
Lima Tahun Kemudian...
"Prince...!"
"No...."
"Prince....!"
"Hua...." gadis kecil berambut pirang itu berlari sambil menangis dan memegang bibirnya, sementara di belakangnya, Prince mengejarnya sambil memonyongkan bibirnya.
"Princess!"
"Let me kiss you...."
"Princess...."
"Bibirmu manis, aku suka...."
"Princess, aku mau lagi... Hua.... Jangan lari...."
Prince mengejar Princess yang juga sambil menangis.
"Mom! Prince jahat...."
Sansa dan Emily yang saat ini sedang sibuk memanggang daging di halaman samping rumahnya langsung menghampiri Princess.
__ADS_1
Wajah Princess Sudah basah karena air matanya bahkan ingusnya juga sudah ke pipinya. Keadaan yang serupa di alami oleh Princess.
"Ada apa, Sayang?" Tanya Emily sembari membersihkan wajah Princess dengan tissue.
"Prince! Kamu apain adikmu?" Tanya Sansa sambil berkacak pinggang, tak perduli putranya itu juga menangis karena Sansa tahu, pasti Prince yang salah dan selalu salah.
"Aku cuma mau cium, Mom. Tapi Princess marah, huaaa...." Prince menangis histeris sambil mengusap ingus yang meluber di hidungnya itu.
Sansa dan Emily saling memandang dan kedua wanita itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Anak-anak mereka yang bernama Prince dan Princess itu memang seperti tikus dan kucing, setiap kali bertemu selalu ada saja yang membuat mereka bertengkar dan pada akhirnya kedua anak itu akan sama-sama menangis. Namun jika kedua anak itu tidak di pertemukan selama seminggu, maka mereka akan memusuhi ibu mereka karena menganggap mereka di pisahkan.
"Kan cuma di cium, Sayang. Tidak apa-apa," kata Sansa lembut pada Princess.
"Tapi di ciumnya disini, Aunt. Di emot..." Sansa dan Emily terhenyak mendengar ucapan Princess yang sambil memegang bibirnya itu. Mulut mereka terbuka tanpa tahu harus berkata apa.
"Putraku memang pintar," kata Alex yang membuat Samuel melongo.
"Dia melecehkan anakku dan kau bilang pintar?" desis Samuel.
"Mereka saling menyukai sebenarnya, aku rasa itu tidak masalah jika Princess bayar di muka." Alex berkata dengan santainya, ia pun menyusun minuman dan cemilan di meja.
"Prince! Lain kali jangan begitu, Sayang," kata Sansa dengan lembut. "Tidak boleh cium di bibir, bolehnya di pipi saja."
"Iya, Sayang," sambung Emily. "Lain kali tidak boleh, ya!"
"Tapi kenapa? Prince 'kan sayang Princess, kenapa tidak boleh cium?" Tanya Prince sembari menyeka air matanya dengan punggung tangannya.
__ADS_1
"Iya, kami faham Prince sayang Princess. Tapi cium di pipi saja," jawab Sansa.
"Terus kenapa Daddy cium Mommy di bibir?" lagi-lagi Emily dan Sansa terhenyak mendengar pertanyaan Prince, dan kali ini Emily menatap sahabatnya itu dengan tajam.
"Ada apa? Kenapa anak-anak menangis?" Tanya Dorian yang baru saja datang bersama Kate, ia merengkuh istrinya itu yang kini sedang hamil besar kemudian membantu Kate duduk di kursi.
"Cucumu benar-benar mesum!" seru Samuel kesal yang membuat Dorian dan Kate hanya bisa mengernyit bingung, Samuel mendekati Princess dan menggendongnya.
"Hey, Prince!" Serunya tajam pada Prince yang kini sudah berhenti menangis. "Ayo minta maaf sama Princess!" titahnya.
"Tidak perlu, Daddy!" ucap Princess tiba-tiba sambil bersandar manja pada Samuel.
"Kenapa tidak perlu? Dia sudah mencium kamu tanpa izin, sudah membuat kamu menangis," ucap Samuel.
"Katanya, Prince cium Princess karena sayang, Daddy. Princess rasa itu tidak apa-apa, kan Daddy juga sering cium Mommy di bibir."
Sontak semuanya langsung tertawa mendengar apa yang di katakan Princess, sementara Samuel dan Emily hanya bisa tersipu.
"Ternyata masih sama, eh?" Goda Sansa pada Emily.
"Justru semakin panas," jawab Emily sambil mengedipkan mata.
Princess menggeliat dan hendak turun dari gendongan Samuel, mau tak mau Samuel menurunkan putrinya itu dan Princess pun langsung berlari mendekati Prince kemudian dia mencium bibir Prince yang membuat semua orang menganga lebar
"Astaga..." gumam Kate sambil mengelus perut besarnya. "Nak, jangan sampai kau mesum seperti mereka."
__ADS_1