
Rindi mengerang kesakitan, karena lagi-lagi pinggangnya sakit. Jatuhnya tersungkur lalu ke belakang.
"Hahaha makanya jangan jahat dulu, ayo mba hajar saja kami dukung."
"Hahaha kasihan deh loe, makanya jangan sok-sokan jadi cewek rese loe!"
Dua wanita yang tadi sempat menegur Rindi kini tertawa terbahak-bahak melihat pembalasan yang dilakukan oleh Ais terhadapnya. Mereka bertepuk tangan sorak-sorai bahkan beberapa wanita lain yang ada di toilet itu menjadi penasaran dengan apa yang terjadi hingga semuanya pun melihat ke arah di mana kedua wanita itu tertawa dan Rindi mengaduh kesakitan.
"Kamu lihat kan, kalau kamu melawanku dari arah depan sudah pasti kamu itu kalah! kamu beraninya melawanku dari arah belakang saja. Cepat bangkit bangun dan lawan aku jika memang kamu berani!" tantang Ais seraya melambaikan tangannya ke arah Rindi.
Rindi tak mau dirinya dipermalukan, dia pun dengan menahan rasa sakit di pinggangnya bangkit dan mendekati Ais. Pada saat tangannya melayang akan menampar pipinya, dengan gerak cepat Ais menangkap tangan Rindi dan memelintirnya ke arah punggung Rindi.
"Ah.... sakit... dasar gadis kampung yang sungguh barbar, pantas saja kamu bersifat kasar seperti ini karena kamu hanyalah seorang cleaning service!" bentak Rindi seraya mengerang kesakitan.
Pertikaian antara Rindi dan Ais begitu seru, bahkan terdengar riuh ramai sorak-sorai gerak gelak tawa para wanita yang lain yang ada di toilet tersebut. Mereka begitu antusias melihat tontonan gratis itu.
Sementara keluarga Rindi dan juga Bagas begitu cemas dan gelisah karena baik Rindi mau pun Ais begitu lama berada di toilet.
Akhirnya Bagas melangkah menuju ke toilet wanita begitu pula dengan Marlina yang diperintahkan oleh Setyo untuk segera menyambangi Rindi yang belum juga pulang dari toilet.
"Mah, coba kamu tengok ke toilet masa iya Rindi ke toilet kok lama sekali, keburu makanannya dingin," pinta Setyo.
"Baik, pah." Saat itu juga Marlina bangkit dari duduknya melangkah menuju ke arah toilet wanita dan bahkan ia berpapasan dengan Bagas.
"Bagas, kamu mau kemana? ke sana bukannya arah toilet wanita?" tegur Marlina.
"Iya Tante, saya memang bertujuan ke toilet wanita karena lama banget Ais ke toilet tapi belum juga kembali," ucap Bagas.
__ADS_1
"Sebenarnya aku ingin berbicara banyak dengan Bagas, tetapi waktunya yang tidak menentukan waktunya yang kurang tepat. Sebaiknya lain kali saja aku akan menemui secara sembunyi-sembunyi dari Mas Setyo dan Rindi," batin Marlina.
Marlina dan Bagas berjalan berdampingan menuju ke arah toilet. mereka terhenyak kaget pada saat melihat kerumunan para wanita yang ada di toilet sedang bersorak-sorai seperti sedang melihat tontonan yang begitu menegangkan.
Baik Bagas maupun Marlina mencari keberadaan Ais dan Rindi, tetapi mereka tidak menemukannya hingga keduanya berinisiatif menelusup masuk untuk melihat tontonan apa yang membuat semua pengunjung toilet wanita bersuara ramai.
Baik Bagas maupun Marlina begitu kaget pada saat melihat Ais sedang melintor tangan Rindi.
"Sayang, apa yang kamu lakukan? sudah jangan bersikap seperti ini?" tegur Bagas dengan halus meminta Ais melepaskan tangan Rindi.
"Bagas, pacarmu itu bar-bar sekali kok di jadikan pacar, heran aku padamu," ucap Rindi merintih kesakitan.
"Mas tampan, justru kami mendukung sikap pacar Mas yang hebat ini. Tuh dia dulu yang tiba-tiba menarik rambut, Mba ini dari arah belakang. Pacar Mas nggak salah, ia hanya membela dirinya," ucap wanita yang sempat melihat tingkah buruk Rindi dari awalnya.
"Iya, mas. Bahkan tadi wanita itu akan menampar pacar mas, jadinya tangannta tuh di pelintir. Rasain loe!" ucap wanita yang lain.
"Heh, berisik kalian! kalian itu tak tahu apa-apa tapi ikutan saja berkata!" bentak Rindi seraya menahan rasa sakit di tangan dan di pinggangnya.
Marlina hanya melirik iba ke arah Ais, sementara Ais melirik sinis ke arah Marlina, tak ada senyum manis sedikitpun untuk ibu kandungnya itu.
"Bagaimana mungkin aku melabrak anak kandungku sendiri, itutidak akan mungkin aku lakukan," batin Marlina.
"Mah, kenapa malah bengong?" teguran Rindi mengagetkan lamunan Marlina.
"Rindi, kamu yang salah kenapa kamu tak minta maaf padanya. Jangan kamu ulangi hal memalukan seperti ini, mamah sama sekali tak suka," ucap Marlina.
"Mah, kenapaalsh membelanya? siapa sih sebenarnya yang anak mamah, dia atau aku?" ucap lantang Rindi.
__ADS_1
Deggg...deg...
jantung Marlina berdetak kencang pada saat mendengar kata-kata terakhir dari Rindi.
"Sayang, kamu bawa sisir nggak? rambut berantakan, biar aku rapikan ya?" ucap Bagas seraya merangkul Ais pergi meninggalkan toilet tersebut.
"Mas, aku minta maaf ya. Sudah membuatmu malu dengan tingkah lakuku tadi," ucap Ais tertunduk.
"Sayang, kamu itu tak salah. Yang barusan kamu lakukan hanya untuk membela dirimu saja. Aku sama sekali tak marah, kamu tak usah minta maaf," ucap Bagas menyunggingkan senyumnya.
Setelah kembali di tempat duduknya, Bagas menyisir rambut Ais yang sempat berantakan karena tarikan dari Rindi. Semua yang melihat keromantisan ini begitu iri. Begitu pula dengan Rindi yang sudah duduk di tempat duduknya.
"Sayang, pasti. rambutmu perih dan sakit ya?" tanya Bagas.
"Sedikit, mas. Pada saat tiba-tiba wanita itu menarik rambutku tanpa aku tahu dari arah belakang. Tapi hanya sakit sebentar kok," ucap Ais.
Sementara Rindi mendapatkan teguran keras dari Setyo.
"Rindi, kamu ngapain saja berada di dalam toilet kok lama sekali?" tanyanya ketus.
"Jelas lamalah pah, aku habis dibserang sama pacar Bagas yang cuma cleaning servis itu. Ternyata gadis itu barbar dan kasar sekali. Aku di tendang hingga jatuh pinggangku sakit sekali, juga tangan kananku di pelintirnya," adu Rindi.
"Apa, kamu di serang lagi? bukannya waktu itu kamu juga di serang olehnya hingga masuk rumah sakit? hal inilah tidak bisa di biarkan, papah akan laporkan pada aparat kepolisian Kate ini sudah termasuk tindak kriminal!" ucapnya lantang.
Marlina menjadi panik pada saat mendengar Ais akan di laporkan ke polisi. Ia yang tadinya tidak akan ikut bicara, kini pun ikut bicara.
"Pah, kejadian tadi itu kesalahan Rindi. Dia dulu yang bertindak kasar hingga gadis itu membalasnya hanya untuk membela dirinya," ucap Marlina.
__ADS_1
"Mah, kenapa dari tadi mamah membela gadis itu! heran aku loh," ucap Rindi ketus.
"Sudahlah, Rindi. Kamu tak usah khawatir, nanti papah yang akan laporkan tindak kekerasan yang kamu alami ini. Karena bukan cuma satu kali tapi bahkan dua kali, ini sudah sungguh keterlaluan! biar gadis barbar itu jera dengan mendapatkan hukuman yang setimpal," ucap Setyo geram.