkah ke arah dapur. Sebenarnya dia sudah sangat lelah, tapi memang ini sudah menjadi tugasnya setiap sore hari. Dia tak enak jika menolak perintah Eti.


Dengan sangat cekatan Ais memasak di bantu oleh bibi. Hanya dalam waktu tiga puluh menit masakan telah tersaji. Kebetulan orang tua Bagas sedang tidak ada di rumah, mereka sedang keluar sebentar ke rumah tetangga yang sedang ada acara hajatan nikahan.


Tetapi sebelum pergi, Eti telah berpesan pada bibi. Jika Ais selesai memasak, bibi membungkuskan masakan tersebut.


"Ais, ini untukmu di bawa pulang. Kata nyonya supaya kamu di rumah tak usah repot memasak lagi. Lagi pula di sini juga takkan habis." Bibi memberikan kantung kresek berisikan beberapa meni masakan yang barusan dia masak sendiri.


"Bi, tolong sampaikan ucapan terima kasih aku ya sama Nyonya Eti. Aku pamit pulang ya, bi."


"Iya, Ais."

__ADS_1


__ADS_2