Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah

Gadis Ceroboh Pemikat Tuan Pemarah
Terharu


__ADS_3

Pada saat sudah sampai di ruang kerja Ais, Ayah Lukman sudah tak sabar lagi ingin mendengar apa yang ingin di katakan oleh anak sulungnya itu.


"Ais, sebenarnya ada apa sih kok sepertinya serius sekali?" tanya Ayah Lukman.


"Ayah menurut ayah aku harus bagaimana ya?" Ais menghela napas panjang.


"Bagaimana apanya? kalau ngomong itu yang jelas supaya ayah bisa memberikan suatu masukan yang tepat sesuai dengan apa yang saat ini sedang kamu pikirkan," ucap Ayah Lukman.


"Ayah, Mas Bagas ingin mengajakku menikah secepatnya. Dia mengatakan hal ini bukan hanya sekali dua kali tetapi sudah sering mengatakannya, menurut ayah bagaimana?" Ais meminta saran dari Ayah Lukman.


"Kan sudah sering Ayah katakan padamu semua itu tergantung pada dirimu sendiri, karena kelak kamu yang akan menjalaninya dengan Bagas," ucap Ayah Lukman sekenanya.


"Ayah, jujur saja aku itu takut. Selama ini aku melihat kegagalan yang dialami oleh ayah, hingga aku takut untuk melangkah ke jenjang pernikahan."


Mendengar apa yang dikatakan oleh Ais, membuat Ayah Lukman merasa iba padanya.


"Ais, seharusnya kamu tidak boleh beranggapan bahwa setiap pernikahan itu akan mengalami kegagalan. Semua itu tergantung dari manusianya itu sendiri dalam menjalani mahligai pernikahannya."


"Apakah pasangan suami istri itu benar-benar bisa melengkapi kekurangan satu sama lain atau tidak?"


"Sebuah pernikahan itu yang arti sesungguhnya yakni menyatukan dua hati yang berbeda dan harus bisa saling memahami, saling mengerti, saling melengkapi kekurangan dari pasangannya itu sendiri."


"Bukan hanya untuk melihat kelebihannya saja. Ayah rasa Bagas mengatakan ingin menikah denganmu karena dia sudah benar-benar siap dengan konsekuensinya."


"Bagas kan sudah mengerti dirimu dengan segala kekuranganmu yang seringkali bersikap ceroboh itu. Bahkan dengan sikap cerobohmu itu Bagas malah yang dulunya benci padamu menjadi jatuh cinta padamu berarti dia bisa menerima kekuranganmu itu."

__ADS_1


"Sebaliknya apakah kamu sudah bisa menerima kekurangan yang Bagas punya. Karena ada kalanya suatu saat nanti pasti sifat buruk Bagas akan terlihat kembali. Tidak selamanya dia akan bersikap lemah lembut, jika ada menghadapi suatu permasalahan pasti tanpa sadar amarahnya akan kembali."


"Di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna, pasti semuanya memiliki suatu kekurangan dan kelebihan. Jadi tergantung bagaimana kamu dan Bagas saling menyikapinya satu sama lain."


Setelah mendengar apa yang dikatakan oleh ayahnya ada rasa sedikit kelegaan di dalam hati Ais.


"Bagaimana Ais, apakah kamu sudah bisa memutuskan jalan yang terbaik untuk hubunganmu dengan Bagas setelah apa yang barusan ayah katakan?"


"Bagas itu benar, masa iya selamanya kalian akan berpacaran seperti itu sama saja hubungan kalian tidak ada kepastian dan tidak ada ujung pangkalnya."


"Jika seorang pemuda yang baik dan bertanggung jawab ya seperti itu ingin segera menikahi kekasihnya."


"Tetapi jika pemuda itu hanya ingin main-main saja, pasti dia akan bersantai ria dan tidak memikirkan untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius lagi. Dan satu hal yang ayah khawatirkan, Ais."


Mendengar perkataan ayahnya yang terakhir Ais langsung penasaran dan memikirkan alisnya.


"Ayah mengkhawatirkan jika kamu terus saja menolak keinginan Bagas untuk menikahimu. Ayah khawatir Bagas akhirnya lelah dan putus asa dia akan memutuskan hubungannya denganmu."


"Kadang kala kesabaran setiap manusia itu ada batasnya juga. Kita kan tidak tahu seberapa luas rasa sabar yang dimiliki Bagas untuk menantikan di mana ia bisa menikahi dirimu."


"Kalau menurut ayah, janganlah terlalu lama berpacaran karena ada juga di dunia ini yang sudah pacaran bertahun-tahun tetapi akhirnya putus dan tidak jadi menikah. Itu yang rugi adalah pihak dari wanita, walaupun misalkan kondisi wanita itu masih utuh tidak ternoda tetapi akan tetap menanggung rasa malu."


"Ayah telah berkata panjang lebar seperti ini semoga bisa menjadi masukan bagi dirimu untuk membuat suatu keputusan yang tepat dalam hidupmu."


"Ayah ingin yang terbaik buat ketiga anak ayah terutama untukmu Ais. Dan menurut ayah, Bagas itu adalah pria yang sangat baik dan bertanggung jawab itulah kelebihannya. Di samping ia memiliki sebuah kekurangan yakni dia gampang marah."

__ADS_1


Sekarang Ais sudah bisa membuat suatu keputusan yang tepat untuk hubungannya dengan Bagas setelah mendengar panjang lebar nasehat demi nasehat yang dilontarkan oleh Ayah Lukman.


"Ayah, aku sudah ambil keputusan. Aku akan menikah dengan Mas Bagas seperti yang ayah inginkan," ucap Ais sumringah.


"Kok seperti yang ayah inginkan, berarti keputusan yang kamu ambil ini bukan berdasarkan dari hati nuranimu sendiri?" protes Ayah Lukman.


"Nggak begitu juga, ayah. Aku juga mengambil keputusan sesuai dengan hati nuraniku setelah mendengar semua yang ayah katakan barusan. Aku sudah tidak ragu lagi pada ajakan Mas Bagas untuk menikah," ucap Ais meyakinkan Ayah Lukman.


"Syukur alhamdulillah jika kamu sudah bisa membuat suatu keputusan yang terbaik untuk kehidupan di masa depan. Ayah yakin Bagas tidak akan mengecewakanmu, dia akan menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab sepenuhnya untuk rumah tangga kalian berdua," Ayah Lukman merasa lega.


"Ayah sangat bahagia karena akhirnya Putri kesayangan ayah akan segera memiliki pendamping hidup. Kamu pantas untuk bahagia Ais, setelah sekian lamanya kamu merasakan hidup menderita harus membantu ayah untuk mencari nafkah keluarga ini."


Tak terasa bulir bening keluar dari mata Ayah Lukman, iya begitu terharu dan juga sedih tatkala mengingat perjuangan Ais dalam membantu dirinya mencari nafkah untuk menghidupi keluarga mereka.


"Ayah kenapa menangis? seharusnya Ayah itu berbahagia karena akan melihatku menikah," Ais menjadi terbawa perasaan matanya ikut berkaca-kaca.


"Ais, Ayah minta maaf ya karena bukan ayah yang baik untukmu. Kamu harus bekerja keras membanting tulang demi membantu mencari nafkah untuk keluarga. Ayah benar-benar merasa sangat bersalah padamu bahkan kamu sama sekali tak bisa mengenyam pendidikan yang lebih tinggi lagi, sekali lagi Ayah minta maaf ya," ucap Ayah Lukman dengan tangis yang semakin tak terkendali.


"Astaghfirullahaladzim ayah, aku itu ikhlas melakukan semuanya untuk ayah. Sama sekali tidak ada tekanan di dalam hati ini, ayah."


"Jasa Ayah yang telah membesarkanku itu tidak sebanding dengan apa yang aku lakukan untuk ayah."


"Apa yang aku lakukan itu baru seujung kuku tidak ada tandingannya dengan jerih payah kasih sayang ayah yang ayah berikan selama ini untukku dan adik-adik."


"Ayah sudah cukup penderitaan yang ayah alami selama ini karena harus merawat kami bertiga hanya seorang diri dan juga mencari nafkah untuk kami."

__ADS_1


"Kini saatnya Ayah bahagia melihat aku akan menikah dengan Mas Bagas. Dan Ayah sudah tak usah capek lagi menyupir karena ayah bisa menjaga restoran ini sepenuhnya jika nanti aku sudah menjadi istri, Mas Bagas.


Ayah dan anak ini saling tangis karena haru dan keduanya saling berpelukan.


__ADS_2