
"Ais, ini benar kamu kan?" tanya Aan masih belum percaya dengan apa yang telah di lihatnya.
"Ya, An. Silahkan di nikmati menu makanan yang ada di restoran ini. Hem.. untuk kalian aku gratiskan ya, kalau ingin makan atau minum yang lain tinggal pesan ke pelayan saja. Nanti aku akan berpesan pada pelayan supaya tidak meminta bayaran pada kalian," ucap Ais tersenyum.
"Sombong banget sih kamu, Ais! kami bisa kok bayar nggak usah merendahkan kami seperti ini. Mentang-mentang kamu sudah menjadi pemilik restoran ini?" ucap lantang Bu Warsem.
"Bu, bukan seperti itu maksudku. Aku hanya ingin sekedar berbagi kebahagiaan pada kalian. Apa lagi dulu kan Juragan Wardi dan Aan selalu baik padaku. Aku minta maaf jika ibu salah paham. Ya sudah terserah kalian saja, kalau tetap mau bayar ya nggak apa-apa," ucap Ais.
"Bu, seharusnya jangan seperti itu. Ais kan hanya berniat baik pada kita, kenapa kamu selalu saja kasar padanya dari dulu menjadi salah satu sopir angkot ayah, kamu juga kasar padanya," tegur Juragan Wardi.
"Iya Bu, nggak boleh seperti itu. Nggak baik tahu," Aan ikut bicara tetapi tatapan matanya masih saja tak berkedip menatap Ais.
Aan begitu terpana melihat penampilan Ais yang sekarang sungguh sangat berbeda dari dulu. Kini Ais terlihat lebih anggun, kecantikannya lebih terlihat memancarkan dari dalam dirinya.
"Juragan Wardi, Aan. Aku permisi dulu ya, itu ada salah satu pelangganku yang ingin ngobrol denganku."
Ucap Ais seraya berlalu pergi karena dari jauh sudah ada salah satu pelanggan yang tersenyum ke arahnya seraya melambaikan tangan padanya.
Mata Aan terus saja mengikuti kemanapun Ais berlalu. Ia bagaikan tersihir oleh penampilan Ais yang sekarang.
"An, kenapa sih kamu dari tadi terus saja menatap gadis kampung yang barbar itu?" tegur Bu Warsem seraya menepuk bahu Aan yang membuatnya terlonjak kaget.
"Astaga, Ibu! bikin kaget aku saja tahu nggak? apa ibu tidak melihat betapa bedanya Ais yang sekarang dengan Ais yang dahulu. Sekarang benar-benar bagai bidadari turun dari surga," ucap Aan terus saja menatap ke arah Ais yang berjarak tak jauh dari dirinya saat ini duduk.
"Bidadari apaan, menurut ibu biasa saja. Buktinya ibu saja masih bisa mengenali dirinya. Kalau berubah kan ibu tidak bisa mengenali dirinya sama sekali," ucap Bu Warsem sinis.
Entah kenapa dari dulu, ia benci sekali pada Ais. Padahal Ais sama sekali tidak pernah membuat masalah padanya.
"Sudahlah, sebaiknya kita makan saja. Pesanan kan sudah datang, lagi pula kalau dingin nanti nggak enak loh," ucap Juragan Wardi menengahi pertikaian antara Aan dan Bu Warsem.
__ADS_1
"Oh ya, ayah. Ingat loh ya, tadi kan Ais kan menggratiskan semua makanan ini, bahkan kita boleh pesan lagi tanpa bayar. Berarti nanti uang yang tak jadi untuk bayar semua makanan ini, jatahnya buat ibu loh ya," ucap Bu Warsem sumringah.
"Halaahhhh...dasar ibu mata duitan. Katanya tadi nggak mau gratis, pada saat Ais mengatakan hal itu. Masa iya sekarang berubah pikiran, apa nggak malu tuh nanti sama Ais," ejek Aan.
"Iiihhh...untuk apa malu, malu itu urusan belakangan saja," ucap Bu Warsem seraya mulai menyantap makanan dengan lahapnya.
Baik Aan maupun Juragan Wardi hanya bisa menghela napas panjang seraya menggelengkan kepalanya.
Sementara Aja terus saja asik menanggapi pelanggannya yang sedang asik makan di restoran tersebut.
"Oh ya Non Ais, makanan di sini sekarang sudah menjadi candu buat keluarga kami. Sepertinya ada yang kurang jika kami tak singgah di sini."
"Bahkan kami juga punya rencana, lusa akan memesan makanan di restoran ini untuk acara ulang tahun anak kami."
"Iya Non Ais, nanti dapat diskon kan? kok kami memesan catering di sini? apa lagi kami ini langganan loh."
"Bapak-ibu, nggak usah khawatir tentang hal ini..Nanti pasti saya kasih diskon kok. Alhamdulillah jika bapak dan ibu candu dengan masakan di sini," ucap Ais ramah.
"Bapak-ibu, silahkan di lanjutkan ya. Kebetulan saya masih ada urusan yang lain. Mohon maaf saya tidak bisa menemani bapak dan ibu lebih lama." Ais tersenyum seraya menangkupkan kedua tangannya di dada.
Hal ini juga sempat di lihat oleh Aan, ia benar-benar kagum pada Ais.
"Ya Allah, aku pikir sifat Ais akan selamanya barbar dan tomboy. Tetapi ia bisa juga bersifat layaknya seorang gadis yang feminim, anggun."
"Bahkan ia bisa bersikap ramah pada para pelanggan, sedangkan yang aku tahu dulu pada saat Ais menjadi sopir angkot, ia sifatnya sangat urakan sekali."
"Kok bisa ya berubah drastis secepat ini? hanya dalam beberapa bulan aku tidak bertemu sudah sukses."
"Ais pintar sekali menempatkan diri di mana ia berada, disitu sifatnya sesuai dengan lingkungan."
__ADS_1
"Ais mampu berbaur, beradaptasi dengan baik. Menjadi sopir angkot, ia mampu. Dan sekarang malah menjadi seorang direktur utama di restoran ini."
"Aku masih saja belum percaya dengan semua ini. Seperti mimpi saja. Oh iya, apakah Ais masih berpacaran dengan bos nya dulu itu ya?"
Terus saja pikiran Aan tertuju pada Ais, hingga ia tak juga menyantap makanan yang ada di hadapannya itu.
"Aan, dari tadi kok bengong terus. Cepat makan, ayah saja sudah mau habis. Gampang nanti kau ingin ketemu Ais, kita bisa main kerumahnya," tegur Juragan Wardi menepuk bahu Aan.
"Iya, ayah."
Aan pun langsung menyantap makanan yang ada di hadapannya itu.
Sejenak ia teringat pada saat dirinya makan di rumah Ais.
"Ais memang hebat dalam hal memasak. Pantas saja ia membuka restoran ini laku keras. Sayangnya ia tak membalas cintaku ini, malah ia memilih pria lain."
"Hem, bukan jodoh hanya itu saja yang bisa aku katakan saat ini. Nanti jika ada waktu luang, aku akan ajak ayah main ke rumah Ais."
"Siapa tahu Ais sudah putus dengan majikannya itu. Semoga saja sih, apa yang aku pikirkan ini menjadi kenyataan."
Sambil makan sambil kembali memikirkan Ais.
"Ayah, awas loh ya! kalau main rumah Ais, ibu itu nggak suka tahu!" ancam Bu Warsem.
"Kenapa nggak boleh, toh sekarang Ais sudah sukses jadi tidak akan hutang lagi pada Ayah. Pasti itu kan yang ibu khawatirkan? lihatlah Ais yang sekarang, mana mungkin ia akan berhutang lagi," ucap Juragan Wardi kesal.
Sejenak Bu Warsem hanya diam saja, ia pun membenarkan apa yang barusan dikatakan oleh suaminya.
"Iya juga ya, benar apa yang dikatakan suamiku. Biarlah mereka main ke rumah Ais, toh ia nggak akan pinjam uang lagi," batinnya.
__ADS_1