Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah

Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah
Kalah Juga


__ADS_3

Setyo pun menghampiri Ais, ia minta maaf.


"Nak Ais, saya minta maaf ya atas kelakuan anak saya. Saya memang salah dari awal tidak menyelidiki dulu duduk permasalahannya hanya langsung percaya pada Rindi." Ucap Setyo seraya menangkupkan kedua tangannya di dada.


Ais diam, dan pada saat ia akan berkata-kata, Bagas menyenggolnya dengan sikunya. Hingga Ais mengurungkan niatnya untuk berkata.


"Om, kenapa berubah pikiran setelah melihat bukti yang aku bawa? takut ya masuk penjara? makanya kalau mau bertindak itu di pikir dulu, om," ucap Bagas tersenyum sinis.


"Bagas, om tidak ada masalah denganmu dan tak membuat kesalahan padamu. Om membuat kesalahan pada, Ais jadi kamu nggak usah ikut campur," tegur Setyo.


"Jelas aku ikut campur, om. Karena Ais ini bukan hanya pacarku tapi juga calon istriku. Mana ada lelaki yang membiarkan calon istrinya terkena masalah, hanya lelaki bodoh saja yang berbuat seperti itu."


"Dan asal om ingat, semua harus di pertanggung jawabkan seperti perbuatan om dan Rindi pada Ais. Tidak semudah itu hanya dengan permintaan kata maaf. Aku yang nggak terima, om."


Mendengar apa yang di katakan oleh Bagas, Setyo semakin salah tingkah dan tak bisa berkata apapun. Ia bingung harus bagaimana supaya bisa pergi dari kantor polisi tersebut.


Sementara Rindi juga diam saja karena memang bukti mengarah kuat kepadanya. Percuma saja jika ia membela diri, itu tidak ada gunanya.


"Begini saja, Nak Bagas biar saya yang mengurus permasalahan calon istri anda. Memang semua ini tidak bisa di biarkan begitu saja," ucap Komandan Arif.


"Komandan, apa maksud dari perkataan anda barusan?" tanya Setyo panik.


"Anda ini seorang pengusaha, tetapi sikap anda ini tak mencerminkan seorang pengusaha yang terhormat. Karena bertindak ceroboh seperti ini, bahkan anda ini memakai cara pintas lewat kolonel ini. Tindakan anda sudah tidak bisa di tolerir sama sekali," ucap Komandan Arif.


"Bukankah saya sudah minta maaf, Komandan. Ini semua karena ulah anak saya. Saya sama sekali tak tahu menahu jika semua informasi justru kesalahan anak saya. Setiap orang kan tak luput dari salah, masa iya tidak bisa di maafkan," ucap Setyo memelas.


"Maaf ya, Tuan Setyo. Saya tidak bisa memutuskan, hanya Nak Bagas yang bisa memutuskan hal ini," ucap Komandan Arif seraya melirik ke arah Bagas.

__ADS_1


"Nggak Om Arif, saya tetap pada pendirian. Jika saya tetap akan menuntut balik pada ayah dan anak itu,' ucap Bagas seraya menatao tajam pada Setyo dan Rindi.


"Bagas, tolong jangan seperti ini. Saya kan hanya di hasut oleh Rindi. Silahkan saja kamu kasuskan Rindi, tapi jangan dengan saya. Jika saya di penjara bisa hancur reputasi saya dan bagaimana saya bisa menafkahi istri saya jika di penjara?" pinta Setyo memelas.


Rindi yang mendengar perkataan papahnya memicingkan alisnya.


"Pah, kenapa berkata seperti itu?masa iya papah meminta Bagas memenjarakanku dan memohon supaya papah jangan di libatkan?" protes Rindi.


"Biar saja, ini semua gara-gara kamu yang berulah kan? jika tidak, papah tidak akan terbawa kasus seperti ini," ucap lantang Setyo.


"Sudah kalian nggak usah berdebat, berisik saja!" bentak Komandan Arif.


Sejenak baik Setyo maupun Rindi akhirnya terdiam.


"Om Arif, saya serahkan semuanya pada anda ya. Saya pamit ya, om. Karena masih banyak urusan di kantor."Ucap Bagas menyalami Arif.


Saat itu juga Bagas mengajak pulang Ais dengan merangkulnya melangkah meninggalkan kantor polisi itu. Ais pun hanyadiam saja tak ada kata sedikitpun. Ia mengikuti saja langkah Bagas.


Sementara Setyo terus saja menyalahkan Rindi atas apa yang telah terjadi. Ia pun benar-benar emosi jiwa hingga tak sadar berteriak-teriak, membuat Komandan Arif kesal padanya.


Komandan Arif memerintahkan anak buahnya untuk membawa Setyo dan Rindi ke sel sementara. Namun ayah dan anak ini ditempatkan di sel yang berbeda.


"Mas Bagas, apa ini nggak keterlaluan buat mereka?" tanya Ais pada saat telah berada di dalam mobil.


"Ais, biarkan saja mereka jera supaya tidak mengulang kesalahan yang sama. Lagi pula aku sudah konfirmasi pada Om Arif supaya tak menahan mereka lama. Hanya beberapa bulan saja kok, jadi kamu tak perlu khawatir." Ucap Bagas seraya tersenyum di selae melajukan mobilnya.


"Sayang, sebenarnya aku ingin kita menikah secepatnya. Tapi pasti kamu takkan mau kan?" tanya Bagas ragu.

__ADS_1


"Mas, pernikahan itu kan sakral dan aku juga inginnya satu kaki seumur hidup. Aku itu masih belum siap jika harus menikah secepatnya. Apa lagi aku selalu ingat bagaimana ibuku meninggalkan ayah dan aku serta adik-adik," ucap Ais.


"Sayang, apa yang kamu takutkan? setiap manusia itu punya pemikiran sendiri, tidaklah sama," ucap Bagas.


"Mas, aku ini hanya orang biasa tak punya apa-apa. Aku khawatir hal serupa terjadi padaku seperti yang terjadi pada ayah dulu. Aku minta maaf ya mas, bum bisa menikah," ucap Ais merasa tak enak hati.


"Ais, Insa Allah aku tidak akan seperti ibumu yang tega meninggalkan keluarga. Tolong kamu jangan seperti ini, Ais. Yang trauma dengan kisah masa lalumu," ucap Bagas.


"Entahlah, mas. Semoga saja aku bisa menghilangkan rasa traumaku ini," ucap Ais tak yakin.


Tak berapa lama, mereka telah sampai di kantor Bagas.


"Mas, kok tadi bukan aku yang menyopir? maaf ya mas, aku tak sadar akan hal ini," ucap Ais tersipu malu.


"Hhee nggak apa-apa, Ais? namanya juga kamu sedang tegang kan?" goda Bagas terkekeh.


Di dalam hatinya juga sedang berpikir masa iya Ais tetap menjadi sopirnya dan cleaning servis. Dia sedang merencanakan untuk memberikan uang untuk modal usaha bagi Ais.


"Sayang, nanti tolong buatkan aku kopi ya dan bawa ke ruanganku. Karena aku juga ingin bicara sesuatu padamu," pinta Bagas lalu ia melemparkan kontak mobil pada Ais.


Dengan sigap Ais menangkap kontak mobil tersebut. Dan Bagas langsung melangkah masuk ke dalam kantor menuju ke ruang kerjanya.


Sementara Ais melajukan mobil itu ke tempat parkiran. Tetapi pikirannua tets saja tertuju pada apa yang akan dikatakan oleh Bagas.


"Sebenarnya apa yang ingin di katakan oleh Mas Bagas ya? apa ia akan mengatakan tentang pernikahan lagi? apa ia akan memaksaku untuk mau menikah dengannya?"


Terus saja pikiran Ais di penuhi dengan pertanyaan. Setelah sampai di dapur ia lekas membuat kopi kesukaan Bagas dan membawanya ke ruang kerja Bagas. Jantungnya kali ini berdetak kencang karena memikirkan apa yang akan dikatakan oleh Bagas.

__ADS_1


__ADS_2