
Sementara di rumah Ais, seusai acara sore, Ais sengaja ke ruang tamu ingin mengambil gelas yang ada di meja ruang tamu. Tetapi dia melihat pintu rumah terbuka lebar hingga dia memutuskan untuk menutupnya.
Namun dia terhenyak kaget pada saat melihat motor gede Bagas masih nangkring di pelataran rumahnya. Ia pun lantas memanggil ayahnya.
"Daddy, come here..." teriaknya lantang membuat Lukman dan dua adiknya keluar.
"Ada apa, Ais?"
"Ayah, itu kok motor Den Bagas masih disini? lah dianya itu pulang atau kemana dulu ya?" tanya Ais pada Lukman heran.
"Coba kamu cari ke kamar mandi dapur apa tadi dia buru-buru pergi tanpa pamit karena saking kebeletnya," pinta Lukman.
Ais pun lekas melangkah ke kamar mandi yang ada di dapur, tapi pintu kamar mandi terbuka lebar. Sudah jelas tidak ada orang di dalamnya. Ais pun kembali ke ruang tamu dan mengatakan hal itu ada ayahnya.
"No people in the toilet, father," celoteh Ais seraya terkikik pelan.
"Halahh sok bergaya pake bahasa Inggris segala, makan saja masih pake tahu tempe," canda Lukman terkekeh membuat si kembar ikut terkekeh.
"Biar aku antar pulang motornya Den Bagas ya, ayah. Nanti juga piring gelas nggak usah di cuci biar aku yang nyuci," ucap Ais .
"Nggak usah, biar ayah saja yang antar. Kamu itu perut masih sakit jadi tak perlulah mendorong motor gede yang berat itu," larang ayahnya.
"Ejek nech ceritanya, padahal aku kuat loh ayah," pinta Ais lagi tak tega jika ayahnya harus kembali lagi.
"Kamu itu memang anak gadis ayah yang sangat keras kepala!" Lukman melirik sinis ke arah Ais seraya dia melangkah ke pelataran rumah dan menuntun motor tersebut membawanya ke rumah Bagas.
Tak beberapa lama kemudian, Bagas keluar dari kamarnya, pada saat dia akan keluar pintu gerbangnya. Dia melihat sudah ada Pak Lukman datang membawa motor gedenya. Orang tuanya menggelengkan kepalanya.
"Bagas, kamu ini bagaimana sih? masa iya pulang dengan meninggalkan motormu? kamu lihat, Pak Lukman malah datang lagi dengan mengantarkan motormu. Sama saja kamu tak mengantarkan dia," oceh Broto kesal.
__ADS_1
"Nggak apa-apa kok, Tuan Besar. Tolong jangan di permasalahkan, kasihan juga Den Bagasnya," ucap Lukman.
"Tuh, pah. Pak Lukman saja tak keberatan kok antar motor aku, kenapa papah yang sewot?" ucap Bagas sama sekali tak ada rasa bersalah sedikitpun.
"Bagas, mau sampai kapan kamu akan bersikap seperti ini?" tegur Eti.
Bagas hanya diam saja, dia sama sekali tak mengucapkan terima kasih pada Lukman, malah dia berlalu masuk begitu dalam rumah menuju ke kamarnya.
Hal ini membuat orang tuanya geleng kepala.
"Pak Lukman, terima kasih ya sudah mengantarkan motor Bagas. Dan kami selaku orang tuanya minta maaf atas sifatnya yang dingin dan tak ramah." Broto menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Tidak apa-apa, Tuan-Nyonya. Memang pada dasarnya setiap manusia mempunyai sifat tersendiri, saya bisa memaklumi kok. Seperti halnya anak saya, Ais juga punya sifat tersendiri. Tuan-Nyonya, saya pamit pulang ya."
Kini bergantian Lukman yang menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Baik, pak. Sekali lagi terima kasih dan mohon maaf ya, pak," ucap Eti melontarkan senyuman.
Saat itu juga Lukman keluar pintu gerbangnya dan dia pun berlalu pergi begitu saja. Dia melangkah pulang dengan santai.
********
Tak terasa pagi telah menjelang, Luk man sudah bersiap akan berangkat ke rumah Bagas.
"Is, ayah pergi kerja ya. Ingat pesan ayah kamu jangan kemana-mana dulu, toh belum satu bulan kamu berada di rumah. Ingat jahitan perutmu itu, jadi jangan kelayaban dulu," ucap Lukman kemudian dia melangkah pergi terburu-buru karena kesiangan.
Langkah kakinya di percepat supaya lekas sampai di rumah Bagas. Dan dia pun langsung saja nangkring di jok mobilnya.
Bagas sudah siap dari tadi menunggu di teras halaman. Tanpa ada sepatah katapun melihat Lukman datang terlambat. Dia pun langsung masuk juga ke dalam mobilnya.
__ADS_1
"Maaf, Den. Saya datang terlambat," ucapnya di balik kemudi.
"Sudah jalankan, aku ada meeting pagi ini khawatir telat. Oh iya, pak apa nggak sebaiknya Ais saja yang bekerja jika dia sudah sehat. Mending menurut saya bapak di rumah saja seperti papah saya kan sudah tak bekerja," ucap Bagas tiba-tiba.
"Tapi saya masih sehat dan masih kuat cari uang kok, Den. Jika saya nggak kerja dan hanya Ais yang kerja, juga itu tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari, apa lagi si kembar sedang butuh uang banyak karena keduanya akan masuk SLTP bulan ini," ucap Lukman di balik kemudinya.
"Bapak nggak usah khawatir, nanti saya akan gaji Ais dua kali lipat. Dari pada dia harus berpanas-panasan sebagai sopir angkot yang penghasilannya tak menentu setiap harinya kan?" ucap Bagas lagi.
"Den, saya sih nggak keberatan kalau Ais menggantikan saya. Tapi yang saya khawatirkan nanti dia buat masalah terus seperti yang sebelumnya. Saya nggak enak juga sama, Aden," ucap Lukman.
"Jika nanti dia buat ulah biar saya tarik kupingnya saja bukannya dengan begitu dia akan menurut?" ucap Bagas lagi.
"Saya tidak bisa langsung memutuskan ya, Den. Nanti saya tanya dulu pada Ais," ucap Lukman.
Sementara di rumah, Ais merasakan kebosanan. Dia ingin pergi ke pangkalan angkot tapi nanti pastinya ayahnya marah. Hingga dia memutuskan duduk diam dan melihat acara televisi.
"Wah, lumayan ini ada berita bagus. Seorang peternak sapi yang sukses di wawancarai oleh seorang reporter wanita salah satu televisi swasta, mengenai penyakit sapi gila yang sedang mewabah di Indonesia. Tapi ini lawakan, bisa buat menghibur hatiku dong."
Sejenak Ais sangat fokus dengan berita penyakit sapi gila tersebut.
Reporter: "Pak, anda yang sudah puluhan tahun merawat sapi, pasti tahu kenapa kerap kali penyakit Sapi Gila menyerang hanya pada sapi betina?"
Peternak sapi: "Begini, mba. Sapi betina kan hanya melakukan hubungan badan pada masa tertentu. Sedangkan dia di kasih makan tiap hari dengan makanan yang bergizi, setiap hari pula di peras susunya."
Reporter: "Lantas apa hubungannya dengan penyakit Sapi Gila?"
Peternak Sapi: " Maaf ya mba, jika mba wanita yang sehat lantas dua benda kenyal mba di remas-remas setiap hari tapi hubungan badan hanya di lakukan setahun sekali, apa mba nggak akan jadi gila?"
Sejenak Ais tertawa ngakak melihat acara televisi tersebut.
__ADS_1
"Sialan itu orang kok bisa ya bikin lawakan kaya gitu. Seharusnya itu Den Bagas sering-sering lihat acara televisi yang ngelawak seperti ini, biar dia nggak masam terus wajahnya. Sebenarnya kalau di lihat-lihat, dia itu tampan. Tapi sayangnya dia itu terlalu pemarah dan tak pernah senyum sedikitpun. Hadeh, kok aku mikirnya sampai ke Den Bagas ya? haduhhhh...."
Ais menepuk jidatnya sendiri.