Gairah Cinta Putri Sahabatku

Gairah Cinta Putri Sahabatku
MTDF #37 - Make Her Happy


__ADS_3

Setelah di rawat 24 jam di rumah sakit, kini Sansa di perbolehkan pulang, dan aku sungguh bernapas lega juga tenang, karena aku sempat berfikir Sansa harus mendapatkan perawatan intensif seperti Malvina dulu.


Kini, tujuan dan fokus hidupku hanya satu, make her happy and I will do everything for her.


"Hati-hati, Sweetheart," tukasku saat Sansa memasang sabuk pengamannya. "Biar aku saja," ucapku kemudian aku memasangkan sabuk pengamannya.


"Aku baik-baik saja, Baby," ucap Sansa sambil tersenyum manis.


"Duduk yang nyaman," ucapku yang seketika membuat Sansa tertawa kecil.


"Aku bilang, aku baik-baik saja," ulang Sansa penuh penekanan.


"Aku tahu," jawabku lirih kemudian aku segera menyusul masuk ke mobil, begitu juga dengan Dorian yang duduk di belakang.


"Aku ingin operasimu di jadwalkan secepatnya," tukasku kemudian saat mobil kini sudah berjalan keluar dari parkiran rumah sakit.


Aku melirik Sansa yang kini tertunduk sedih. "Jangan sedih, aku yakin operasinya akan berhasil," ujarku meyakinkan. Sansa langsung menoleh ke belakang dan menatap Dorian, seolah ia juga mencari kekuatan dari ayahnya.

__ADS_1


"Sayang, hanya karena ibumu gagal melakukan operasi, bukan berarti kamu juga akan gagal. Hanya karena kamu putri dari ibumu, bukan berarti kalian akan memiliki takdir yang sama," tutur Dorian panjang lebar, aku harap Sansa kini bisa lebih percaya diri lagi untuk sembuh.


"Coba saja lihat perbedaan takdir kalian, Mommy menikah dengan pria yang seumuran dengannya, dan yang pasti masih lajang. Sedangkan kamu? Menikahi pria duda, tua, benar-benar bukan menantu idaman," ujar Dorian lagi yang membuatku mendelik namun Sansa justru tertawa geli, aku senang saat melihat tawanya lagi.


"Daddy, aku tahu Alex adalah menantu idaman Daddy. Buktinya, saat aku meragukan cinta dan kesetiaan Alex, Daddy justru tetap percaya padanya. Bukankah itu artinya Daddy tahu seberapa baik dan tulusnya seorang Alexander?" Tanya Sansa yang membuat Dorian terdiam seketika namun ku lihat ia tersenyum samar.


Aku tersenyum penuh kemenangan padanya lewat spion sementara Dorian hanya mengedikan bahu.


Sesampainya di rumah, aku tidak membiarkan Sansa berjalan, aku menggendongnya sampai ke kamar meskipun dia terus mengoceh dan mengatakan bisa jalan sendiri.


Sansa hanya mengangguk patuh, aku menidurkannya kemudian aku menyelimuti tubuhnya. "Sekarang tidurlah," tukasku namun di saat yang bersamaan, Emily dan Samuel datang.


"Sansa, aku dengar kau sakit...." seru Emily cemas.


"Emi bilang kau menemui wanita tua itu?" Sambung Samuel yang membuatku melongo, aku menatap Sansa dan dia hanya cengengesan. Jadi ternyata Sansa benar-benar selalu berbagai informasi dengan teman-temannya itu?


"Apa yang dia lakukan sampai kamu seperti ini?" Tanya Emily lagi.

__ADS_1


"Dia berbohong, katanya sudah tidur dengan Alex, tentu saja aku terkejut dan jatuh pingsan," jawab Sansa dengan lugas.


"Wanita itu kurang ajar, apa perlu kita memberinya pelajaran?" Tanya Samuel.


"Iya, kita harus memberinya pelajaran, dia salah memilih musuh!" seru Emily penuh rasa percaya diri.


"Tidak usah, Alex dan Daddy akan mengurusnya," jawab Sansa sambil terkekeh.


Sepertinya sangat menyenangkan memiliki teman seperti Samuel dan Emily.


Nakal bersama, namun juga saling perduli satu sama lain.


"Hey, kau, pria tua!" Emily berkata padaku dengan mata yang melotot. "Awas saja kalau kau mengkhianati Sansa, aku akan memotong burungmu itu!" ancamnya sambil menunujuk ke bawah, aku terkejut dan menganga lebar.


Oh Tuhan! Apa anak zaman sekarang memang seperti ini?


Tbc...

__ADS_1


__ADS_2