
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
"Ternyata kau gay" Ara tersenyum kecut melihat Sean yang masih membenarkan celana nya itu.
"Jaga bicaramu, aku bukan seperti yang kau pikirkan" ketus Sean dingin.
Ara yang mendengar itu tertawa, lalu melihat ke arah Nino dan langsung bergedik ngeri melihat ekspresi keduanya yang masih santai.
"Terong makan terong" lanjut Ara merinding, merasa geli dengan apa yang baru saja dia lihat.
Sean melotot mendengar tuduhan Ara yang semakin menjadi-jadi padanya, dia ingin mendekati Ara tapi celana nya masih macet sehingga membuat Sean masih tetap berada di semak-semak itu.
"Amit-amit ihk, gay si terong makan terong" Ara kembali bersuara dan kali ini membuat Sean kesal sehingga dia keluar dari tempat persembunyiannya.
Ara yang melihat itu melotot, Sean memakai boxer Minions dan itu terlihat menggelikan untuk dia lihat
"Iwww " desis Ara sambil pura-pura menutup matanya.
"Kau ini memang tidak bisa di__" Sean terhenti karena Ara menjulurkan lidahnya ke arah nya.
"Gay gay gay" Ara tertawa dan berlari menjauhi Sean.
"Ara tunggu" teriak Sean sambil membenarkan celana nya, dan setelah bisa Sean langsung mengejar Ara yang sudah menjauh dari tempat nya tadi.
Nino yang melihat itu hanya garuk-garuk kepala karena seperti nya Queen dan King geng motor nya akan kembali memulai drama nya.
__ADS_1
"Lebih baik aku pulang saja, seperti nya malam ini malam panjang untuk kucing dan tikus itu" ucap Nino sambil menguap.
Tadi saat akan tidur Nino di ajak Sean untuk cari angin, dan dia pikir cari angin itu hanya di luar Villa tapi ternyata dia salah, Sean membawa nya ke area camping Ara dan teman-teman nya.
Nino yang sedang makan singkong pedas yang di berikan Sean itu memilih kembali ke villa, dia tidak takut karena dari tempat camping ke Villa hanya berjarak 100 meter saja.
.
.
.
Sedangkan di kebun teh Ara masih berlari dengan langkah cepat, dan di belakangnya masih ada Sean yang berlari mengejar gadis itu.
Sean tidak terima jika Ara mengatai nya menjijikkan, sebenarnya tadi dia ingin pipis tapi resleting nya macet sehingga Sean meminta bantuan Nino untuk menaikan sleting nya.
"Ara tunggu, kau tidak bisa mengatai ku seperti itu!" kesal Sean sambil berlari.
"Cih dia benar-benar menjijikan, aku akan melaporkan semuanya pada Mommy jika Sean bandel nya sudah menjadi gay" gumam Ara sambil berlari.
Dan tanpa Ara sadari dia pergi ke jalan yang salah, sehingga membuat Ara saat ini malah terjebak di perkebunan teh milik keluarga Sean.
"Mati aku" gumam Ara sambil melihat kesemua sisi nya yang sangat gelap.
Ara mencoba tenang dan tidak panik dia memilih duduk di batu yang cukup besar sambil menyoroti ke setiap arah, berharap ada yang menemukan nya.
Lama Ara menunggu seseorang yang menemukan nya, dia tidak mau berjalan lagi karena Ara takut semakin jauh dari jangkauan tenda nya nya.
__ADS_1
"Kena kau!" Sean memegang tangan Ara.
"Lepas!" teriak Ara kesal.
"Tidak akan, kau harus mendengarkan penjelasan ku dulu kalau aku tidak seperti yang kau tuduhkan!" tegas Sean sambil menambah kencang pegangan nya di tangan Ara.
Ara mencoba melepaskan pegangan tangan itu, tapi Sean tidak mau melepaskan nya sehingga membuat Ara kesal.
"Kamu gay aku akan mengadukan pada semua orang agar mereka tau kalau Sean si anak bandel nya itu adalah GAY!" Ketus Ara sambil menatap tajam ke arah Sean.
Sean menatap tajam ke arah Ara, pun sama hal nya dengan Ara yang menatap tajam ke arah Sean, kebencian nampak jelas di mata keduanya hingga akhirnya..
"Kau perlu bukti kalau aku normal?" tanya Sean.
"Tidak! aku tidak perduli karena kau gay" ketus Ara lagi.
Habis sudah batas kesabaran Sean untuk gadis di depan nya, tanpa banyak bicara Sean langsung membungkam bibir Ara dengan sebuah ciuman.
Hemphh !
Jantung Ara serasa berhenti saat itu juga, tubuhnya terasa seperti tersengat aliran listrik yang membuat tubuhnya menjadi tidak bisa merasakan apa-apa selain perasaan aneh.
Sean menatap mata yang bercahaya di bawah sinar rembulan itu, dia memperdalam ciuman nya dan menahan tengkuk Ara agar gadis itu tidak berontak lagi.
🌹
Jangan lupa like coment and Vote ya kak ♥️🤗🙏
__ADS_1