
"Aku sangat lapar, tolong belikan makanan yang enak untukku karena sebenarnya aku tidak selera makan, tapi kepalaku pusing, perutku keroncongan." Dorian hanya bisa memijat kepalanya mendengar pesan suara teman sekaligus menantunya itu.
Ia kesal sebenarnya, namun Dorian teringat dengan masa lalu. Saat Malvina sakit, ia juga menjadi bodoh dan konyol, bergantung pada Alex dan selalu merepotkan Alex. Dan sekarang waktu telah berputar, Alex yang membutuhkannya, Alex yang menjadi bodoh dan konyol karena keadaan Sansa.
"Bagaiamana bisa dia mencintai gadis yang tumbuh bersamanya? Gadis kecil yang bahkan dulu di pakaikan popok di depan matanya."
Saat ini ia sedang dalam perjalanan kembali ke rumah sakit setelah pulang hanya untuk mengambilkan pakaian ganti Alex, dan Dorian ingin segera sampai ke rumah sakit namun karena Alex meminta makanan, ia terpaksa harus singgah di restaurant untuk memesan makanan.
"Tolong di bungkus semuanya dan tolong lakukan dengan cepat, aku sedang buru-buru," ujar Dorian pada pelayan yang melayaninya.
"Baik, Tuan. Silakan menunggu...."
Sambil menunggu makanan itu dengan tidak sabar, Dorian menatap ke sekelilingnya dan ia mengernyit saat melihat Kate yang sedang makan Kate dan tunangannya disana.
Mood Dorian menjadi semakin buruk, ia sudah berdiri hendak menghampiri Kate namun kemudian Dorian teringat bahwa hubungannya dan Kate hanya sebatas rekan kerja.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya makanan datang dan Dorian segera pergi dari sana.
Sementara itu, Kate saat ini sedang menatap tunangannya itu dengan serius karena memang ada hal serius yang ingin ia katakan.
"Ada apa? Bicaralah! Waktu ku tidak banyak, Kate. Kau tahu itu, jangan membuang waktu berhargaku," tukas Golri dingin yang membuat Kate mendelik
"Golri tampan, muda, kaya, pintar tapi tak berperasaan. Hubungan mereka hanya karena perjodohan dari keluarga, tak ada ketertarikan di antara mereka.
"Baiklah, singkat saja, aku mau memutuskan pertunangan kita," ujar Kate kemudian dengan cepat, Golri terperangah dan ia menatap Kate dengan tajam.
__ADS_1
"Ulangi lagi, apa yang baru saja kau katakan?" Desis Golri.
"Bukankah kau tidak punya waktu? Jadi silakan pergi, kita selesai," kata Kate yang membuat Gorli terkekeh.
"Tidak, Kate. Apakah hubungan kita berlanjut atau tidak, aku yang memutuskan," ujar Gorli, ia mengintimidasi Kate dengan tatapannya dan selalu seperti itu.
"Tapi aku rasa kita tidak cocok," Balas Kate namun sepertinya Golri tidak perduli dengan hal itu.
"Pernikahan kita dua minggu lagi, sudah terlalu jauh untuk melangkah mundur," Gorli beranjak dari tempat duduknya setelah menyesap kopinya. "Aku harus pergi sekarang, Sayang. Ada banyak pekerjaan yang menungguku, tapi kau memanggilku hanya untuk hal seperti ini? Kau hanya membuang waktumu."
Kate menggeram tertahan mendengar ucapan Golri yang benar-benar tak perduli pada perasaannya itu.
Mengetahui Dorian juga memiliki rasa padanya membuat Kate bertekad untuk menaklukan Dorian, namun ternyata Gorli tak mau melepasnya begitu saja, membuat Kate kesal.
***
"Apa kamu benar-benar lapar?" Tanya Samuel sambil menatap Alex dengan heran. "Sejak tadi kamu terus melihat jam, sebentar lagi Uncle Dorian juga pasti datang."
"Aku tidak sabar menunggu waktu berjalan, aku tidak sabar menunggu Sansa bangun, aku tidak bisa tenang sebelum dia bangun," jawab Alex panjang lebar yang membuat Samuel menghela napas.
"Sabar dan berdo'a, hanya itu yang bisa kita lakukan."
Tbc...
__ADS_1
Hai, Readers. SkySal mau Rekomendasi Novel terbaru dan terbagus dari Author RAMANDA.
Judul karya : *GADIS BERCADAR Bermata Hijau V DUDA BERANAK Kembar Empat*
Penulis: 💓RAMANDA 💓
Cuplikan Bab: IKHLAS TANPA SYARAT.
"Assalamu'alaikum," ucap Daffin, berserta quadruplets secara bersamaan.
"Wa'alaikumus salam warahmatullahi wabarakatu. Maa shaa Allah, quadruplets sudah besar ya," ucap wanita itu yang langsung menekukan lututnya setengah berdiri. Lalu ia pun memeluk quadruplets dan menciumi satu-persatu dengan wajah penuh haru.
"Aunty kenapa menangis?" tanya Yumna saat ia melihat wanita itu menitikkan air matanya saat ia memeluk serta mencium mereka.
"Jangan panggil Aunty Sayang, panggil Ummah Maira ya? Karena Ummah teman almarhum Mama kamu Sayang," ujar wanita itu yang ternyata ia adalah Meira.
"Ooh, oke Ummah," balas Yumna yang terlihat ia langsung memeluk Meira lagi. "Uhmm.. Ummah? Apakah pelukan Mama Umna seperti ini juga?" tanya gadis kecil itu, membuat Rio, Daffin dan Meira, tersentak mendengar perkataannya.
"Iya Sayang, hiks.." jawab Meira singkat, seraya ia mempererat pelukannya, pada Yumna.
"Ummah, Unda juga ingin merasakan pelukan Mama juga," timpal Yunda, dengan wajah yang terlihat begitu sedih. Membuat hati Rio semakin sakit. Dan ia pun langsung menjauh dari Meira dana Anak-anaknya, dengan mata yang terlihat sudah berkaca-kaca.
Daffin yang melihatnya langsung mengikuti langkah Rio, yang ternyata ia berjalan menuju sebuah Danau buatan yang berada ditaman belakang rumah Daffin. Setibanya ia didekat Danau, ia melihat Rio duduk di bangku batu tepat didepan Danau, sambil menundukkan wajahnya dengan dalam-dalam. Tubuhnya terlihat bergetar, sepertinya ia sedang menangis.
Daffin memahami kesedihan Sahabatnya itu. Ia pun menghampirinya dan langsung di sebelah Rio. "Rio, Lo baik-baik sajakan?" tanyanya sambil mengusap punggung sahabatnya itu.
__ADS_1