Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah

Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah
Menahan Rasa Malu


__ADS_3

"Heh, sudah nggak usah nyerocos saja," tegur Bagas hingga langsung membuat Ais terdiam, ia pun melangkah masuk menuju ke kamarnya.


"Hem, dasar orang aneh. Heran kok ada ya orang yang ngakunya berpendidikan tinggi. Tetapi kelakuan sama seperti aku ini," gumam Ais seraya merebahkan tubuhnya di kasur.


Tak berapa lama, Lukman selesai mandi. Dia terbengong pada saat melihat di meja ruang tamu banyak gelas berceceran minuman yang berbeda.


"Den, apakah barusan ada beberapa tamu?" tanya Lukman.


"Nggak ada kok, pak. Dari tadi hanya ada aku saja," ucap Bagas sekenanya.


"Lah sih itu kok banyak gelas tetapi minuman berbeda, pikir bapak ada tamu," ucapnya tersenyum.


"Biasalah, pak. Anak bapak itu berulah, dia yang menyajikan semuanya untukku," ucapnya nyeplos begitu saja.


"Hah, kok bisa begitu?" tanya Lukman seraya tak percaya.


"Ya bisalah, Ais gitu loh," tiba-tiba Ais menyahut dari belakang punggung Lukman.


"Astaghfirullah aladzim, Ais. Memangnya kamu itu nggak ada jeranya ya, selalu di tarik telinganya sama ayah, hah?"


Lukman membalikkan badannya dan langsung menarik telinga Ais.


"Ayah, coba kalau mau narik itu jangan telingaku tapi hidungku biar nggak pesek seperti ini. Jika hidungku sering di tarik kan jadi mancung asal jangan terlalu nariknya ntar yang ada seperti hidung pinokio," uca Ais terkekeh.


Dia sama sekali tak marah mendapatkan perlakuan seperti itu oleh Lukman. Apa lagi karena pengaduan, Bagas.


"Father, drama tarik ulur telingaku sudahi dulu ya? sebaiknya kita lekas makan, Ade dan Ado juga sudah menunggu," ucap Ais seraya menarik turunkan alisnya hingga akhirnya Lukman melepaskan tangan yang menempel di telinga Ais.


"Den, mari ikut makan sekalian," ajak Lukman seraya menyunggingkan senyuman.


Bagas bangkit dari duduknya tanpa sepatah kata pun, dia hanya melirik sinis ke arah Ais. Sementara Ais malah mencibirnya di samping ayahnya seraya berlalu pergi begitu saja.


Selama berada di ruang makan, Bagas sudah siap untuk menyantap berbagai menu masakan yang sudah ada dihadapan matanya. Pada saat ia akan menyendok, tangan di tampik oleh Ais.

__ADS_1


"Eits...no...no...no.."


Bagas menatap Ais yang mengacungkan jari telunjuknya seraya di gerakkan ke kanan kiri.


"Berdoa dulu, memangnya Aden begini ya setiap makan nggak pernah doa? biasakan hidup selalu ucap syukur dari hal terkecil," ucap Ais berhasil membuat Bagas salah tingkah.


"Sialan nech bocah, selalu saja melawanku. Jika dia sedang tak luka perutnya, pasti aku akan cari cara untuk usilin dia lagi," batin Bagas.


Bagas tak berkata apa pun, dia hanya diam dan kemudian Ais memimpin doa. Barulah dia mengambilkan makanan untuk Bagas. Ia tak sadar makan begitu lahapnya hingga belepotan. Sampai di sudut bibirnya ada nasi yang tertinggal, hal ini membuat Ais tak bisa menahan tawanya.


"Is, kamu kenapa sih? lagi makan kok tiba-tiba tertawa?" tanya Lukman yang kebetulan duduknya di samping Bagas dan Ais duduk di hadapannya.


Si kembar juga cengengesan seperti Ais pada saat tak sengaja melihat Bagas.


"Katanya tah iya, pendidikan tinggi seorang CEO. Tapi kok makannya seperti seorang Ais yang hanya sopir angkot ya," ejek Ais terkekeh seraya menatap ke arah Bagas.


Sejenak Bagas terdiam, dia pun menjatuhkan sendok dan garpu di piringnya. Tanpa minum sama sekali, tiba-tiba dia berlalu pergi dari rumah Lukman. Dia berjalan pulang ke rumahnya, tanpa ia ingat motor gedenya.


"Sialan banget, kenapa sih dia mengejekku? apa karena aku makan dengan lahapnya? itu karena aku sudah sangat lapar dan juga suka masakannya! si kembar juga kenapa pula ikutan ngetawain aku!" batinnya kesal.


"Mah-pah, ada apa sih? melihatku kok langsung seperti itu, memangnya aku lucu? tadi di rumah Pak Lukman juga aku di ketawain sama Ais dan adiknya yang kembar itu!"


"Jelas sajalah, orang kamu tuh tak ubahnya seperti anak kecil. Kamu habis makan ya di rumah Ais?" tanya Broto terkekeh seraya memegangi perutnya.


"Loh kok papah tahu sih?" tanya Bagas heran.


"Bukan hanya papah yang tahu, Bagas. Mamah juga tahu loh," ucap Eti terkekeh pula.


"Mamah dan papah tahu dari mana, apa Pak Lukman atau Ais ya yang sudah chat kalian?" tanya Bagas heran.


"Nggak ada, mereka chat kami. Tapi kami justru tahu dari kamu sendiri," ucap Broto terkekeh.


"Pah, aku tuh belum cerita aku makan di sana," Bagas merajuk.

__ADS_1


"Kamu memang belum cerita, tetapi nasi di sudut bibirmu itu dan juga cabe yang ada di gigimu itu yang memberi tahu kami bahwa kamu itu habis makan di rumah, Ais," ucap Eti terkekeh di ikuti oleh Broto.


Bagas tak menjawab, dia merasa malu lantas berlari dan masuk ke kamar. Ia masuk ke kamar mandi dan bercermin.


"Astaga, jadi ini yang tadi sempat membuat Ais dan dua adiknya menertawakan aku? sialan sekali!"


Bagas membersihkan sudut bibir dan juga giginya yang ada cabe menempel.


Sementara di rumah Lukman, dia merasa heran kenapa Bagas tiba-tiba pulang begitu saja.


"Is, kenapa sih kamu selalu saja berulah pada Den Bagas? kalau ia marah lantas pecat ayah bagaimana?" tegur Lukman kesal dengan keusilan anak gadisnya.


"Ayah, kenapa marah sih? aku itu cuma ingin memberi tahu, jika dia itu makan belepotan. Belum juga aku selesai berkata-kata, ia sudah ngacir begitu saja. Dasar tukang pemarah," ucap Ais tak ada rasa bersalah sedikitpun.


"Iya, ayah. Kami juga lihat kok, itu Den Bagas makan sampai nasinya di sudut bibir," ucap Ado terkekeh.


"Astaghfirullah aladzim, kenapa hal sekecil itu saja di buat candaan sih?" omel Lukman.


"Aku nggak bercanda, ayah. Justru aku niatnya ingin memberi tahu ia, khawatir nanti sampai di rumah apa nggak lebih malu tuh," ucap Ais membela dirinya.


"Hem, selalu saja kamu bisa jawab jika ayah berkata."


Lukman menyerah tak bisa berkata-kata lagi.


Sementara orang tua Bagas tidak ada hentinya mereka terus tertawa satu sama lain sesekali berceloteh.


Di dalam kamarnya Bagas menyesali kepulangannya dari rumah Ais.


"Bodo amat aku, kenapa hanya gara-gara ucapan Ais. Aku langsung marah dan pulang tanpa pamit."


"Duh, terlewatkan makanan nikmat yang barusan sedang aku santap. Padahal aku masih sangat lapar."


"Astaga ....kenapa bisa-bisa nya aku pulang tanpa membawa motorku? ya ampun bego amat sih, masa iya aku begitu saja jalan kaki tanpa sadar?"

__ADS_1


"Ahhhh.... bagaimana ini, malas sekali jika aku datang lagi kesana untuk ambil motornya!"


Bagas yang semula sedang bersantai berbaring tiba-tiba bangun. Dia pun mondar mandir seraya sesekali menepuk jidatnya sendiri.


__ADS_2