
POV Sansa Turner
Daddy menatapku dengan curiga, apalagi aku dan Alex tidak keluar kamar seharian ini. Dan jangan lupakan juga bercak-bercak merah di leher Alex yang tidak di tutupi, sementara aku bahkan harus menggunakan Shall untuk menutupi tanda merah itu.
Malam ini kami sudah berada di rumahku, karena Daddy menyuruh kami pulang padahal kami masih betah di hotel, karena tidak ada yang menganggu kami disana.
"Ada apa? Kalian melakukan sesuatu atau menyembunyikan sesuatu?" Tanya Daddy dengan tajam. "Cara jalanmu juga berubah, Sansa!"
"Actually, Dad. I'm not pregnant," cicitku yang membuat Daddy seketika melotot padaku.
"Apa kau bilang?" Desis Daddy dengan sangat tajam, jujur saja, aku takut padanya sekarang, apalagi melihat kilat amarah di matanya.
Aku melirik Alex dan ia langsung menggengam tanganku dengan lembut. "Dorian, Sansa tidak hamil dan kami tidak pernah bercinta sebelum menikah," tegas Alex yang membuat Daddy langsung tercengang.
"Jelaskan padaku apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah kamu hamil, Sansa? Dokter mengatakan itu, 'kan?" Geram Daddy.
__ADS_1
"Itu Dokter palsu, Dad. Salah satu mahasiswi kedokteran di kampusku, aku dan Emily memintanya berpura-pura menjadi Dokter," jawabku panjang lebar, ku lihat kening Daddy yang berkerut dalam dan ia menyipitkan matanya padaku.
"Jadi, kalian membohongiku selama ini?" Tanya Daddy dengan suara lirih yang yang membuat hatiku merasa bersalah.
Aku berpindah ke sisinya, aku menyentuh tangannya dengan lembut. "Maafkan aku, Dad. Aku melakukan ini supaya Daddy merestui pernikahan kami," ucapku dengan jujur.
"Benarkah?" Desis Daddy dan kini ia menatap Alex dengan tajam. "Apa ini idemu, Alexander?" Tanyanya.
"TIDAK!" jawabku dan Alex bersamaan. "Alex tidak tahu, Dad. Dia tidak tahu kalau aku merencanakan kebohongan ini, namun kemudian dia mau di ajak kerja sama," ucapku sambil terkekeh namun seketika aku menutup bibirku rapat-rapat saat Daddy melemparkan tatapan mautnya padaku.
"Maaf, Dad...." rengekku dengan manja. "Tapi sekarang Daddy bahagia, 'kan? Kami bahagia, Dad. Aku harap, Daddy juga bahagia dan aku berharap, cucu Daddy benar-benar akan segera hadir ke dunia ini, agar Daddy tidak kesepian saat aku per...."
"Sansa...." sela Daddy kemudian ia langsung mendekapku.
"Saat kau apa, Sansa?" Tanya Alex yang membuat pupil mataku langsung membesar saat menyadari aku hampir saja keceplosan.
__ADS_1
Aku menatap Daddy kemudian menatap Alex dengan cemas, haruskah aku memberi tahu Alex sekarang? Tidak, moment ini adalah moment yang seharusnya penuh canda tawa, kebahagiaan, tidak boleh di isi kesedihan, kecemasan, tidak!
"Maksudku, jika kita pergi berlibur berdua, Daddy tidak akan kesepian kalau kita menitipkan anak kita padanya," jawabku sambil tersenyum lebar dan Alex tampaknya percaya.
Sementara Daddy menatapku dengan lembut, ia membelai kepalaku dengan penuh kasih sayang. "Kau bahagia, Sayang?" Tanyanya dan aku mengangguk dengan cepat. "Kalau begitu, Daddy juga bahagia," ucapnya.
"Jadi, selama ini kalian tidak pernah melakukan...."
"TIDAK!" lagi-lagi aku dan Alex menjawab secara bersamaan, Daddy menghela napas lega. "Tapi tadi malam kami sudah melakukannya," ucap Alex kemudian yang membuatku langsug melotot sempurna.
"Alex...." desisku.
"Terserah kalian," tukas Daddy cuek. "Jadi, bisa kalian ceritakan padaku, bagaimana bisa kalian saling jatuh cinta sementara kalian seperti langit dan bumi?"
"Seperti langit dan bumi yang saling menyempurnakan, Dad."
__ADS_1