
"Aku iri pada Elaine...." tukas Alex sembari memelukku dari belakang, ia membelai pipiku dengan lembut, mengecup pundakku yang terbuka, membuat seluruh tubuhku langsung meremang. "Kau berdandan sangat cantik hanya untuk menemuinya, sementara saat bersamaku, kamu jarang sekali berdandan seperti ini."
Aku berbalik badan dan ku lingkarkan lenganku di leher Alex, aku menatap matanya dengan intens. "Aku sengaja tidak pernah berdandan yang spesial untukmu, karena aku ingin selalu special apa adanya," ujarku.
Alex menyapukan bibirnya di permukaan bibirku kemudian memberikan kecupan yang sangat lembut. "Selalu, Sweetheart."
Malam ini aku sengaja berdandan secantik mungkin dan memakai gaun yang bagus, supaya mantan istri suamiku ini tidak memandangku sebelah mata, apalagi menganggapku anak-anak hanya karena usiaku yang masih di bawah 25 tahun.
Alex mengantarku ke gedung apartement Elaine dan dia memintaku menghubunginya saat aku mau pulang.
Setelah itu, aku pergi ke apartment Elaine sendirian.
Dia menyambutku dengan hangat, sementara aku tetap mempertahankan sikap dinginku padanya.
"Silakan duduk, Sansa!" aku melirik ke sekeliling dapur Elaine yang tertata dengan sangat rapi dan indah, beda sekali dengan dapurku yang tak tersusun rapi dan asal-asalan.
"Dekorasi dapurmu bagus," puji-ku dengan jujur dan Elaine terkekeh.
"Aku sendiri yang melakukannya, apa kau suka?" Tanya Elaine sembari menyajikan beberapa makanan di meja makan.
"Biasa saja," jawabku cuek padahal aku suka.
Setelah selesai menyajikan makanan, Elaine duduk di kursinya, yang berada di depanku.
__ADS_1
"Sansa, aku harap kita bisa menjadi teman dan kau tidak salah faham padaku," ucap Elaine sembari menatapku dengan sendu.
"Aku tidak salah faham, tapi aku rasa wajar jika seorang istri kesal pada wanita yang bersikap tidak sopan di rumah suaminya, apalagi masuk ke kamarnya begitu saja bahkan menciumnya," sinisku dan ku lihat Elaine langsung menundukan kepalanya.
Apa dia malu? Sudah seharusnya!
"Aku minta maaf, Sansa. Aku janji itu tidak akan terulang lagi," ucapnya, aku menaikan sebelah alisku, menatapnya penuh tanda tanya.
"Lalu, knapa kau lakukan itu?" Tanyaku kemudian.
"Aku berfikir ... mungkin Alex masih memiliki sisa rasa untukku setelah pesta ulang tahunku ... maksudku setelah malam yang kami lewati saat pesta ulang tahunku," tukasnya yang membuatku tercengang.
Aku menatapnya dengan tajam, aku bahkan menggengam garpu dengan kuat dan akan aku tusukan ke wajahnya jika di mengatakan sepatah kata lagi tentang malam bersama Alex.
"Sansa, aku harap kamu tidak marah dan salah faham padaku maupun Alex. Kami terlalu larut dalam pesta malam itu, sehingga tanpa sadar, kami berakhir di ranjang...."
Dadaku sesak mendengar ucapan Elaine, aku benar-benar ingin merobek mulutnya dengan garpu yang aku pegang namun aku merasa kehilangan seluruh tenagaku.
Aku mulai kesulitan bernapas, aku berusaha berdiri namun aku justru terjungkal ke lantai, samar-samar aku melihat Elaine menghampiriku, dia memanggil namaku dengan cemas namun aku tak kuasa untuk bersuara, hingga kegelapan itu menjemputku.
...***...
"Sansa...."
__ADS_1
"Sweetheart...."
"Istriku, ayo bangun, Sweetheart."
"Buka matamu!"
Samar-samar aku mendengar suara Daddy dan Alex yang memanggilku, aku berusaha membuka mataku yang terasa begitu berat.
Ku rasakan ada yang menggenggam tanganku dengan erat, mengecupnya dengan lembut.
Aku juga merasa ada mengelus kepalaku. "Sansa..." Aku kembali mendengar suara Alex, aku berusaha lebih keras lagi untuk membuka mata dan ku lihat Alex yang menatapku dengan cemas.
"A-Alex...." dengan susah payah aku menganggil namanya.
"Oh Tuhan! Akhirnya, kau membuka matamu, Sweetheart...." seru Alex bernapas lega.
"Kau ... tidur dengannya, Alex?" Tanyaku dengan suara bergetar, aku tak bisa membayangkan Alex tidur dengan wanita di New York lain sementara aku sangat merindukannya di London.
"Apa?" Desis Alex dengan raut wajah yang tampak bingung, aku tak sanggup menahan air mataku.
"Alex, kau mengkhianati Sansa?" Geram Daddy.
Tbc...
__ADS_1